Kenapa Patah Hati Terutama yang Disebabkan Oleh Penghianatan, Rasanya Sakit Sekali Sehingga Tidak Jarang Ada yang Sampai Bunuh Diri Karenanya, Bagian 4

Daftar Isi

Kehancuran realitas psikologis: disorientasi identitas dan trauma gaslighting

Trauma akibat bencana alam atau kecelakaan seringkali menghancurkan rasa aman sementara. Namun trauma relasional memiliki kemampuan patologis untuk merombak arsitektur dasar identitas.

Kesehatan mental manusia bersandar pada fondasi tak terlihat, yang oleh psikolog Ronnie Janoff-Bulman disebut sebagai dunia yang diasumsikan (assumed world). Maksudnya kesehatan mental kita tidak dibangun oleh realita fakta, seperti wajah kita pas-pasan, cewek ogah melirik kita, dan isi dompet kita mirip seperti wajah kita. Yah kurasa aku setuju karena fakta seringnya bikin mental kita hancur.

Disisi lain fondasi mental kita dibangun melalui sekumpulan asumsi ilusi positif supaya kita tetap menjalani hidup, tanpa lumpuh oleh ketakutan paranoik. Lagi-lagi aku setuju soal ini karena kadang-kadang, kita sering bisa semangat kembali. Kalau saat lesu karena pacar kita selingkuh, tiba-tiba kita terlintas di pikiran bahwa ada yang namanya hukum karma. Kita tidak tahu bagaimana hukum karma bekerja. Tapi karena banyak orang menyebut bahwa karma itu katakanlah seperti hukum tabur tuai. Kita langsung mempercayai konsep tersebut tanpa perlu cari penjelasan logis mengenai hal itu. Kita semangat kembali karena kita percaya pada asumsi bahwa pacar kita yang selingkuh, pasti kena karmanya entah kapan.

Masih di pembahasan soal asumsi, rupanya ada 3 pilar utama darinya, seperti. Pertama, dunia ini penuh kebajikan (the world is benevolent). Penjelasannya adalah bahwa pada dasarnya lingkungan dan orang-orang di sekitar kita, tidak memiliki niat untuk menyakiti kita. Kedua, dunia ini bermakna dan dapat diprediksi (the world is meaningful and predictable). Maksudnya kepercayaan pada prinsip kausalitas, bahwa perbuatan baik pasti menghasilkan hal baik. Dan banyak peristiwa yang terjadi menurut logika yang dapat diantisipasi. Ketiga, diri ini berharga (the self is worthy) yaitu konsensi harga diri bahwa individu memiliki karakter, moralitas, dan pesona yang membuat mereka layak untuk dilindungi dan dicintai.

Sayangnya, perselingkuhan romantis dianggap menghancurkan 3 pilar fundamental ini dalam 1 pukulan. Fakta bahwa orang yang paling intim, paling dipercaya, dan paling dicintai. Ternyata bertindak secara aktif menipu kita, membuat kita merasa bahwa kebajikan di dunia ini telah runtuh. Fakta bahwa rencana masa depan dan rutinitas bersama yang didasarkan pada kebohongan telah meruntuhkan prediktabilitas. Fakta bahwa pasangan yang lebih memilih orang lain dibanding kita, meruntuhkan asumsi kelayakan diri.

Kehancuran kognitif inilah yang menyebabkan apa yang dalam studi trauma disebut disorientasi eksistensial. Soalnya korban perselingkuhan mendeskripsikan pengalaman ini melalui analogi langkah kosong. Maksudnya seperti sensasi fisik yang mengejutkan dan mengacaukan keseimbangan, saat kita berjalan di kegelapan menuruni tangga. Karena kita harus tetap memperkirakan setiap anak tangga yang diinjak, dan melangkah pada ruang hampa karena lantai tempat kita akan memijak, tidak berada di tempat yang diantisipasi oleh otak.

Pada kasus penghianatan seperti perselingkuhan, anak tangga yang dianggap tak bisa diantisipasi otak sebelumnya. Merupakan realitas kehidupan korban perselingkuhan. Disisi lain struktur dalam pikiran korban juga ambruk, karena tidak ada lagi dasar asumsi yang bisa membendung realitas menyakitkan ini.

Betrayal Trauma Theory (BTT) atau sebuah kerangka kerja yang dikembangkan oleh Dr. Jennifer Freyd. Menawarkan penjelasan mengapa penghianatan yang dilakukan oleh orang terdekat. Menghasilkan tingkat psikopatologi yang jauh lebih parah, dibanding kejahatan yang dilakukan oleh orang asing. Mengingat BTT ada atas dasar teori keterikatan, yang mengemukakan bahwa manusia termotivasi untuk mempertahankan individu yang vital bagi kelangsungan hidup, sekaligus perlindungannya.

Maka tesis utama Freyd adalah bahwa tingkat parahnya trauma hampir selalu proporsional dengan tingkat ketergantungan biologis, sosial, atau emosional pada si penghianat. Ini mirip dengan seorang istri yang selalu bergantung pada suaminya atau sebaliknya. Baru menyadari bahwa pasangannya adalah predator yang menyakitinya secara emosional. Alasan mengapa aku lebih memilih permisalan pasutri dibanding yang berstatus pacaran. Juga demi menunjang kerangka kerja BTT, karena ini menyoroti dilema yang tidak dapat diselesaikan oleh otak.

Dilema itu adalah di satu sisi logika kelangsungan hidup kita menuntut kewaspadaan terhadap ancaman. Lebih mudahnya secara logika kita harusnya menjauh dari penghianat. Namun disisi lain, disaat yang sama sistem keterikatan masih merasa kita tidak boleh meninggalkan sosok pengasuh yang berpengaruh pada hidup kita itu. Padahal lagi-lagi secara logika, sosok pengasuh itu jelas-jelas penghianat.

Lebih parahnya lagi jika sebuah hubungan tersebut telah dibangun sejak lama, dan terasa baik-baik saja sebelum penghianatan terungkap. Korban akan mengalami apa yang disebut sebagai kolapsnya konsep diri (self concept collapse) atau disrupsi identitas. Identitas yang telah diasumsikan sebagai istri/ suami yang dicintai, dihormati, dan sebagai pasangan yang mengetahui segala-galanya tentang pasangannya. Ternyata terbukti hanya sebagai fiksi belaka. Imajinasi masa depan bahagia yang telah disepakati bersama, tiba-tiba harus dibatalkan secara retroaktif. Ini membuat korban kehilangan akses pada kepastian internalnya. Sehingga korban dipaksa untuk memahami siapa dirinya, diluar kontruksi yang sekarang telah hancur.

(Retroaktif adalah sesuatu yang terjadi di masa lalu diukur atau diatur memakai aturan yang baru dibuat di masa sekarang.)

Terakhir, demi bisa memahami secara penuh skala kehancurannya. Aku disini tidak bisa mengabaikan fenomena yang biasanya mendahului penghianatan macam perselingkuhan. Yaitu fenomena gaslighting. Secara umum gaslighting adalah pemutarbalikan fakta oleh pelaku, sehingga membuat korbannya sering meragukan keyakinannya sendiri.

Perselingkuhan hampir tidak pernah merupakan tindakan tunggal. Ia adalah serangkaian keputusan sadar untuk menutupi kebenaran melalui penipuan, atau pemutarbalikan fakta (gaslighting) berulang. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, taktik pelecehan psikologis tersembunyi ini, mengikis keyakinan epistemik korban (epistemic confidence). Epistemik korban sendiri adalah kemampuan seseorang untuk mempercayai ingatan, penilaian, dan intuisinya sendiri.

Ketika kebenaran tentang perselingkuhan terbongkar, korban tidak hanya harus menerima fakta pahit kehilangan pasangan dan masa depan mereka. Korban juga harus menanggung beban tugas kognitif yang nyaris mustahil. Yaitu melakukan revisi secara menyeluruh terhadap memorinya tentang masa lalu mereka.

Otak manusia yang dibuat untuk menjaga keberlangsungan atau konsistensi suatu urutan. Tidak siap menerima kesadaran mengerikan, bahwa masa lalu adalah kebohongan (the past was a lie). Otak tidak siap memproses hal-hal indah di masa lalu seperti setiap deklarasi cinta, ulang tahun yang dirayakan, hingga masa-masa sulit yang dilalui bersama sebagai sebuah kebohongan.

Upaya komputasi otak memproses tumpukan memori palsu selama bertahun-tahun dalam waktu singkat inilah. Yang menyebabkan korteks prefrontal kelebihan beban (overload). Akibatnya pasca penghianatan, korban akan mengalami sebuah situasi yang menyerupai PTSD kompleks. Yaitu kabut otak (brain fog), disosiasi, kebingungan spasial, kesulitan merangkai pikiran yang berurutan, hingga memori yang terfragmentasi. Korban pada intinya kehilangan pijakan mereka karena mereka merasa. Mereka merasa tidak hanya diasingkan dari pasangan, namun juga dari sejarah kehidupan mereka sendiri. 

Posting Komentar