Kenapa Patah Hati Terutama yang Disebabkan Oleh Penghianatan, Rasanya Sakit Sekali Sehingga Tidak Jarang Ada yang Sampai Bunuh Diri Karenanya, Bagian 3
Ikatan sosial sebagai imperatif kelangsungan hidup
Pemahaman terhadap nyeri sosial yang berujung pada gamon mengarahkan kita pada pertanyaan yang lebih luas. Yaitu mengapa lingkungan yang evolusioner ini membentuk struktur otak yang sedemikian ekstrem?
Jawaban untuk pertanyaan barusan dicetuskan oleh disiplin psikologi Evolusioner. Psikologi evolusioner memandang bahwa otak manusia bukan sebagai produk peradaban modern. Otak adalah alat adaptasi yang ditempa selama ratusan ribu tahun di padang sabana Pleistosen.
(Padang sabana Pleistosen adalah kawasan padang rumput dan hutan terbuka yang terbentuk pada Zaman Pleistosen. Sekitar 2,5 juta hingga 11700 tahun yang lalu.)
Dalam biologi evolusioner, prinsip dasar yang mengarahkan modifikasi spesies ada 2 yaitu kelangsungan hidup dan reproduksi. Hipotesis tentang domestikasi diri manusia (human selfdomestication hypotesis) bahkan mengusulkan bahwa keterampilan sosial manusia yang kompleks. Muncul ketika seleksi alam lebih mengutamakan prososialitas intra kelompok. dan perilaku non agresif dalam evolusi manusia akhir. Pendapat barusan diperkuat dengan kesetujuan ilmu pengetahuan bahwa Homo sapiens, bertahan hidup bukan karena memiliki cakar yang tajam atau zirah tubuh yang kuat. Homo sapiens memiliki kemampuan unik untuk membentuk jaringan kerja sama yang terstruktur, berbagai sumber daya, dan membangun kepercayaan institusional.
Namun keunggulan yang membuat mereka bertahan ini juga bukan tanpa kelemahan. Social safety theory memberikan hipotesis bahwa menjaga ikatan sosial persahabatan, adalah prinsip pengorganisasian perilaku manusia yang fundamental. Karena kelangsungan hidup manusia terlalu bergantung pada kelompok. Kelompok ini sendirilah yang berpotensi jadi ancaman paling berbahaya. Contohnya pada era leluhur kita, individu yang dikucilkan, ditinggalkan, atau dikhianati oleh kelompoknya. Tidak hanya menderita secara emosional, tapi mereka juga menghadapi resiko kematian yang sangat nyata. Karena harus menghadapi alam yang tidak pasti sendirian, kelaparan sendirian, dan menghadapi hewan buas yang lapar sendirian.
Pada penelitian terbaru para arkeolog dan psikolog evolusioner menunjukkan bahwa penghianatan, mungkin merupakan katalisator yang memicu penyebaran manusia dengan cepat ke seluruh dunia. Perselisihan yang dimotivasi oleh kerusakan kepercayaan serta perasaan dikhianati, lebih sering terjadi ketika komitmen kepada orang lain menjadi esensial untuk bertahan hidup. Sisi gelap dari manusia ini berevolusi dengan memotivasi kelompok manusia awal. Agar menempatkan jarak fisik yang jauh antara mereka dan para penghianat.
Oleh karenanya ketika seseorang dikhianati oleh orang yang menjadi tempat bergantung, seperti pasangan hidup atau dalam konteks anak muda sebagai pacar. Otak kita yang sudah ada sejak zama purba ini tidak meresponnya sebagai ketidaknyamanan domestik. Melainkan mensejajarkannya dengan ancaman kematian. Penghianatan macam selingkuh, menyalakan mode bertarung demi bertahan hidup pada sistem saraf simpatis. Akibatnya tubuh dibanjiri oleh hormon stress untuk mempersiapkan diri seolah-olah akan menghadapi serangan predator atau pelarian gawat jarak jauh. Ini menciptakan situasi yang terlihat berlebihan atau terlalu ekstrem, mengingat korban yang sebenarnya hanya sedang duduk dengan aman di rumahnya. Ini jugalah yang menciptakan kesenjangan antara mereka yang mengalami, dan yang tidak mengalami penghianatan tersebut.
Di satu sisi, korban didalam otaknya merasakan situasi kritis setara dengan individu zaman dahulu yang dikhianati kelompoknya. Kemana-mana serba tidak aman karena sandaran mutlak yang selama ini dipercayai ternyata sandaran palsu. Disisi lain, orang lain yang tidak mengalaminya menganggap itu sebagai hal remeh. Karena toh korban tidak mengalami luka bacok dari mantannya, atau menderita keracunan akibat ulah mantannya. Tapi ironisnya, bahkan secara keilmuan pun ketidaksesuaian antara memori evolusioner tentang bahaya lingkungan, dan realitas modern ini dianggap menciptakan disonansi yang melumpuhkan.
Salah satu teori yang menjembatani kelangsungan hidup evolusioner dengan persepsi kognitf modern adalah Social Baseline Theory (SBT). Teori yang dikembangkan oleh James A. Coan dianggap membalikkan paradigma tradisional dalam neurosains. Jadi kan historisnya ilmuwan menganggap bahwa keadaan dasar fungsional tubuh manusia, adalah ketika manusia tersebut sendirian tanpa adanya stimulasi luar. Nah Coan dengan menggunakan fMRI, menunjukkan bahwa. Aktivitas otak kita jadi jauh lebih rendah ketika kita menggenggam tangan pasangan yang kita cintai dan percayai. Dibandingkan ketika kita sendiri, jomblo, single, dan apalah itu namanya. (Mungkin karena lagi meratapi nasib kali ya)
Dari sini SBT berpostulat bahwa otak manusia berevolusi kearah mengharapkan akses yang stabil ke hubungan sosial yang minim resiko. Dengan kata lain SBT menegaskan bahwa keadaan dasar atau deflaut biologis dari kita manusia. Adalah ketika kita terhubung secara sosial, bukannya malah terisolasi.
Otak adalah organ yang digerakkan oleh prinsip penghematan ekonomi metabolik. Sederhananya otak ingin secara eksklusif menghemat energinya. Mekanisme dibalik ini disebut sebagai pengaturan risiko dan usaha berbasis sosial (social regulation of risk and effort). Dalam hal kehidupan sosial, otak menganggap bahwa keterhubungannya secara sosial yang layak sebagai bagian dari sumber daya bioenergetik. Maksudnya ini mirip dengan ketersediaan glukosa dalam aliran darah.
Ketika muncul ikatan komitmen semacam resmi berpacaran atau bahkan resmi menikah. Kita sebagai individu akan mengalihdayakan beban kognitif untuk memindai lingkngan dari ancaman kepada pasangan. Maksudnya dengan adanya doi disamping kita nih, persepsi tentang dunia fisik pun ikut berubah. Jujur aku sendiri masih merasa lucu bahwa di sumber yang kubaca menunjukkan hal ini.
Jadi dalam bukti empiris atau informasi yang didapat melalui pengamatan, pengalaman, dan eksperimen. Ditunjukkan bahwa jika kita melihat sebuah bukit yang terjal dan sulit didaki. Maka bukit sialan itu akan dipersepsikan lebih landai dan mudah didaki, jika kita bersama seseorang yang sangat kita percayai.
Bro… jujur saja ini antara persepsiku pribadi yang lucu atau apa ya. Tapi jika memang benar ilmu pengetahuan bilang seperti itu. Maka berarti secara tidak langsung ilmu pengetahuan mengakui kekuatan cinta yang selama ini dianggap klise. Maksudnya seperti “Akan kuseberangi lautan dan akan kudaki gunung selama aku bersamamu!” ternyata bisa dijelaskan secara keilmuan dan real sehebat itu pengaruhnya. Padahal one piece yang disebut-sebut ada oleh Whitebeard, sampai sekarang belum muncul batang hidungnya. Ini kekuatan cinta, malah dikonfirmasi langsung oleh ilmu pengetahuan yang menganggap tuhan tidak ada.
Sekarang bayangkan kekuatan yang diakui oleh ilmu pengetahuan ini. Yang konfirmasinya lebih jelas dari one piece ini. Yang pengaruhnya ke individu bisa sampai begitu semembutakan ini. Dinodai oleh perselingkuhan dan penghianatan. Jika sulit mengawangngawang bagaimana kondisi jeblok akut tersebut, karena yah merasa belum pernah pacaran. Coba bayangkan orang tua kita yang merawat kita dari lahir hingga dewasa, setiap hari memberi kita kasih sayang, komitmen tiada tara, dan perlindungan yang terasa tak terbatas selama bertahun-tahun. Rupanya berniat mengorbankan kita jadi tumbal pesugihan.
Saat situasi tidak jelas itu terjadi, aku pasti bisa menjamin bahwa siapapun orang waras yang mengalaminya. Pasti tidak akan sekedar merasa syok seperti saat setelah kita melihat plot twist film masterpiece. Perasaan kita campur aduk, dan deskripsi yang tepat untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya situasi perasaan saat hal sialan itu terjadi. Adalah dunia kita telah dibuat jungkir balik dengan cara yang sangat-sangat tidak menyenangkan.
Ilmu pengetahuan sendiri menyebut situasi jungkir balik tidak masuk akal tersebut sebagai kebangkrutan metabolik pada otak. Kebangkrutan ini memaksa kita untuk secara radikal mendefinisikan ulang segala hal sendirian. Pendefinisian ulang dari seseorang yang telah sendirian akibat penghianatan sebelumnya, mengimplikasikan 2 hal bagi otak. Pertama, peningkatan risiko lingkungan yang eksponensial. Dan kedua, adalah peningkatan usaha kognitif yang drastis untuk bertahan hidup.
Otak yang tiba-tiba harus mengambil alih semua beban, menjelaskan mengapa orang yang telah mengalami penghianatan. Merasakan keletihan yang tak tertahankan hingga hilangnya motivasi. Secara harfiahnya, korban yang telah mengalami penghianatan yang tidak masuk akal tersebut. Akan melihat dunia sebagai tempat yang lebih curam, lebih gelap, dan lebih menguras energi karena status dan situasi dasarnya telah direnggut.
Posting Komentar