Kenapa Patah Hati Terutama yang Disebabkan Oleh Penghianatan, Rasanya Sakit Sekali Sehingga Tidak Jarang Ada yang Sampai Bunuh Diri Karenanya, Bagian 5
Dampak nyata dari toksisitas hormonal hingga kerusakan anatomi otonom
Jika bagian sebelum-sebelumnya fokus pada penguraian dan penjelasan. Bagian ini akan berfokus pada penyajian bukti, tentang bagaimana konsep seperti kebohongan dan penghianatan. Menyeberang kearah menjadi patologi organik di seluruh tubuh. Atau mudahnya itu benar-benar bisa jadi penyakit. Analisis ini sekalian juga membongkar mitos bahwa patah hati hanyalah sindrom pikiran, yang seringkali dianggap remeh dan sepele.
Pertama-tama trauma psikologis itu direspon oleh tubuh melalui pengaktifan Sumbu yang bernama Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA Axis). Saat terjadi aktivitas berlebih pada anterior cingulate cortex dan amigdala, sehingga mendesak hipotalamus untuk melepaskan hormon pelepas kortikotropin (CRH). Ini pada gilirannya memerintahkan kelenjar pituitari dan kelenjar adrenal, untuk membanjiri sistem sirkulasi dengan hormon stres primer. Yaitu glukokortikoid (kortisol) dan katekolamin (epinefrin/ adrenalin serta norepinefrin).
Dalam dosis jangka pendek, lonjakan adrenalin ini lumayan berguna untuk respon macam melarikan diri. Namun dalam kasus perselingkuhan, stresor (situasi yang memicu stres) tidak hilang dalam hitungan menit seperti pada serangan fisik. Stresor jadi ingatan yang menetap, dan menyebabkan sekresi (pelepasan) hormon stres persisten dan hiperkortisolemia. Nah paparan katekolamin secara masif dan terus menerus ini, merusak dinding sel edontel pembuluh darah, memicu respon inflamasi sistemik, dan merusak integritas sistem imun.
Pada penelitian yang kata sumber ini, subjeknya berasal dari Indonesia. Bukti penelitiannya dianggap sejalan dalam menyoroti perbedaan aktivasi respons neuro-emosional yang mendalam. Bukti spesifiknya menunjukkan adanya tingkat aktivasi amigdala yang berbeda secara seksual. Laki-laki menunjukkan reaktivitas amigdala yang lebih parah dalam menghadapi perselingkuhan seksual. Sementara perempuan, lebih rentan pada respons perselingkuhan emosional.
Selanjutnya validasi klinis tentang bahayanya patah hati pun ditemukan pada sindrom yang bernama Takotsubo Cardiomyopathy. Atau juga biasa dikenal sebagai sindrom patah hati atau kardiomiopati akibat stress. Namanya yang berasal dari alat perangkap gurita tradisional Jepang. Yang bilik-biliknya menggelembung saat pencitraan medis seperti jantung. Memanifestasikan keadaan yang tidak bisa dibedakan dengan serangan jantung mematikan. Dengan tanda-tanda seperti dispnea akut, nyeri dada iskemik, dan perubahan elektrokardiogram.
Jadi korban penghianatan yang diperiksa melalui angiogram koroner, terbukti memiliki arteri yang bersih dan tanpa penyumbatan plak trombosis. Krusakan struktural yang terjadi padanya murni disebabkan oleh gelombang kejut sistem syaraf otonom, akibat trauma psikologis yang ektrem. Penjelasan mengenai mekanisme kerusakan yang dijelaskan oleh sindrom ini, kurangkum jadi sebagai berikut.
Pertama ada toksisitas katekolamin langsung. Trauma emosioanal disini dikatakan meledakkan pelepasan adrenalin (epinefrin) dan norepinefrin, dalam jumlah banyak dari kelenjar adrenal dan terminal saraf simpatis lokal di miokardium. Akibatnya tingkat katekolamin melonjak hingga 2 sampai 3 kali lipat diatas nilai batas normal. Lonjakan ini secara harfiah meracuni sel otot jantung, dan menyebabkan kelebihan muatan kalsium intraseluler yang fatal.
Kedua, spasme mikrovaskular koroner. Manifestasinya alih-alih melebarkan pembuluh darah, katekolamin yang berlebihan merangsang reseptor alfa-adrenergik tanpa hambatan. Ini menyebabkan vasokonstriksi epikardial dan kejang pada arteri-arteri kecil pembawa darah ke jantung. Karenanya jantung secara temporer mati lemas akibat berkurangnya penyaluran darah secara mendadak.
Ketiga dan terakhir, ada stunned myocardium. Jadi akibat distribusi regional saraf simpatis, dasar jantung dan dinding apeks merespon secara berbeda sehingga menciptakan inverse metabolic perfusion mismatch. Dinding apikal ventrikel kiri jadi lumpuh, melemah, dan gagal memompa darah dengan efektif.
Sindrom Takotsubo dengan pemaparan njlimetnya tadi berhasil mematahkan argumen bahwa nyeri emosional itu bersifat ilusif. Bahkan angka kematian fase akut di rumah sakit pada pasien dengan sindrom ini, mencapai angka 4% hingga 5%. Yang mana angkanya sebanding dengan presentase pada angka kematian akibat serangan jantung fisik primer.
Sedikit mengulang beberapa bagian awal, aku sebelumnya telah membahas bahwa ada beberapa keluhan fisik yang menyertai penemuan perselingkuhan. Seperti misalnya mual, nyeri, dan sensasi tercekat di tenggorokan. Nah di bagian ini aku menemukan bahwa ternyata itu adalah terjemahan rasa sakit emosi ke fisik yang dilakukan oleh Nucleus Tractus Solitarius (NTS) dan sistem saraf Vagus (Saraf Kranial X) di otak. Mekanisme urutan responnya sendiri terjadi sebagai berikut.
Pertama, ketika penghianatan terdeteksi, dACC dan sistem limbik mendata penderitaan dan ketakutan korban. Penderitaan akan diproyeksikan langsung ke NTS di batang otak melalui persarafan desenden. Bagian pertama berakhir dengan otak menjatuhkan beban komputasi traumanya ke sistem otonom. Kedua, NTS adalah terminal yang menerima informasi seperti tekanan darah, fungsi pernapasan, hingga kontraksi usus. Karenanya NTS bersama Area Postrema dan Dorsal Motor Nucleus of the Vagus (DMNV) jadi komponen kunci pembentuk pusat muntah di otak.
Begitu sinyal stress dan penderitaan menghantam NTS. NTS merespon denngan menyalakan sinyal koligenik eferen melalui saraf vagus ke saluran pencernaan atas. Tindakan ini melepaskan neurotransmiter lokal yang segera membalikkan peristaltik lambung dan memicu mual, kram usus, hingga muntah. Otak merespon informasi toksik seperti istri/ suami atau pacar selingkuh, menggunakan mekanisme pertahanan yang sama persis. Seperti saat tubuh baru saja menelan patogen makanan yang mematikan.
Ketiga, mengenai penjelasan fenomena sesak napas dan nyeri dada. Kaitannya erat dengan saraf yang dianggap sebagai saraf pengembara atau saraf vagus. Saraf vagus itu mengatur 80% fungsi istirahat dan mencerna tubuh, menghubungkan batang otak ke laring, paru-paru, jantung, hingga abdomen.
Saat penghianatan terjadi, trauma menekan persarafan parasimpatis vagal secara drastis. Menghilangkan rem penyeimbang yang biasanya menenangkan jantung. Hilangnya regulasi vagal, memicu disfungsi otonom, penurunan drastis detak jantung, lonjakan tekanan darah mendadak, serta penyempitan jalan napas paru-paru. Hal inilah yang menghasilkan gejala somatis seperti dada tercekik, dan ketidakmampuan menarik napas panjang pada korban.
Posting Komentar