Kenapa Patah Hati Terutama yang Disebabkan Oleh Penghianatan, Rasanya Sakit Sekali Sehingga Tidak Jarang Ada yang Sampai Bunuh Diri Karenanya, Bagian 2
Tumpang Tindih Jaringan Nyeri Fisik dan Emosional
Demi semakin memahami mengapa rasa sakit akibat penghianatan terasa sangat nyata. Aku perlu memeriksa infrastruktur saraf dasar dari otak manusia mamalia lebih dulu. Hipotesis yang kutemukan sih, ini berhubungan dengan Teori Tumpang Tindih Nyeri Sosial (Social Pain Overlap Theory/ SPOT). Alasannya, karena SPOT memberikan cetak biru neurologis tentang bagaimana manusia memproses perpisahan atau penolakan.
SPOT yang diteliti oleh ilmuwan seperti Naomi I. Eisenberger dan Matthew D. Lieberman. Berpostulat (mengajukan dalil yang diterima tanpa pembuktian lebih lanjut) bahwa sistem keterikatan sosial pada spesies mamalia, tidak menciptakan sirkuit saraf yang sepenuhnya baru untuk memonitor interaksi sosial. Sebaliknya evolusi mengadopsi (co-opted) proses komputasi dan sirkuit saraf dari sistem nyeri fisik yang sudah ada, untuk mencegah konsekuensi yang berpotensi mematikan dari perpisahan sosial.
Ngomong-ngomong soal nyeri fisik, perasaan nyeri itu sendiri sebenarnya punya fungsi evolusioner yang nyata dan jelas. Ia bertindak sebagai alarm penuntut perhatian langsung pada kita manusia terhadap kerusakan jaringan. Seperti misalnya saat tangan kita terlalu dekat dengan api, kita merasakan rasa sakit tidak nyaman sehingga kita perlu menarik kembali tangan kita.
Namun karena spesies manusia berevolusi dengan periode ketidakdewasaan masa kanakkanak yang sangat panjang. Kelangsungan hidup manusia di masa-masa itu bergantung mutlak pada pengasuhan, atau kedekatan dengan figur pengasuh. Sehigga dalam konteks perpisahan dari pengasuh atau kelompok yang menciptakan rasa kesepian dan tidak aman. Otak alih-alih memprosesnya dengan rasa sakit yang berbeda. Lebih memilih mengadopsi sinyal alarm pada nyeri cedera fisik, demi memastikan manusia mengatasi rasa kesepian dan tidak aman tersebut. Otak ingin manusia aktif mencari dan mempertahankan ikatan sosial yang protektif.
Itulah kenapa jika aku memasukkannya dalam konteks sedihnya temanku sebelumnya. Tangisannya, sulitnya dia makan, dan keengganannya untuk sekolah. Maka peristiwa itu dapat dijelaskan secara keilmuan, berupa temanku sedang dipaksa oleh otaknya sendiri untuk mengatasi rasa tidak amannya. Dan karena seperti penjelasan sebelumnya, otak tidak menciptakan sirkuit saraf baru untuk interaksi sosial. Maka otak temanku meminjam sirkuit dari sistem nyeri fisik yang sudah ada. Yang berefek pada efek samping dari patah hatinya mirip dengan gejala penyakit fisik tertentu seperti demam, flu, atau pilek. Temanku jadi enggan makan, enggan sekolah, enggan diajak main keluar. Pokoknya miriplah waktu kita sakit fisik karena bawaannya berat banget waktu ingin melakukan segala sesuatu.
Selain dalam kasus temanku, sumber informasi yang kudapat menyoroti bahwa bukti paling kuat dari teori sebelumnya berasal dari eksperimen neuromaging (fMRI). Jadi dalam sebuah studi klasik yang terbit di jurnal Science. Eisenberger menguji partisipan menggunakan permainan bola virtual yang disebut Cyberball. Partisipan yang dimasukkan kedalam pemindai fMRI, akan dibuat percaya bahwa mereka sedang bermain dengan 2 orang lainnya. Namun saat rasa keterikatan telah terbentuk, partisipan secara sengaja dikucilkan. Nah hasil pencitraan otak pastisipan itu rupanya menunjukkan kesamaan atau kesejajaran yang luar biasa. Dengan peta otak orang yang sedang mengalami rasa sakit fisik yang akut.
Lebih lanjut, berikut tabel yang memuat komponen fungsional nyeri, bagian saraf yang teraktivasi, dan peran dalam nyeri realisonalnya. Dengan adanya tabel ini, aku berharap kita bisa lebih memahami dengan mudah. Beberapa info penting yang menambah pengetahuan kita mengenai bagaimana sih, tubuh secara utamanya otak memproses rasa sakit tanpa luka nyata.
|
Komponen
Fungsional Nyeri |
Wilayah Saraf
yang Teraktivasi |
Mekanisme dan
Peran dalam Nyeri Relasional |
|
Dimensi
Afektif (Distres/ Penderitaan |
Dorsal
Anterior Cingulate Cortex (dACC) |
Memproses
pengalaman subjektif tentang seberapa menyiksa sebuah stimulus. dACC tidak
mengukur seberapa panas sebuah api. Tapi mengukur seberapa besar penderitaan
yang ditimbulkannya. Dalam konteks sosial, aktivasi dACC berkolerasi positif
dengan laporan mandiri, mengenai tingkat penderitaan emosional akibat
eksklusi (pengucilan). |
|
Dimensi
Sensori Diskriminatif |
Anterior
Insula dan Korteks Somatosensori |
Memproses
persepsi tentang lokasi dan intensitas stimulus rasa sakit tubuh. Aktivitas
di anterior insula, secara signifikan berkolerasi dengan tingkat keparahan
depresi. Dan sensasi nyeri psikologis yang mengakar secara jasmani. |
|
Regulasi dan
Kompensasi Emosi |
Right Ventral
Prefrontal Cortex (RVPFC) |
Bertindak
jadi sistem pengereman kognitif. RVPFC mencoba meregulasi distres akibat
penolakan sosial. Caranya adalah berupaya mendisrupsi atau menurunkan
hiperaktivitas yang terjadi di dACC. |
Seperti yang ditunjukkan dalam tabel, dACC bukan sekedar pusat pemrosesan pasif. Ia adalah sistem alarm proaktif yang operasinya menggunakan mekanisme komputasi yang dikenal sebagai deteksi diskrepansi (discrepancy detection). Nah pemahaman tentang deteksi diskrepansi inilah yang dikatakan sangat penting untuk memecahkan kode rasa sakit akibat penghianatan macam perselingkuhan.
Dalam situasi normal, otak konsisten melakukan monitoring terhadap lingkungan sosial disekitarnya. Pertanyaannya kenapa? Ini karena otak berusaha memastikan bahwa ekspektasi dan realitas berjalan selaras. Misalnya temanku yang berpikir bahwa karena ia mencintai pacarnya, maka pacarnya juga harus mencintainya tanpa keinginan selingkuh, tentu saja. Masalahnya kita tahu bahwa kata-kata seperti “ekspektasi seringnya tidak sesuai realita” itu sering banget terjadi. Sehingga saat penghianatan muncul, saat dia tahu dan yakin kalau pacar yang dia sangat sayangi selingkuh. Sebuah anomali atau diskrepansi (ketidakcocokan) radikal mulai terdeteksi olehnya. Sebagai tindak lanjut, dACC didalam dirinya langsung mengenali bahwa realitas telah melenceng jauh dari ekspektasi biologis. Karena fungsinya sebagai alarm, dACC segera merekrut sumber daya kognitif tingkat tinggi. Bahkan mulai membajak kesadaran demi secara terfokus menyelesaikan ketidakcocokan atau ketidaksesuaian yang terjadi.
Fenomena ini menjelaskan mengapa korban perselingkuhan itu selalu dipenuhi pikiran yang obsesif, perenungan tiada henti, mimpi buruk, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi pada banyak urusan harian. Lha wong alarm tanda bahaya dalam dirinya terus menyala, dan bilang ini kondisi kritis. Bagaimana mungkin temanku bisa fokus pada urusan lain selain masalah rumitnya ini.
Yang paling unik menurutku disini, adalah klaim bahwa peran dACC sebagai alarm. Juga terbukti pada subjek hewan seperti monyet dalam sebuah penelitian. Walaupun aku tahu ini juga berkat pengelompokkan soal mamalia sebelumnya. Namun ini tetap saja menarik karena kerusakan pada dACC pada monyet Macaca mulatta. Menunjukkan bahwa distress mereka yang biasanya karena dipisahkan dari sang induk. Menurun secara drastis tanpa fungsi dACC yang berfungsi normal.
Pada manusia yang menjalani cingulotomy (prosedur bedah yang memotong dACC untuk menangani nyeri kronis yang tak tersembuhkan). Pasien melaporkan bahwa mereka bisa tetap merasakan intensitas fisik dari nyeri, tetapi nyeri barusan tidak lagi mengganggu. Dari hal ini membuktikan bahwa letak penderitaan yang sebenarnya, memang bermarkas di dACC. Area yang sama persis jadi alarm pengganggu yang berisik, ketika temanku menemukan bahwa pasangannya telah menghianatinya.
Setelah kita tahu bahwa dACC adalah penyebab dari semua ini, kini pertanyaannya mulai bergeser. Mengapa nyeri sosial hidup lebih lama dari nyeri fisik?
Walau telah diketahui sumber sebenarnya dari alarm rasa sakitnya, aku dan temanku sepakat bahwa nyeri sosial memiliki 1 karakteristik yang membedakannya dari nyeri fisik. Yaitu nyeri sosial dari patah hati itu bisa terus hidup, atau bahkan dihidupkan kembali dengan rasa sakit yang sama saat pertama kali dirasakan.
Pertanyaannya kenapa ada istilah yang bisa disebut nyeri sosial berkepanjangan atau gamon (gagal move on) ini?
Menjawab fenomena gamon, aku menemukan sebuah penelitian oleh Meyer, Williams, dan Eisenberger pada tahun 2015, yang memutakhirkan hipotesis tumpang tindih fisik dan sosial. Jadi meskipun mekanisme yang tumpang tindih mendukung pengalaman rasa sakit fisik dan sosial. Mekanisme yang berbeda memandu rasa sakit yang dihidupkan kembali secara internal/ diingat.
Bahasa paling mudah untuk menjelaskan penelitian 3 orang diatas. Yaitu kita sebagai manusia sudah pasti kesulitan menghidupkan kembali ingatan rinci, sewaktu kita pernah sakit fisik dulu. Sewaktu mengalami patah tulang misalnya (amit-amit semoga kita tidak mengalaminya), kita akan sangat sulit menghidupkan kembali soal bagaimana sih sebenarnya penderitaan itu. Kita mungkin bisa ingat beberapa rasanya, tapi bisa merasakannya sama persis waktu mengalami patah tulangnya. Itu jelas tidak mungkin apalagi seiring berjalannya waktu. Disisi lain, ingatan sewaktu menemukan chat perselingkuhan pacar di masa lalu. Dapat memicu badai fisiologis yang sama persis, seperti hari dimana kejadian itu pertama kali dilakukan.
Kejadian barusan bahkan nampaknya sejalan dengan kutipan yang tersorot dalam studi sebelumnya. Kutipannya adalah “Luka moral memiliki kekhasan ini. Mereka mungkin tersembunyi, tetapi mereka tidak pernah menutup. Selalu menyakitkan, selalu siap berdarah ketika disentuh, serta mereka tetap segar dan terbuka didalam hati”
Maka dari itu kemampuan kognitif evolusioner manusia (macam memori episodik dan perjalanan waktu mental). Memungkinkan dACC untuk terus diaktifkan kembali oleh pikiran maupun pemicu lingkungan. Dimana hal ini membuat trauma relasional menjadi kondisi sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan benar.
Posting Komentar