Kenapa Patah Hati Terutama yang Disebabkan Oleh Penghianatan, Rasanya Sakit Sekali Sehingga Tidak Jarang Ada yang Sampai Bunuh Diri Karenanya, Bagian 6
Konsep psychache (rasa sakit psikologis) dan bunuh diri
Jika diurutkan lebih jauh lagi, kerusakan dari tingkat psikologis, neurologis, dan disfungsi fisik organ ini. Bermuaranya pada 1 realitas gelap mengenai akibat paling fatal dari penghianatan macam perselingkuhan. Yaitu bunuh diri.
Saat temanku menangis seperti anak kecil di kasurnya karena ceweknya selingkuh. Saat melihat berita bunuh diri dengan foto pengantarnya seseorang yang berdiri di pinggir jembatan. Dan saat tahu seorang perempuan mengalami gangguan kejiwaan karena laki-laki brengsek. Orang-orang selalu meremehkannya dengan bilang.
“Alah cewek/ cowok masih banyak diluar sana! Kenapa gitu aja dipikirinnya sampai kayak mikirin negara.”
“Namanya juga keluarga. Hal seperti itu 1 hingga 2 kali pasti ada aja kejadiannya. Jadi tidak usah terlalu dipikirkan.”
Padahal jika berdasarkan data yang didapat dari korban perselingkuhan. Kemunculan ide bunuh diri dianggap jadi salah satu indikasi nyata dari keputusasaan mental. Penjelasannya bisa dipahami dari prevalensi komorbiditas yang melingkupi tindakan menyakiti diri sendiri tanpa tujuan mati (non-suicidal self-injury/NSSI). Jadi korban perselingkuhan menggunakan NSSI sebagai strategi koping. Demi mengalihkan rasa sakit psikologis yang membingungkan, jadi rasa sakit fisik yang lebih dapat dikendalikan dan dipahami.
Namun diluar NSSI, ide bunuh diri barusan sebenarnya menciptakan sebuah paradoks evolusioner. Yaitu kan tujuannya adalah pertahanan diri demi kelangsungan hidup, terus kenapa bisa arahnya ke perusakan tubuh yang mengancam nyawa. Seseorang yang dianggap sebagai Bapak Suicidologi Modern, yaitu Edwin S.Shneidman. Mengurai misteri ini dengan konsepnya mengenai rasa sakit psikologis (patologi psychcache).
Bapak Shneidman, kita sebut saja begitu. Mendefinisikan psychache sebagai rasa sakit, penderitaan kognitif, kelelahan eksistensial, dan siksaan yang tak terbantahkan didalam pikiran. Ia merupakan emosi yang dihasilkan ketika kebutuhan psikologis dasar manusia. Seperti afiliasi, otonomi, dan kebutuhan untuk disayangi dirusak secara paksa.
Bapak Shneidman melalui pengamatan selama 40 tahun pada individu yang mati bunuh diri. Menyimpulkan bahwa depresi klinis itu tidak membunuh, yang membunuh adalah psychache yang melampaui ambang batas toleransi individu. Berdasarkan hal ini, jika kita kaitkan lagi dengan yang dialami korban penghianatan perselingkuhan yang ingin mati bunuh diri. Penjelasannya adalah mereka hampir pasti tidak termotivasi untuk mati. Jika mengambil bahasa dari sumber yang kubaca malah lebih melankolis lagi. Yaitu mereka yang ingin bunuh diri karena patah hati itu, sebetulnya tidak sedang rindu akan ketiadaan.
Jadi sebenarnya bunuh diri yang ingin dilakukan tidak benar-benar mengarah ke insting kematian (Thanatos). Tapi semata-mata sebagai strategi pemecahan masalah dari sistem saraf yang tersiksa. Serta efek dari ketidaktahuan soal alternatif logis lain untuk mematikan sirkuit dACC yang tanpa henti memicu penderitaan. Rasa sakit adalah inti dari bunuh diri. Tindakan pengakhiran nyawa dimaksudkan oleh pelaku semata-mata untuk menghentikan aliran kesadaran yang sangat menyiksa, kira-kira begitulah kata Bapak Shneidman dalam catatannya.
Melalui model kubik bunuh diri (cubic model of suicide), Bapak Shneidman memvisualisasikan krisis menggunakan 3 faset utama. Tindakan bunuh diri dijelaskan dalam model ini, baru benar-benar ingin dilakukan pelaku jika ketiga fasetnya mencapai tingkat keparahan absolut (skor 5 dari 5).
Pertama ada rasa sakit (pain). Merujuk pada level psychache yang absolut. Perselingkuhan menghasilkan penghancuran sistemik terhadap pemenuhan afiliasi. Menimbulkan rasa dikhianati dan dihinakan yang tak berkesudahan. Dan menciptakan intensitas nyeri mental yang melintasi skala dapat ditoleransi.
Kedua, tekanan (press). Disebutkan bahwa itu melibatkan stresor lingkungan, baik eksternal maupun internal. Ini seperti penemuan bukti perselingkuhan pasangan sangat banyak dan lama, yang berarti pasangan tak merasa salah dan menyesal. Manipulasi gaslighting pasangan yang enggan bertanggung jawab. Proses pengadilan yang sangat melelahkan. Hingga rasa malu pada kelompok sosial karena skandal tersebut.
Ketiga, kegelisahan atau perturbasi (perturbation). Menurut data, ini dianggap sebagai faset paling mematikan dan krusial. Alasannya karena pertubasi mencakup keadaan disorientasi dan agitasi kognitif, yang memicu sebuah karakteristik distorsi pikiran yang dinamakan penyempitan persepsi sementara (transient perceptual constriction).
Penyempitan persepsi sementara adalah perwujudan saat dimana korban, akibat guncangan dari runtuhnya asumsi-asumsinya dan kelelahan biologis neuroendokrin, kehilangan penglihatan periferal mentalnya. Korban seolah-olah hanya diberi pilihan tentang. Terus hidup dengan penderitaan seperti ini selamanya, atau mengakhirinya dengan bunuh diri. Masalahnya bagi korban di tahap ini, bunuh diri dianggap sebagai satu-satunya teka-teki logika yang tersisa, yang mampu menjamin berhentinya rasa sakit.
Mendukung kerangka kerja sebelumnya, Roy F. Baumeister menawarkan teori “Bunuh diri sebagai pelarian dari diri” (Suicide as escape from self). Dengan penitikberatannya pada perombakan realitas kognitif usai bencana trauma.
Penghianatan menyebabkan korban harus berhadapan dengan kesadaran yang menyakitkan akan ketidakmampuan atau kesesuaian diri. Ini sama persis seperti asumsi bahwa “diri ini berharga” telah dirusak dengan kenyataan bahwa pasangan memilih orang lain.
Kesadarn bahwa asumsi “diri ini berharga” terasa seperti omong kosong. Menghasilkan irasionalitas ekstrem dan dorongan absolut untuk lari dari kenyataan tersebut. Dalam pelarian diri yang tidak rasional, tindakan bunuh diri dibenarkan sebagai langkah pelepasan dari identitas yang sekarang dianggap hancur.
Dalam psikiatri empiris kotemporer, validasi paling kuat mengenai sentralitas rasa sakit psikologis terhadap proses mengakhiri hidup. Disusun dalam The three-Step Theory of Suicide (3ST) oleh Klonsky dan May.
3ST meletakkan rasa sakit psikologis secara tegas sebagai langkah pertama yang tak tergantikan dalam pembentukan ide bunuh diri. Lebih dari sekedar keputusasaan dan gangguan mood, nyeri mental tak tertahankan inilah yang berinteraksi dalam pembentukan keinginan untuk lari dari cangkang fisik. Yang tak henti-hentinya menerjemahkan emosi dACC sebagai penyiksaan nyata.
Pemindaian neurosains (fMRI) bahkan membuktikan bahwa penderita yang memiliki riwayat ideasi bunuh diri, menunjukkan pola respon persarafan atipikal yang spesifiknya berkorelasi pada anterior insula dan area pemrosesan rasa sakit. Ketika mereka diekspos pada simulasi penolakan sosial dalam perangkat cyberball, itu menandai koneksi neurofisiologis yang konklusif antara bunuh diri dan penderitaan enklusi ikatan sosial.
Menurut social baseline theory, otak yang diisolasi secara paksa mengalami lonjakan beban bioenergetik akibat hilangnya penghematan beban sosial. Disaat trauma tidak diintervensi, stres dan penyedotan energi siginifikan ini menggiring sistem tubuh pada kesimpulan biologis yang sangat berbahaya.
Posting Komentar