Kenapa Patah Hati Terutama yang Disebabkan Oleh Penghianatan, Rasanya Sakit Sekali Sehingga Tidak Jarang Ada yang Sampai Bunuh Diri Karenanya, Bagian 1
Pendahuluan : Paradoks dari nyeri tanpa luka fisik
Mengawali pembahasan dari salah satu topik yang tak terduga berhasil membuat kepalaku puyeng ini. Aku akan melakukan pijakan pertama pada pengalaman tak terlupakan di masa lalu. Sebetulnya pengalaman itu sendiri tidak seberkesan pengalamanku bertemu menteri. Yang rupanya di masa sekarangnya, tahun 2026 saat ketikan ini dibuat. Menterinya sudah masuk penjara karena kasus korupsi dan sejenisnya.
Namun walau kekuatan tak terlupakannya tidak melebihi sewaktu aku bertemu menteri korupsi. Setidaknya pengalamanku ini harusnya cukup relate lah, dengan pembahasan mengenai patah hati yang berujung pada keputusan bunuh diri. Yang kebetulan sekarang sedang coba kubedah.
Jadi di masa lalu yang waktu tepatnya aku lupa kapan. Warung di lingkungan RT sekitar rumahku, obrolan orang-orangnya mendadak dikuasai oleh 1 topik dalam 1 hari. Aku yang seringnya hanya manggut-manggut dan mengiyakan omongan orang di warung. Secara tak terduga ikut tertarik dengan topik bahasan tersebut di sore hari.
Aku ingat waktu itu alasan aku tertarik dengan kabar ini adalah karena 2 hal, pertama karena yang dibahas adalah salah satu teman baikku 1 RT. Dan kedua, pembahasannya ternyata seputar patah hati.
Teman baikku singkatnya diputusin sepihak oleh pacarnya. Dan karena diputusin sepihak oleh pacar yang sangat disayang, temanku ini nangis seharian di kamarnya. Dia Cuma makan sedikit, nggak mau keluar, bahkan beliau tidak mau pergi sekolah.
Awalnya aku ya sangat menyimak saja cerita orang-orang warung ini demi mendapat kabar rinciannya. Namun hingga akhir, aku tetap mendapati hal yang terasa kurang untuk sekedar percaya bahwa cerita ini bukan karangan. Dan itu adalah pertanyaan soal darimana sumber awal cerita itu berasal, dan apa atau mana buktinya.
Saat aku melontarkan pertanyaan semacam itu, biasanya orang-orang di warung hanya bilang kalau mereka dapat dari orang warung lain. Yang sayangnya sering tidak valid dan tidak ada hubungannya dengan informasi yang mereka bawa. Tapi ternyata kali ini beda, orang yang kuberi pertanyaan itu alih-alih melempar ke orang lain yang tidak relevan seperti biasa. Ia malah bilang kepadaku kalau aku tidak percaya, kenapa tidak tanya ibunya langsung atau melihat dan mendengar tangisan temanku di rumahnya.
Merasa mendapat jawaban yang memuaskan dan menarik, tidak berselang lama setelah tehku habis. Aku mulai langsung berkunjung kerumahnya sekalian menjenguknya.
Rupanya kabar tersebut benar. Teman baikku ini menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang tidak dituruti beli mainan favoritnya. Bahkan nih, suara tangisannya sendiri sudah terdengar waktu aku baru sampai halaman depan rumahnya. Sewaktu bertemu ibunya yang kebetulan sedang menyapu pun, aku sekalian mendapat konfirmasi soal kabar yang beredar itu. Yaitu teman baikku sangat sedih hingga menangis seperti anak kecil, karena diputusin sepihak oleh pacar yang sangat ia sayangi. Setelah mungkin sehabis diberi ucapan terima kasih oleh temanku, kemudian secara halus diusir. Pikiranku mulai mengingat pendapat orang-orang di warung sebelumnya. Terkhusus soal tanggapan mereka setelah mengetahui kabar soal temanku.
Aku ingat sekali walau pendapat dari masing-masing mereka berbeda. Intinya mereka tetap meremehkan dan menertawakan temanku. Mereka menganggap tindakan temanku berlebihan hingga seperti itu hanya karena seorang cewek. Ada juga yang berpendapat kenapa harus dipikir pusing, toh cewek masih ada banyak diluar sana. Kemudian ada juga yang berkomentar, bahwa harusnya remaja seperti kami fokus sekolah saja. Bukan malah pacaran hingga berujung pada situasi kekanak-kanakan yang dianggap lucu ini.
Akan tetapi diluar dari komentar orang dewasa waktu itu yang sering dianggap benar. Dan diluar norma tak tertulis soal tidak usah pacaran karena masih sekolah, cewek diluar masih banyak, dan lain-lain. Apakah tindakan menangis tersedu-sedu temanku barusan sebenarnya memang 100% salah, berlebihan, alay, dan kekanak-kanakan?
Sebagai orang yang juga mengalami masa-masa cinta monyet. Aku bisa bilang pada temanku bahwa maaf saja, walau aku ikut bersimpati atas kejadian yang kau alami. Menurutku kau tetap berlebihan hingga bertindak seperti itu. Aku tahu nyeseknya saat seseorang tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa alasan jelas, melakukan penghianatan dibelakangku, dan halhal sejenis yang bisa membuat patah hati. Tapi menangis tersedu-sedu untuk orang-orang tidak bertanggung jawab. Harusnya adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan.
Aku tahu kalau setiap orang berbeda-beda, termasuk kekuatan mereka dalam menghadapi situasi patah hati. Sayangnya aku waktu itu masih belum paham kenapa temanku bisa sangat histeris karenanya. Aku tidak bisa paham kenapa dia membahayakan kesehatan fisik dan mentalnya karena orang luar. Hingga di suatu waktu di tahun 2026, dimana aku telah mengalami banyak hal-hal baru yang tak terduga. Entah itu hal baru yang menyenangkan atau hal baru yang menyakitkan. Aku baru paham dan mulai bertanya.
Kenapa ya, patah hati terutama yang disebabkan oleh penghianatan. Rasanya sakit sekali sehingga tidak jarang ada yang sampai bunuh diri karenanya.
Sebagai fakta lucu saja sebelum lanjut. Aku masih belum bisa memaklumi tindakan menangisi mantan seperti temanku hingga hari ini. Dan juga aku pada akhirnya bisa memahami rasa sakit yang dialami temanku. Bukan karena akhirnya aku mengalami hal yang sama dengannya, yaitu diputusin mantan yang tidak bertanggung jawab.
Mungkin secara konteks penghianatan, kami mengalami hal yang kurang lebih sama. Secara effort pun, aku merasa pasti temanku waktu itu juga sama denganku. Yaitu all in demi hubungan yang kami anggap sangat berharga. Tapi tanpa merasa sombong, aku akan tetap bilang bahwa apa yang kami perjuangkan levelnya berbeda. Dia memperjuangkan hubungan yang secara logis bisa putus sepenuhnya karena suatu hal. Sedangkan aku memperjuangkan sesuatu yang tidak mungkin bisa putus hingga mati. Bahkan setelah patah hati yang sangat parah sekalipun tetap tidak bisa.
Tapi lagi-lagi karena aku disini berusaha mendapatkan jawaban secara logis, mengenai patah hati terlebih akibat penghianatan. Mari anggap kedua kasusnya sama, kami berdua patah hati, dan kami berdua dihianati. Jadi demi menjawab pertanyaan tersebut secara logis dan keilmuan ala sains. Aku akan berusaha sebaik mungkin membuang bias emosional, dan sepenuhnya berpegang pada data penelitian yang ada.
Menjembatani antara hal-hal umum yang kita ketahui dengan ilmu pengetahuan yang membuat pusing. Sebenarnya apakah nyeri emosional akibat patah hati itu benar-benar ada dan diakui secara keilmuan? Jawabannya adalah iya ada. Bahkan sepanjang sejarah ilmu kedokteran dan psikologi, yang berakar pada dualisme Cartesian. Realitasnya dibagi jadi res extensa (substansi material atau tubuh), dan res cogitans (substansi mental atau pikiran).
Masalahnya ilmu pengetahuan seringkali pilih kasih dengan asumsi bahwa kerusakan nyata pada tubuh. Adalah satu-satunya prasyarat yang valid, tentang merasakan rasa sakit yang sejati. Padahal berdasar dari pengalaman manusia sendiri, asumsi barusan telah ditantang secara radikal dengan terus-menerus menunjukkan. Bahwa situasi seperti penipuan romantis, perselingkuhan, atau penolakan sosial yang ekstrem. Seringkali memicu tingkat penderitaan yang melampaui batas toleransi manusia. Meskipun kita semua tahu bahwa tidak ada satupun jaringan anatomi yang robek, atau terluka secara mekanis.
Situasi yang konsisten menimbulkan paradoks tersebut, semakin memberikan tantangan mendalam. Dengan cara tidak sekedar menghasilkan emosi kesedihan saja, melainkan juga memicu gejala yang identik dengan trauma fisik. Misal seperti sensasi mual yang melumpuhkan, nyeri dada seolah terkena serangan jantung, kesulitan bernapas, hingga kelumpuhan lainnya. Dan yang lebih mengerikan, faktanya penderitaan yang dihasilkan oleh trauma non fisik dapat memicu kondisi psikiatris mematikan. Sebut saja seperti PTSD atau gangguan stress pascatrauma, hingga spektrum yang paling fatal seperti bunuh diri.
engan riset ini, secara pribadi aku akan berusaha membongkar paradoks nyeri tanpa luka fisik melalui sebuah investigasi multidisiplin. Walau aku mungkin tidak akan menghasilkan hasil maksimal, terutama di pilar-pilar keilmuan utama. Macam Neurobiologi (Yaitu untuk memetakan arsitektur otak dan tumpang tindih sirkuit nyeri), psikologi evolusioner (pemahaman terhadap nilai kelangsungan hidup dari ikatan sosial, dan harga dari pengucilan di era leluhur). Serta traumatologi klinis (untuk membedah kehancuran realitas kognitif dan patologi gaslighting) layaknya ahli di bidang ini.
Aku akan tetap berusaha semampuku membuat kita bisa melihat, bahwa otak manusia tidak pernah berevolusi untuk membedakan antara luka fisik dan luka sosial. Terutama karena evolusi manusia telah membajak sistem peringatan dini untuk bahaya fisik. Dan malah menggunakannya untuk memperingatkan diri terhadap bahaya isolasi sosial.
Selain itu akan coba kubahas juga mengenai step by step tentang bagaimana distres psikologis murni, diterjemahkan oleh batang otak dan sistem saraf otonom, menjadi disfungsi yang nyata. Seperti misalnya pada patofisiologi Kardiomiopati Takotsubo (sindrom patah hati) dan krisis saraf vagus.
Pada akhirnya kalau aku berhasil memahami, dan menyajikan topik ini dengan bahasa yang mudah dimengerti. Aku mungkin akan bisa menjelaskan mengapa keinginan untuk bunuh diri dalam konteks patah hati. Seringkali bukan berasal dari keinginan murni untuk mati. Melainkan berasal dari kalkulasi neurologis putus asa, demi memutus rasa nyeri yang tidak kunjung padam.
Posting Komentar