Kenapa Patah Hati Terutama yang Disebabkan Oleh Penghianatan, Rasanya Sakit Sekali Sehingga Tidak Jarang Ada yang Sampai Bunuh Diri Karenanya, Bagian 7

Daftar Isi

Kesimpulan

Berbagai laporan yang kubaca demi menjawab serealistis apa sebenarnya rasa sakit patah hati yang dialami temanku dan banyak orang lainnya. Rupanya malah dipertegas oleh banyak peneliti sebagai rasa sakit bilogis dan mematikan. Berakar pada temuan-temuan berbasis neurosains, biopsikologi evolusioner, dan traumatologi inter-relasional yang kubaca sebelumnya, rangkuman singkatnya adalah sebagai berikut.

Pertama, neuromorfologi nyeri keterikatan tidak membedakan lesi. Melalui pembahasan arsitektur komputasi dan penanda fMRI SPOT, dACC, serta yang terakhir adalah Anterior Insula. Kita mendapatkan gambaran skala penderitaan patah hati akibat penghianatan. Yaitu dianggap serupa selayaknya nyeri patah tulang pada umumnya. Karena otak berusaha memberontak pada penderitaan patah hati menggunakan bahasa penderitaan fisik.

Kedua, warisan ancaman eksistensial evolusioner. Homo sapiens yang disetujui kita sebagai leluhur, memiliki ketergantungan pada kelompok demi menghindari kepunahan. Social baseline theory membuktikan bahwa penghianatan merenggut rasa aman individu yang sebelumnya diberikan lewat keamanan kelompok. Isolasi mendadak ini diproses oleh saraf otonom sebagai serangan layaknya serangan fisik pada umumnya. Sehingga memicu gelombang stres defensif dan memberikan bayang-bayang kematian.

Ketiga, disorientasi kognitif dan destruksi memori. Melalui kehancuran teori asumsi dan betrayal trauma theory. Perselingkuhan jangka panjang yang disertai gaslighting dan penipuan tidak hanya mencederai hubungan. Tapi juga menghancurkan persepsi dan memori otobiografi masa lalu dari korban.

Keempat, kenapa trauma menjadi kegagalan organ. Melalui sumbu HPA, hipersekresi adrenalin memicu Kardiomiopati Takotsubo yang melumpuhkan apeks ventrikel jantung. Di batang otak, NTS dan sistem kontrol saraf vagus yang bereaksi berlebihan terhadap stimulus emosional. Dapat menyebabkan mual muntah serta rasa tercekik di ruang pernapasan.

Kelima, bunuh diri sebagai restorasi dan analgesik logis (psychache). Pada akhirnya keputusan fatal bunuh diri bukanlah aspirasi morbid kematian. Ia adalah bagian dari proses pemecahan masalah, yang bertujuan untuk membungkam alarm neurobiologis akibat penderitaan. Bahasan dari Bapak Shneidman dan Three step theory memvalidasi bahwa nyeri akibat sakit pikiran ini, menggerakkan insting bilogis yang putus asa.

Pada akhirnya efek dari penghianatan ikatan romantis dan sejenisnya, tidak dapat dan tidak boleh lagi dianggap sebagai sebuah kesedihan kecil yang harus dengan mudah dibereskan. Alasannya jelas karena ia adalah serangan neurobiologis radikal yang mempengaruhi struktur kognitif dasar, menyabotase organ fisiologis, dan memprovokasi kerusakan mental dengan tanda jejak setara luka fisik berat. 

Posting Komentar