Kenapa Israel Begitu Kebal Hukum Internasional Atas Tindakan Buruknya Bagian 3
Pilar 2: Start up nation sebagai mata uang urusan diplomasi.
Jika sebelumnya telah dibahas mengenai bagaimana Israel dilindungi oleh orang tuanya yang bernama AS. Bagian ini akan menjelaskan tentang Israel yang menciptakan nilainya sendiri. Demi memperkuat perlindungan sebelumnya dan membangun aliansi baru.
Di beberapa sumber ada yang menyebutkan kalau Israel itu tidak memiliki sumber daya alam. Tapi beberapa lainnya menyebut bahwa sebenarnya Israel punya sumber daya alam. Hanya saja sumber daya alam milik Israel sangat sedikit. Dalam hal ini setelah riset lebih dalam lagi, aku pada akhirnya merasa bahwa Israel sebenarnya punya sumber daya alam tradisional, seperti minyak dan gas. Cuman ya begitu, Israel sangatlah miskin jika dibandingkan dengan negara-negara tetangganya.
Karena mereka sadar diri bahwa memanfaatkan sumber daya alam tidak akan cukup. Israel memilih merekayasa sumber daya strategis mereka yang paling berharga di abad ini, yaitu teknologi.
Saat aku menyebutkan Israel menggunakan Start up nation di pilar 2. Secara singkat aku telah membeberkan mesin perekonomiannya Israel, yang lumayan bergantung pada teknologi. Hal ini dikarenakan dalam data saja, sektor teknologi tinggi (hi-tech) dilaporkan telah menyumbang 20% dari PDB Israel. Yang faktanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan AS dan Uni Eropa.
Dalam ekosistem teknologi tinggi, bagian keamanan siber adalah salah satu andalannya Israel. Buktinya Israel berhasil menarik sekitar 20% investasi global dari sektor tersebut. Kemudian menguasai sekitar 8% pasar global juga untuk bagian persolusiannya.
Melihat presentasenya yang termasuk besar di kancah internasional, tentu kita bisa memprediksi bahwa nominalnya pasti miliyaran dolar. Namun yang paling ngeri menurutku bukan hanya dari segi uang yang didapatkannya saja. Tapi pada ketahanan sektor ini sendiri, terhadap ketidakstabilan politik dan militer.
Salah satu data perang Israel tahun 2024 menunjukkan fenomena luar biasa terkait bidang teknologi ini. Jadi sementara ekonomi Israel secara keseluruhan menyusut 1,5%, sektor teknologinya justru tumbuh 2,2%. Data ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa permintaan global untuk teknologi Israel. Seperti teknologi siber, AI, dan fintech sangatlah tidak elastis.
Alasannya kenapa?
Alasannya karena negara-negara dan perusahaan multinasional tetap membutuhkan produk teknologi Israel. Yang seringkali penting untuk keamanan dan operasi mereka sendiri. Negara atau perusahaan pembeli teknologi tersebut, seringkali lebih peduli pada urusan mereka sendiri. Daripada resiko politik dari konflik yang sedang berlangsung. Sehingga situasi barusan membuat Israel telah berhasil membuat mesin ekonomi, yang kebal terhadap ketidakstabilan regionalnya.
Pertanyaannya kenapa negara atau perusahaan pembeli teknologi Israel sangat bergantung kepada Israel? Bukankah ada negara lain yang mengembangkan teknologi yang kurang lebih mirip dengan yang dibuat Israel.
Faktanya memang ada negara-negara selain Israel yang juga membuat alat pertahanan rudal dan sejenisnya. Masalahnya para pembeli teknologi perang ini, menginginkan bukti nyata terlebih dahulu sebelum yakin check out. Ini sama seperti banyak penjual madu yang promosi bahwa madunya asli. Mereka saling bilang bahwa madunya asli dengan bukti seperti, menguji madu dengan air sehingga berbentuk segi enamlah. Bilang madu asli tidak disukai semutlah, tidak membekulah, dan lain sebagainya.
Bukti-bukti semacam ini memang sekilas meyakinkan, namun bagian bumerangnya. Pembeli yang bisa melihat bukti tidak semuanya paham apakah itu memang valid buktinya atau tidak. Nah Israel, alih-alih ikutan memberikan bukti yang sama. Kemudian hanya keras-kerasan promosi dibanding lainnya. Metode promosi mereka adalah membawa kotak rumah lebahnya, ke toko bersama lebah-lebahnya yang jaga madu. Kemudian tidak lupa juga mereka membawa laboratorium penguji dan ahli pengujinya sekalian.
Dengan begitu, konsumen tidak hanya tahu waktu madunya dipanen langsung dari tempat lebah, yang harusnya jelas itu konfirmasi madu asli. Konsumen juga diperlihatkan pengujian lanjutan di laboratorium dengan ahlinya.
Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, konsumen yang bisa melihat sendiri kepastian didepan matanya. Sudah pasti hampir 100 persen langsung beli produk tersebut tanpa memikirkan hal lain. Apalagi jika ada pembeli yang salah satu anggota keluarganya sangat butuh madu. Pembeli tersebut bisa dipastikan akan langsung membelinya. Walau sebelum membeli madu, si pembeli tahu fakta bahwa. Israel telah mengorbankan banyak orang Palestina dalam pekerjaan lapangannya. Termasuk riset uji coba awal di lapanga,n yang mengorbankan banyak orang Palestina karena tersengat lebah.
Jadi dalam konteks nyata, bagaimana sebenarnya Israel mengorbankan orang-orang Palestina demi usaha teknologi perangnya ini?
Jawabannya adalah konsep keji yang bernama Laboratorium Palestina. Israel menganggap demonstrasi drone, teknologi pengawasan, dan spyware. Yang klaimnya adalah demi memerangi Hamas, padahal faktanya membunuh rakyat sipil Palestina. Merupakan aset ekspor karena membuat teknologi perang buatannya teruji di lingkungan berisiko tinggi.
Sehingga saat negara-negara Barat macam Prancis, Inggris, atau Kanada membutuhkan solusi teknologi perang paling canggih. Mungkin mereka memang bisa membuatnya sendiri mengingat kemajuan teknologinya yang pesat. Namun saat kepentingan tersebut dibenturkan dengan kemanan nasional yang genting. Yang tidak hanya menekankan pada spesifikasi canggih, melainkan perlu juga keterujian perangkat di dunia nyata. Mereka mau tidak mau harus impor ke Israel, tidak peduli Israel adalah pelaku genosida.
Efek samping dari ketergantungan ini bagi NATO dan AS, mereka jadi sulit sekali menjatuhkan sanksi pada Israel. Karena mau bagaimanapun, NATO dan AS tidak mungkin menjatuhkan sanksi pada kebutuhan pertahanan mereka sendiri.
Menyelami lebih dalam kekuatan diplomatik teknologi Israel, rupanya ditemukan 2 jenis tipe ekspornya. Pertama ekspor hard power (intelijen/ spyware), dan kedua ekspor soft power (teknologi pertanian).
Dalam ekspor hard power yang juga sudah dijelaskan beberapa sebelumnya, rupanya teknologi pengawasan Israel lah yang paling terkenal. Sebut saja spyware Pegasus dari NSO Group, yang telah bertranformasi jadi alat tawar menawar diplomatik yang kuat. Serta bertindak secara efektif sebagai lengan negara Israel. Buktinya pada tahun 2017, disaat Israel dan Arab Saudi belum memiliki hubungan diplomatik formal. Pemerintah Israel mengizinkan kesepakatan rahasia terkait penjualan Pegasus ke Arab Saudi. Selain itu teknologi tersebut juga diekspor ke negara-negara di seluruh Afrika dan Eropa.
Ironisnya dalam beberapa bukti lapangan, teknologi Pegasus ini malah sering digunakan pemerintah beberapa negara pembeli untuk menargetkan lawan politik, jurnalis, dan aktivis HAM. Walaupun memang cukup kontroversial, bagi Israel selama ekspor tersebut bisa menciptakan aliansi rahasia yang kuat. Terutama dengan negara atau badan yang memprioritaskan keamanan domestik diatas segalanya. Israel bisa dianggap berhasil membangun saluran belakang diplomatik, yang sepenuhnya terpisah dari isu perdamaian Palestina.
Beralih ke soft power, Israel memiliki teknologi pertanian yang mengubah kelangkaan air dan lahan gurunnya, menjadi metode pertanian yang maju. Dan mereka mengekspor keahlian teknologi pertanian majunya tersebut ke negara lain.
Mereka literally mengubah masalah jadi peluang, kemudian menggandakan peluang tersebut jadi 2 kali lipat.
Dalam prakteknya diplomasi ini ternyata terbukti sangat efektif di India dan Afrika. Misalnya saja di India, mereka mendirikan 29 pusat keunggulan (Center of Excellence). Pusat-pusat ini jadi tempat transfer teknologi cepat dalam irigasi tetes, manajemen air, dan varietas tanaman yang tahan banting. Bagi negara seperti India yang diketahui 60% populasinya bergantung pada pertanian. Hubungan dengan Israel adalah keuntungan nyata, karena menyangkut ketahanan pangan dan manajemen air.
Pada akhirnya dengan 2 model ekspor tersebut Israel berhasil meyakinkan sebagian negaranegara Afrika, Timur Tengah, hingga India. Bahwa kerja sama dengan Israel lebih menguntungkan dibanding memusuhinya secara penuh, hanya karena isu eksternal macam isu Palestina.
Puncak dari kekuatan diplomasi teknologi Israel, yang menurutku secara pribadi paling ironis adalah kesepakatan Abraham (Abraham Accords). Kesepakatan Abraham bisa didefinisikan sebagai serangkaian kesepakatan bersejarah, yang ditengahi oleh pihak AS. Pertanyaannya kesepakatan apakah yang ditengahi AS tersebut? Jawabannya adalah kesepakatan untuk menormalisasi hubungan diplomatik, ekonomi, dan keamanan antara Israel dan negaranegara teluk.
Ada hal yang menggelitik rasa penasaranku mengenai ini saat pertama kali membacanya. Maksudku, kan Israel dan negara-negara teluk ini sangat berseberangan apalagi kalau terkait isu Palestina. Tapi kenapa mereka setuju untuk saling bersepakat dengan Israel? Mereka takut AS, ya.
Jadi rupanya walau dimediasi AS, sumber yang kubaca menonjolkan bahwa kesepakatan ini didasari pada kepentingan bersama. Yaitu keprihatinan bersama tentang pengaruh regional Iran. Dengan dalih dan kambing hitam Iran, mereka tidak hanya menormalkan hubungan diplomatik dengan Israel. Namun mereka juga segera jadi pembeli utama teknologi Israel. UEA, Bahrain, dan termasuk juga Maroko. Mereka semua membeli senjata, drone, dan teknologi siber Israel selain menandatangani perjanjian keamanan.
Dengan begitu, secara efektif negara-negara teluk dan Maroko ini jelas telah menukar dukungan historis mereka terhadap Palestina. Mereka merasa punya sesuatu yang lebih berharga, yaitu akses persenjataan dan intelijen canggih Israel. Dari sudut pandang Israel sendiri, ini menunjukkan keberhasilan strateginya dalam memecah arab. Serta menormalkan posisinya di kawasan itu atas dasar kepentingan strategis bersama. Dan bukan penyelesaian konflik dengan Palestina.
Posting Komentar