Kenapa Israel Begitu Kebal Hukum Internasional Atas Tindakan Buruknya Bagian 6
Pilar 5: Peran narasi sejarah dan diplomasi publik
Sebagai pilar terakhir dan penutup, pilar yang menganalisis fondasi ideologis dan historis inilah, yang menopang dukungan politik dan strategis Israel di Barat. Awalnya aku pikir, aku akan mengetik hampir semuanya tentang sejarah diperlakukannya orang Yahudi pada perang dunia 2. Dan walaupun memang pada pilar 5 ini masalah itu akan ikut dibahas. Rupanya tidak hanya itu saja, karena sebelumnya. Ada juga topik mengenai narasi bahwa Israel adalah satu-satunya demokrasi di Timur Tengah.
Secara historis, narasi tersebut sangat penting karena jadi penopang utama dalam hubungan istimewa antara AS dan Israel. Pertanyaanya kenapa? Jawaban adalah karena nilai-nilai bersama. Bagi AS, Israel adlah pos terdepan demokrasi di tengah wilayah yang didominasi oleh otokrasi (kerajaan, oligarki, otoriter, dll).
Ini pendapatku pribadi ya dan tak tertulis di sumber manapun. Menurutku narasi ini jelas sekali dibuat-buat, demi mengikat tali persaudaraan karena suatu kepentingan. Maksudku ini seperti misalnya aku punya teman sesama muslim bernama A. Nah A ini kebetulan gelut dengan B yang beragama Kristen. Saat aku tahu A dan B gelut aku tentunya perlu tahu apa permasalahannya. Ternyata alasan kenapa mereka gelut adalah karena A, yang sama-sama denganku beragama Islam, dan yang bisa dianggap saudaraku dalam Islam. Berusaha merebut rumah dari si B, bermodalkan karena dia pengen rumah itu.
Kalau logika AS ini kupakai, tentu niat temanku yaitu si A akan kudukung. Karena yah, si A adalah temanku dan sesama Islam. Tapi pertanyaannya, benarkah justifikasi logika sesama ini dalam prakteknya?
Ya tentu saja tidak! Lha wong ada orang tiba-tiba mau klaim rumah orang lain tanpa alasan kuat. Masa harus kudukung hanya karena dia temanku dan agamanya sama denganku. Kan seenaknya sendiri itu namanya. Yang ada alih-alih membantu si A, aku malah bantu si B dengan lapor polisi karena ada orang gila.
Kembali ke masalah nilai-nilai bersama, rupanya Israel pun mendapat tantangan yang berat seperti permisalanku sebelumnya. Para kritikus berpendapat bahwa narasi ini sengaja dibuat, demi mengabaikan pendudukan militer selama puluhan tahun di Tepi Barat dan Gaza. Bahkan beberapa analis berpendapat narasi tersebut tidak tepat, karena Israel lebih tepat digambarkan sebagai etnokrasi. Atau demokrasi untuk 1 kelompok etnis.
Dalam publik AS sendiri, terungkap terjadinya perpecahan besar antara persepsi publik dan kebijakan elite. Ini terjadi setelah sebuah jajak pendapat yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh orang AS, tidak tahu apakah Israel adalah negara demokrasi.
Perpecahan ini lebih tajam diantara generasi muda Demokrat, yang tetap tidak tergerak dalam skeptisisme mereka bahkan setelah serangan 7 Oktober. Sehingga ini membuat kemungkinan bahwa kebijakan luar negeri Israel, sangat bergantung pada momentum para elite dan kekuatan lobi di pilar 3.
Beralih dari AS, aku sekarang akan menyentuh topik yang sesuai ekspektasiku diawal. Yaitu tanggung jawab historis Jerman kepada Israel. Jadi kita yang membaca sejarah perang dunia 2 tahu, kalau Jerman yang saat itu dipimpin oleh kanselir kumis kotak. Melakukan pembantaian terhadap orang Yahudi hingga muncul istilah genosida Holocaust. Maka dari itu sebagai bentuk tanggung jawab, Jerman berkomitmen atas masalah ini melalui konsep Staatsrason (Alasan Negara).
Salah satu contoh yang bisa kuberikan adalah pada jaman Kanselir Angela Merkel tahun 2008. Keamanan Israel telah dinyatakan sebagai bagian dari raison d’etre negara Jerman. Kebijakan ini memiliki dampak kebijakan yang nyata diantaranya.
Pertama, Jerman jadi pemasok senjata terbesar kedua bagi Israel. Dengan menyumbang 30% dari impor senjata Israel antara 2019 hingga 2023.. Impornya ini termasuk perangkat keras militer canggih macam korvet kelas Saar 6, mesin tank Merkava, dan amunisi.
Kedua, Jerman secara efektif berfungsi sebagai veto dalam Uni Eropa. Maksudnya Jerman konsisten menghalangi segala tindak-tanduk Uni Eropa, dalam tujuan memberikan sanksi terhadap Israel.
Ketiga, Jerman secara resmi melakukan intervensi di pengadilan internasional (ICJ). Demi membela Israel dari tuduhan genosida.
Dalam praktiknya, para kritikus berpendapat bahwa Jerman memberikan perisai diplomatik yang sama dengan AS. Konsep Staatsrason mereka dianggap berevolusi dari untuk keberadaan Israel. Menjadi dukungan tanpa syarat untuk pemerintah sayap kanan Israel. Jerman disebut mengabaikan pelanggaran Israel, sekaligus merusak klaim kebijakan luar negeri berbasis nilai milik mereka sendiri.
Selain mengendalikan narasi di AS dan Jerman, Israel menggunakan aparatus diplomasi publik canggih mereka sendiri yang disebut Hasbara (menjelaskan). Tujuan pembentukannya jelas demi membentuk persepsi global dan mengendalikan narasi. Dalam beberapa dekade terakhir saja, operasi digital canggih mereka mulai melibatkan unit militer dan sipil, penggunaan identitas palsu, hingga manipulasi algoritma mesin pencari. Hasilnya Hasbara berhasil secara signifikan meningkatkan biaya politik dan sosial untuk mengkritik Israel. Yang mana di negara-negara seperti Jerman, mengkritik Israel bisa mempertaruhkan karir.
Posting Komentar