Kenapa Israel Begitu Kebal Hukum Internasional Atas Tindakan Buruknya Bagian 5
Pilar 4: Analisis komparatif standar ganda antara Rusia dan Israel
Kita tahu kalau di tahun 2022 lewat berita yang beredar, Rusia menyerang Ukraina secara militer. Entahlah alasannya tentang Neo Nazi lah, NATO lah, dan apalah itu. Pokoknya Rusia menyerang Ukraina, sehingga katanya berhasil memerdekakan beberapa daerah dekat perbatasan. Disisi lain ada Israel yang menyerang Palestina. Entah itu di jalur Gaza atau di Tepi Barat. Israel pokoknya terus menyerang Palestina bahkan sejak sebelum Rusia menyerang Ukraina.
Dari 2 kasus pengerahan militer tersebut, terlepas dari apapun alasannya. Kita orang-orang yang tahunya kebanyakan dari berita, hingga mereka orang-orang elit. Tahu dan sependapat mengenai apa yang sebenarnya dilakukan Rusia dan Israel. Yaitu mereka sama-sama melakukan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Pertanyaannya sekarang, kenapa Rusia dan Israel mendapatkan nasib yang berbeda. Padahal tuduhan kejahatan mereka sama?
Dalam kasus Rusia, setidaknya setelah Rusia menyerang Ukraina. Badan-badan internasional seperti IOC dan FIFA segera membanned Rusia. Mereka menganggap bahwa Rusia telah melakukan pelanggaran gencatan senjata olimpiade. Dan Rusia melanggar prinsip-prinsip Piagam Olimpiade. Ini belum menghitung soal pembekuan aset internasional Rusia di luar negeri, dan beberapa pembatasan ketat lainnya. Demi meruntuhkan Rusia sang penjahat dunia yang menyerang Ukraina.
Sedangkan Israel? Mereka membunuh banyak orang di Gaza seenak jidat mereka, aneksasi badan-badan olahraga Palestina, dan menjatuhkan bom di pemukiman-pemukiman sipil Palestina. Dan apakah setidaknya terjadi gencatan senjata selama olimpiade? Jawabannya enggak. Mereka tetap mengisi peluru dan bom mereka untuk menyasar Palestina.
Mengetahui hal tersebut, alih-alih membekukan aset Israel, embargo, dan pencekikan ekonomi lainnya macam Rusia. Badan-badan internasional macam IOC dan FIFA bahkan tidak menghasilkan tindakan apapun.
Analisis terhadap perbedaan perlakuan ini menyimpulkan bahwa badan-badan internasional tersebut. Condong ke sudut pandang Barat-sentris. Yang diakui secara luas dalam diplomasi internasional sebagai kemunafikan nasional yang mencolok, atau yang sering kita semua sebut sebagai standar ganda.
Menjelaskan standar ganda yang digunakan oleh hagemoni barat ini, rupanya bisa diperhatikan lewat status geopolitik. Rusia didefinisikan sebagai musuh strategis utama AS dan NATO. Jadinya penyerangan Rusia ke Ukraina, mengancam tatanan berbasis aturan Eropa yang dipimpin AS. Oleh karena itu, sanksi ekonomi besar-besaran adalah langkah logis demi melemahkan, mengisolasi, dan menghukum musuh ini.
Sementara itu Israel bagi AS adalah mitra strategis utama. Keamanannya dianggap sebagai kebijakan inti AS di Timur Tengah. Dari sini kita mendapatkan pencerahan berupa, ternyata di tingkat internasional pun. Sanksi jarang diterapkan sebagai alat keadilan dan moral. Sanksi lebih seperti kebijakan luar negeri yang digunakan negara kuat. Demi menghukum musuh atau melindungi sekutu berharga mereka. Rusia dikenai sanksi karena ia adalah Rusia, sang musuh strategis yang menantang tatanan AS. Israel dilindungi karena dia Israel, sang mitra strategis yang penting bagi tatanan AS.
Tidak peduli seberapa banyak kejahatan perang yang dilakukan Israel. Selama Israel masuk tatanan AS, mereka hampir pasti sangat aman. Disisi lain tidak peduli seberapa peduli Rusia terhadap Palestina, atau terhadap ancaman NAZI yang baru. Mereka sudah pasti jadi target hukuman AS karena Rusia punya rekam jejak selalu menentang AS.
Perbedaan pandangan antara aliansi dan musuh ini berlanjut pada pembingkaian naratif. Seperti misalnya tindakan Rusia dianggap sebagai agresi murni. Rusia melakukan invasi ilegal dan tak beralasan ke negara berdaulat. Disisi lain Israel, tindakan mereka dianggap sebagai pertahanan diri melawan teroris (Hamas). Tidak peduli tindakannya mengakibatkan korban sipil yang sangat besar. Tindakaan Israel secara retoris disamakan dengan kampanye Barat melawan kelompok seperti, ISIS dan al-Qaeda.
Sedikit menyinggung pilar-pilar sebelumnya, karena Israel sangat terintegrasi dengan ekonomi dan sistem keamanan Barat. Kebijakan Barat tidak pernah bisa dilakukan untuk mengisolasi Israel. Eropa sekali lagi tidak dapat menajatuhkan sanksi pada kebutuhan pertahanannya sendiri. Bandingkan dengan Rusia, sejak dulu mereka adalah musuh AS. Mesngisolasi mereka dari sistem keuangan dan teknologi global dianggap masih strategis. Walau punya dampak negatif bagi Eropa misalnya soal pasokan energi.
Posting Komentar