Kenapa Teman yang Berhutang Seringkali Tidak Mau Bayar, Bagian 6
Sosiologi Hutang: Norma Sosial vs Norma Pasar
Norma sosial yang meliputi hubungan antar teman, dan norma pasar yang mencakup transaksi keuangan. Beroperasi dibawah 2 seperangkat aturan yang berbeda. Karena itu mencampuradukkan kedua norma ini sering dianggap sebagai resep untuk konflik psikologis.
Menurut penelitian yang dilakukan Ashley Angulo yang menyoroti fenomena hak pengawasan. Dalam norma atau hubungan pasar, bank tidak peduli nasabahnya beli barang mahal asal cicilannya lancar. Namun dalam norma sosial, yang dalam hal ini adalah pinjaman antar teman. Pemberi pinjaman merasa memiliki hak moral, untuk mengawasi bagaimana uang mereka digunakan.
Jika peminjam terlihat melakukan konsumsi seperti makan enak, update status liburan, hingga beli mobil atau motor baru sementara hutang belum lunas. Pemberi pinjaman merasa marah dan dikhianati. Pemberi pinjaman menganggap peminjam telah melanggar kontrak, bahwa pinjaman dari mereka harus dihargai dengan penghematan. Toh kebanyakan peminjam juga melakukan hutang antar teman dengan alasan kepepet. Jadi mereka berharap kalau pinjaman itu, akan digunakan dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaksananya uang tersebut harusnya digunakan.
Masalahnya dari sisi peminjam, perilaku pengawasan ini dinilai melanggar privasi. Mereka merasa bahwa setelah uang berhasil dipinjam, itu sudah jadi hak mereka untuk mengelolanya. Entah benar mau digunakan sebagai modal atau beli smartphone baru, bagi peminjam itu bukan menjadi urusan dari si pemberi pinjaman.
Karena kesenjangan ekspektasi dari kedua pihak menciptakan gesekan yang sulit diselesaikan. Peminjam yang merasa dimata-matai, akan cenderung semakin menghindar untuk melepaskan diri dari tatapan atau ucapan menghakimi dari si pemberi pinjaman.
Selain kesenjangan ekspektasi, prinsip dalam manajemen hutang yang disebut “Roda yang berdecit paling keraslah yang mendapat minyak” sering sangat berpengaruh. Misalnya saat A pinjam di bank atau pinjol, lembaga itu menggunakan sistem penagihan otomatis. Alih-alih hanya marah, mereka punya senjata berupa denda finansial, teror telepon, penyitaan aset, hingga ancaman nyata terhadap skor kredit.
Bandingkan dengan pinjaman informal atau antar teman. Teman biasanya menagih hutang dengan rasa sungkan, diam, menyindir halus, atau lebih lanjut marah. Sanksinya hanya rasa bersalah tidak seperti bank sebelumnya. Mengesampingkan kasus orang membunuh karena hutangnya tidak dibayar. Pinjaman informal dalam kasus kebanyakan, memang sanksinya hanya rasa bersalah yang bisa ditekan dengan disonansi kognitif.
Dalam situasi si peminjam punya 2 jenis hutang yaitu dari bank dan teman. Peminjam yang dompetnya sudah tipis selalu lebih memprioritaskan bank dibanding pinjaman dari teman. Peminjam disini secara rasional berpikir bahwa membayar hutang di bank berarti memadamkan api yang paling panas dan darurat. Sementara hutang teman karena sifatnya yang fleksibel, secara konsisten prioritasnya terus digeser ke posisi terbawah dalam hierarki pembayaran. Peminjam terus menggunakan mantra “Teman bisa mengerti, sementara sistem bank tidak bisa.” Untuk menggeser prioritas pembayaran sehingga menciptakan prinsip (The squeaky wheel gets the grease) atau roda yang berdecit paling keraslah yang mendapat minyak.
Posting Komentar