Kenapa Teman yang Berhutang Seringkali Tidak Mau Bayar, Bagian 7

Daftar Isi

Analisis Konteks Budaya Indonesia dan Hutang Budi

Masuk ke bagian terakhir dari penjelasan psikologi mengapa teman enggan membayar hutang. Dapat diketahui ternyata hal tersebut sangat diwarnai juga oleh konteks budaya lokal. Disini di Indonesia, nilai -nilai seperti gotong royong, sungkan, dan konsep kekeluargaan. Selain sebagai jaring pengaman sosial, rupanya nilai-nilai tersebut ikut bertindak sebagai hambatan pelunasan hutang.

Mari ambil 1 saja dulu nilai-nilai yang disebutkan diatas demi penjelasan lebih lanjut, misalnya sungkan. Dari sisi pemberi pinjaman, rasa sungkan membuat teman enggan menagih secara tegas. Sungkan membuat kegiatan menagih hutang jadi tabu, kasar, atau pamrih yang bisa merusak citra sosial sebagai orang baik. Sehingga tidak jarang karena sungkan barusan, peminjam salah mengartikannya sebagai kelonggaran waktu.

Kemudian beralih ke sisi peminjam. Sungkan ini juga mempengaruhi peminjam dalam upaya membayar hutang. Penjelasannya peminjam sering merasa malu atau sungkan, menemui pemberi pinjaman jika belum membawa uang. Karena rasa sungkan membawa budaya mementingkan wajah dan harga diri. Maka mengakui ketidakmampuan bayar secara tatap muka dianggap sebagai aib yang besar.

Dan karena merasa itu adalah aib yang besar, sungkan memfasilitasi perilaku penghindaran. Peminjam lebih memilih memutus komunikasi, daripada harus berhadapan dengan rasa malu dan merusak harmoni sesaat. Peminjam merasa menghindar adalah strategi menyelamatkan muka, padahal sejatinya itu menghancurkan kepercayaan jangka panjang.

Selain sungkan, budaya gotong royong pun bisa jadi rumit. Karena dalam budaya tersebut batas antara bantuan sosial dan transaksi komersial sangat kabur. Ketika transaksi dibingkai sebagai hutang antar teman atau saudara. Peminjam seringkali secara sepihak mengkonversi hutang uang jadi hutang budi. Karena sudah dianggap hutang budi, maka sifat pelunasannya jadi tidak pasti. Peminjam mungkin membayarnya dengan loyalitas, jasa, dukungan emosional, atau bantuan balik di masa depan yang tidak ditentukan waktunya. Padahal pemberi pinjaman masih terus berharap uangnya dikembalikan. Kasus semacam ini sering disebut sebagai bentuk moral alchemy (alkimia moral) dimana kewajiban finansial yang keras, diubah menjadi kewajiban sosial yang lunak. 

Posting Komentar