Kenapa Teman yang Berhutang Seringkali Tidak Mau Bayar, Bagian 5
Dinamika Emosi dan Pertahanan Ego Dari Rasa Malu Jadi Agresi
Hal yang membingungkan bagi pemberi pinjaman antar teman, tidak jauh-jauh dari perubahan sikap peminjam. Misalnya nih berdasarkan pengalaman, peminjam akan menjadi defensif, menghindar, atau bahkan agresif saat ditagih. Pertanyaannya kenapa orang seperti itu malah memusuhi teman yang jadi penolongnya? Jawabannya terletak pada mekanisme pertahanan ego yang kompleks.
Ketika seseorang merasa kebebasannya terancam, mereka mengalami reaktansi. Yaitu suatu keadaan motivasional yang memicu perlawanan untuk memulihkan kebebasan tersebut. Dalam konteks hutang informal atau hutang antar teman. Peminjam yang telah mengalami efek kepemilikan, merasa uang di dompetnya adalah miliknya dan berada dibawah kendalinya. Sehingga meskipun tindakan penagihan dilakukan dengan sopan oleh teman. Otak peminjam justru merasakan ancaman terhadap otonomi keuangannya.
Menghadapi ancaman barusan, reaksi spontannya adalah perlawanan (resistance). Bentuk perlawanannya mungkin dengan sengaja menunda pembayaran, atau yang paling kubenci adalah bersikap ketus. Peminjam seolah-olah bilang kepada pemberi pinjaman seperti ini “Aku yang pegang kendali disini, bukan kau. Aku akan bayar kalau aku mau.”
Secara sekilas sikap ini sangat menjengkelkan dan tidak terpuji. Namun jika kita melihatnya dari kaca mata teori reaktansi, sikap agresi dan penundaan sebelumnya rupanya adalah alat untuk memulihkan rasa otonomi diri peminjam yang telah tercederai.
Pertanyaannya kenapa tercederai hingga harus melakukan perlawanan yang seperti itu?
Perlu diketahui bahwa sebenarnya peminjam sendiri sangat mengerti, bahwa kegagalan membayar hutang adalah pukulan telak bagi harga dirinya. Ini memicu rasa malu yang merupakan emosi menyakitkan dan merusak diri, karena berkaitan dengan penilaian negatif terhadap inti diri. Sekilas memang mirip dengan rasa bersalah yang berfokus pada tindakan. Namun jika rasa bersalah ini memotivasi perbaikan. Rasa malu berbeda, perasaan malu lebih berat kearah keinginan bersembunyi atau menghilang.
Namun jika rasa malu tersebut terlalu menyakitkan untuk ditanggung, maka mekanisme pertahanan ego akan mengambil alih. Dan seringkali mengubahnya menjadi kemarahan yang diarahkan keluar, yang disebut sebagai siklus Shame-Rage. Penyederhanaan untuk istilah ini, yaitu demi menghindari perasaan rendah diri saat ditagih. Peminjam secara tidak sadar akan menyerang pemberi pinjaman seperti ini.
Pertama, dengan proyeksi. Maksudnya menuduh pemberi pinjaman pelit untuk menutupi ketidakmampuan diri. Contohnya, “Kok kamu perhitungan banget sama teman sendiri!”. Kedua, dengan pengalihan isu. Yaitu memposisikan diri sebagai korban dan penagih sebagai penindas. Contohnya, “Sabar dong, jangan menekan orang yang lagi susah. Nggak punya perasaan amat!”
Jadi intinya dengan cara marah, peminjam mengalihkan fokus dari kegagalan finansial mereka sendiri menjadi kegagalan moral dari si penagih. Kemarahan berfungsi sebagai tameng pelindung ego dari rasa malu yang menghancurkan.
Menuju pembahasan terakhir di bagian 5 ini, mari kembali ke sikap peminjam saat akan menerima uang pinjaman. Yaitu peminjam merasa di masa depan ia akan lebih kaya, dan lebih disiplin saat membayar hutang. Fakta bahwa mereka wanprestasi atau gagal bayar, menciptakan disonansi kognitif. Disonansi kognitif adalah ketegangan mental akibat ketidaksesuaian antara keyakinan dan perilaku nyata.
Dan karena mereka tidak bisa mengubah perilaku, tidak bisa membayar hutang karena tidak ada uang. Mereka terpaksa mengubah keyakinan demi meredakan ketegangan tersebut. Caranya mereka akan membuat narasi-narasi pembenaran seperti, “Ah, dia orang kaya. Uang segitu mah tidak berarti untuknya. Atau “Teman pasti lebih paham lah dibanding bank yang tidak tahu situasi”. Atau “Toh dulu aku sudah pernah membantunya waktu di Jakarta, jadi dengan hutang ini harusnya kami impas.”
Proses-proses pembenaran sepihak seperti diatas, memungkinkan peminjam untuk tetap merasa baik meskipun tidak membayar hutang. Ini juga membawa kita ke bagian paling akhir dari pembahasan ini. Yaitu ternyata agresi atau perlawanan terhadap penagih, adalah manifestasi eksternal dari upaya internal, demi meyakinkan narasi bahwa penagihanlah yang salah. Bukan penundaan pembayarannya.
Posting Komentar