Kenapa Teman yang Berhutang Seringkali Tidak Mau Bayar, Bagian 4
Dimensi Waktu: Hyperbolic Discounting dan Depresiasi Pembayaran
Waktu adalah variabel sangat penting dalam psikologi hutang. Ini dikarenakan perbedaan persepsi nilai antara masa kini dan masa depan. Menciptakan bias perilaku yang konsisten merugikan pemberi pinjaman. Untuk menjelaskan hal tersebut digunakanlah Hyperbolic Discounting oleh ekonomi perilaku.
Penjelasan konteksnya seperti ini. Saat meminjam, bisa dirumuskan bahwa (T=0). Artinya ukuran tingkat kepuasan dari menerima uang tunai sekarang, lagi sangat tinggi. Singkatnya peminjam sangat termotivasi mendapatkan uang pinjaman tersebut. Bersamaan dengan motivasi yang muncul, janji untuk membayar (T=1) terasa ringan juga keluar dari mulut karena rencana diri di masa depan. Rencana masa depan yang dibayangkan adalah si peminjam pasti membayarnya, karena telah jadi sosok yang lebih disiplin, lebih kaya, dan lebih teratur.
Saat tiba masanya jatuh tempo (T=1), masa depan menjadi masa kini. Peminjam yang sebelumnya merasa bahwa sekarang akan jadi lebih kaya. Nyatanya tetap memprioritaskan kepuasan saat ini entah apapun alasannya. Akibatnya muncullah persepsi bahwa membayar hutang berarti mengurangi konsumsi saat ini. Karena bias masa kini yang sebelumnya adalah masa depan tersebut. Rasa sakit membayar selalu terasa lebih berat daripada manfaat abstrak menjaga reputasi sosial di masa depan.
Penelitian Laibson tahun 1997 menunjukkan bahwa banyak peminjam sangat naif. Mereka salah memprediksi dengan cara percaya bahwa bulan depan, mereka akan punya uang sisa. Padahal di bulan depan pun, mereka akan menghadapi godaan-godaan konsumsi yang sama seperti bulan ini. Dengan siklus yang terus berulang, peminjam selalu berencana membayar nanti. Namun kata nanti tersebut tidak akan pernah tiba, karena bias yang selalu menggeser prioritas ke konsumsi saat ini.
Selanjutnya ada fenomena psikologis yang disebut sebagai depresiasi pembayaran. Penjelasan dari istilah ini adalah sebagai berikut. Dalam transaksi normal dan tunai, pembayaran dan konsumsi terjadi di waktu bersamaan (coupling) sehingga biaya dan manfaat saling menetralkan. Namun pinjaman memisahkan kedua peristiwa tersebut (decouple). Pada saat peminjam menggunakan uang pinjaman untuk membeli barang atau pengalaman. Kebahagiaan dirasakan maksimal saat itu. Misalnya untuk liburan, beli smartphone mahal, atau biaya nikah.
Seiring waktu, euforia konsumsinya memudar dan barang jadi usang. Misalnya liburan sebelumnya sekarang tinggal kenangan, dan smartphone yang diawal beli termasuk model terbaru sekarang mulai tertinggal. Ketika semua kesenangan sebelumnya semakin tidak relevan, tagihan pun datang. Peminjam sekarang diminta membayar untuk sesuatu yang manfaatnya sudah berkurang, atau bisa kita sebut sudah terdepresiasi secara mental.
Kondisi ini sering dianalogikan sebagai paying for a dead horse atau membayar untuk kuda mati. Akibatnya peminjam merasa transaksi tersebut tidak adil dan merasa dirinya merugi. Rasa rugi inilah yang menghambat motivasi pelunasan secara signifikan, terutama pada hutang-hutang lama.
Posting Komentar