Kenapa Teman yang Berhutang Seringkali Tidak Mau Bayar, Bagian 3
Akuntansi Mental (Mental Accounting) : Segregasi Dana dan Ilusi Kekayaan
Demi memahami situasi tidak masuk akal dalam pengelolaan hutang informal, Richard Thaler memperkenalkan konsep Mental Accounting. Teorinya menjelaskan bahwa setiap individu sering tidak memperlakukan uang sebagai sumber daya yang fungibel. Maksudnya adalah setiap unit uang memiliki nilai dan fungsi yang sama. Mereka lebih sering mengkategorikannya kedalam rekening mental yang berbeda-beda, berdasarkan sumber perolehan dana tujuan penggunaannya.
Oleh karenanya salah satu akar masalah terbesar dalam pinjamn antar teman adalah kesalahan klasifikasi mental pada saat dana diterima. Ditambah dengan tidak adanya formalitas bank atau dokumen legal pengikat. Otak peminjam sering kali gagal mengkategorikan dana masuk ini kedalam akun mental hutang. Atau bisa dianggap juga akun yang membawa beban kewajiban di masa depan.
Kalau tidak dianggap sebagai uang hutang, lantas uang tersebut dianggap apa dan masuk akun mental yang mana?
Jawabannya adalah seringkali uang tersebut masuk kedalam akun mental pendapatan tambahan, atau bahkan semacam rejeki nomplok atau uang kaget. Karena masuk akun mental ini, masalahnya kembali jadi lebih ribet dari sebelumnya. Kenapa?
Karena menurut penelitian, uang yang dikategorikan sebagai rejeki nomplok atau pendapatan tambahan. Memiliki kecenderungan untuk dikonsumsi lebih tinggi, dibandingkan uang yang dikategorikan sebagai pendapatan rutin hasil kerja keras. Jadinya uang hutang yang sebelumnya didapat demi modal usaha atau memperbaiki rumah. Sekarang berubah jadi uang senang-senang yang boleh dihabiskan untuk konsumsi impulsif dan gaya hidup mahal.
Akibatnya uang pinjaman dari teman sering habis dengan cepat untuk hal-hal yang tidak berguna. Masalah muncul saat uang habis dan teman mulai menagih. Dan karena akun mental pinjaman teman kini saldonya nol tanpa menciptakan aset yang memberikan pendapatan. Peminjam akhirnya mau tidak mau harus mengambil dana untuk melunasi hutang tersebut dari akun mental lain. Kebanyakan sih dari akun gaji bulanan hasil kerja keras.
Nah di fase ini biasanya si peminjam logikanya sudah normal kembali. Yaitu peminjam merasa bahwa menutup pengeluaran dari akun uang senang-senang yang sudah kosong, dengan cara mentransfer dana dari akun kerja keras adalah pelanggaran internal yang menyakitkan. Secara psikologis peminjam tidak rela menggunakan uang hasil memeras keringat mereka sekarang. Untuk membayar pengeluaran masa lalu yang kenikmatannya sudah menguap bersama udara.
Situasi barusan menciptakan perasaan kerugian berdobel-dobel atau akan kuanggap saja sebagai kerugian ganda. Peminjam merasa mereka tidak mendapatkan manfaat apa-apa sekarang. Tapi mereka harus kehilangan begitu saja uang yang didapat dengan susah payah. Ditambah otak manusia cenderung menolak transaksi kerugian murni tanpa manfaat saat ini juga. Menyebabkan ketidaksediaan untuk membayar hutang menjadi semakin besar.
Bagian ini tidak lupa menyoroti sebuah fenomena paradoksal, dimana seseorang yang memiliki tabungan yang cukup di bank dengan bunga hingga 2%. Tetap menunda atau menolak membayar hutang kepada teman. Padahal hutang kepada teman biasanya tanpa bunga.
Walaupun secara rasional kita harus menggunakan tabungan berbunga rendah untuk melunasi segala kewajiban. Seseorang seringkali memandang tabungan sebagai akun yang sakral, karena tabungan dianggap sebagai simbol keamanan dan prestasi diri. Menarik tabungan demi hutang komsumtif dirasakan sebagai kemunduran finansial. Jadi alih-alih melihat saldo tabungan turun demi membayar hutang teman. Peminjam lebih memilih memisahkan tabungan dan hutang teman di ruang mental yang terpisah. Dengan tindakan tersebut si peminjam merasa bahwa mereka telah mencegah aset digunakan untuk menetralisir hutang teman yang dianggap tidak bermanfaat.
Sayangnya walaupun secara finansial dan keuntungan jangka panjang hal ini tidak efisien. Karena walau hutang teman tidak berbunga, hutang tersebut tetap memiliki resiko sosial tinggi. Nyatanya langkah tersebut masih sangat masuk akal secara psikologis bagi si peminjam.
Posting Komentar