Kenapa Teman yang Berhutang Seringkali Tidak Mau Bayar, Bagian 2
Distorsi kepemilikan : The Endowment Effect dan transformasi psikologis uang tunai
Salah satu pilar psikologis yang sangat kuat yang menjelaskan kenapa teman sulit mengembalikan pinjaman adalah Endowment Effect atau efek kepemilikan. Menurut Richard Thaler dalam literatur ekonomi perilaku, efek ini didefinisikan sebagai kecenderungan irasional individu untuk menilai suatu objek yang mereka miliki (endowment), jauh lebih tinggi daripada objek yang sama yang tidak mereka miliki.
Secara teori dalam ilmu ekonomi standar, uang tunai dianggap tidak memiliki efek kepemilikan karena sifatnya yang sebagai alat tukar murni. Sayangnya kenyataan yang terjadi dalam kasus pinjaman informal menunjukkan hal berbeda. Begitu uang berpindah tangan dari pemberi pinjaman ke peminjam, terjadilah pergeseran kekayaan. Katakanlah misalnya sebelum meminjam, saldo A adalah 0. Begitu menerima Rp 5 juta dari teman, saldo A menjadi Rp 5 juta.
Dikarenakan pinjaman ini tadi berasal dari sumber informal, yaitu teman. Dimana tenggat waktu pengembaliannya biasanya lebih fleksibel dibandingkan bank. Uang tersebut tidak lagi dipandang sebagai titipan sementara yang harus dikembalikan. Melainkan terintegrasi kedalam endowment atau kekayaan pribadi si A. Intinya si A mulai mengembangkan rasa kepemilikan psikologis terhadap dana pinjaman tersebut.
Implikasinya ketika tiba waktu untuk membayar, tindakan tersebut tidak dirasakan oleh otak peminjam sebagai pemenuhan kewajiban. Sebaliknya bagi si A sebagai peminjam, tindakan itu dirasakan lebih seperti kehilangan aset pribadi. Yang kemudian memicu mekanisme Loss Aversion (Keengganan terhadap kerugian) yang kuat.
Dalam pengembangan Prospect Theory, Daniel Kahneman dan Amos Tversky menemukan bahwa manusia memiliki sensitivitas mencolok terhadap keuntungan dan kerugian. Bahkan disebutkan juga bahwa rasa sakit akibat kehilangan sesuatu dirasakan sekitar 2 hingga 2,5 kali lipat lebih parah. Jika dibanding rasanya kenikmatan dalam mendapatkan keuntungan yang setara.
Kembali ke bahasan awal, karena uang pinjaman telah dianggap sebagai milik sendiri. Proses membayarnya jelas memicu sinyal rasa sakit di insula otak, yaitu area yang sama yang aktif ketika seseorang merasakan sakit fisik atau jijik. Perasaan enggan ini diperparah oleh faktor pinjaman informal yang begitu fleksibel, tidak adanya jaminan, dan keterikatan kedua belah pihak secara sah, yang biasanya berfungsi menekan perasaan enggan barusan di pinjaman formal seperti bank.
Akibatnya setiap kali si A harus mentransfer uang kepada teman, mereka harus secara sadar melawan Loss Aversion. Tanpa adanya tekanan eksternal yang memaksa layaknya perjanjian di pinjaman formal. Bias alami otak akan sering memenangkan keinginan untuk mempertahankan uang tersebut. Sehingga terjadilah penundaan pembayaran.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa efek kepemilikan bersifat dinamis dan menguat seiring lamanya durasi kepemilikan. Jadi semakin lama seseorang memegang suatu objek atau uang, semakin kuat juga adaptasinya terhadap kepemilikan objek tersebut.
Seperti yang sering aku sebutkan mengenai pinjaman informal. Tenggat waktu pengembaliannya sering kali terlalu fleksibel. Misalnya seperti (“bayar saja kalau sudah ada uang”). Nah ironinya, sisi fleksibel inilah yang menjadi jebakan psikologis. Karena misal si A diatas uang pinjamannya tidak ditagih selama 6 bulan atau 1 tahun. Uang pinjaman tersebut memiliki waktu yang cukup lama untuk mengendap dalam mentalitas kekayaan peminjam. Uang tersebut telah digunakan untuk membeli sesuatu, memberi modal usaha, dan yang lainnya. Dimana intinya uang pinjaman telah menjadi bagian dari identitas dan kehidupan sehari-hari peminjam yaitu si A.
Saat akhirnya pemberi pinjaman menagih setelah 1 tahun, peminjam merasakan guncangan yang hebat. Si A merasa seolah-olah sedang dirampok. Dan karena secara psikologis kepemilikan terhadap uang pinjaman Rp 5 juta telah terbentuk begitu kuat. Melepaskan uang senilai itu membutuhkan upaya yang jauh lebih besar daripada jika uang itu diminta kembali seminggu setelah dipinjam. Ini juga yang menjelaskan mengapa hutang lama sering kali jauh lebih sulit ditagih. Karena bagi peminjam itu bukan lagi sekedar hutang, itu adalah bagian dari sejarah keuangan mereka yang sudah mapan.
Posting Komentar