Bab 5 : Ini masih sangat aneh bagi pihak manapun

Daftar Isi

Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

-----

“Aku benar-benar minta maaf. Sejujurnya aku sangat malu mengatakan hal ini, tapi aku tidak mau berbohong kepadamu.”

“Kalau maksudmu begitu, aku akan sangat berterima kasih.” Jawabnya sebelum menenggak air mineral.

“Heh? Kau tidak marah kepadaku?”

Di tengah-tengah ruangan kafe yang dipenuhi pasangan romantis itu, suasana di suatu meja benar-benar berbanding terbalik.

“Aku sih tidak marah. Apalagi kau pun sudah berusaha menjelaskan alasanmu yang sebenar-benarnya.”

Dia yang menerima ucapan barusan menelan ludah takut-takut. Namun tetap membuka mulutnya yang berat.

“Apa kau tidak kecewa kepadaku?”

“Jawabanku jujur saja sangat kecewa.”

-----

“Mel, Mel, Mel,… Melati!”

Saat merasa tubuhnya digoyang-goyangkan temannya. Melati baru saja terbangun dari lamunannya.

“E eh I iya Indah, ada apa?”

“Sudah kubilang kan apa. Dia sendari tadi sudah melamun begitu.” Teman yang berada di kursi berbeda mengatakannya sambil menghela napas.

“Nampaknya saran Irma benar. Kita tidak seharusnya menceritakan perihal hilangnya Kiki kepada Melati.”

“Sudah kubilang begitu kalian masih saja keras kepala sih. Lihat gimana coba kalau sudah begini.” Di kursi lainnya Irma bersedekap dengan cemberut.

“Maaf ya.” Saat teman-temannya berdebat, Melati sendiri tertunduk merasa bersalah.

Melihatnya seperti itu, pandangan semua orang didepan meja melunak. Bahkan Indah sekarang mengelus-elus punggungnya.

“Sampai saat ini sebenarnya aku percaya, Kiki tidak mungkin menghilang karena gara-gara gagal tes ataupun hanya karena kami putus. Hanya saja…” Lanjut Melati. “Aku sekarang menyesali tindakanku yang mengecewakannya beberapa saat yang lalu.”

“Sebetulnya aku pribadi pun bingung kenapa kalian bisa putus. Waktu kutanyai waktu itu pun, kau bilang Kiki tidak selingkuh. Jadi sebenarnya apa yang membuat hubungan kalian kandas seperti ini.”

Melati menggeleng pelan tanda bahwa dia tidak ingin membicarakannya. Sebenarnya dia sangat ingin cerita hal semacam ini kepada teman-teman tongkrongannya. Namun saran Kiki untuk curhat kepada orang yang tepat, masih terngiang-ngiang di kepalanya hingga sekarang.

Dalam pespektif teman-temannya, hubungan Melati dan Kiki hampir pasti dianggap tidak toxic dan siap menuju pernikahan. Namun faktanya belum genap setahun mereka pacaran, mereka memutuskan berpisah. Teman-temannya sebetulnya cukup lega waktu mendengar mereka tetap berteman walau putus. Namun lagi-lagi, alasan kenapa keduanya memilih berpisah tetap membuat semuanya bingung.

“Kami mengerti kalau kau tidak ingin membicarakannya. Tapi pastikan ceritalah ke kakakmu supaya kau tidak terlalu terbebani. Kau bilang kau sering minta saran beliau, kan?” Ucap Irma didepannya.

Melati mengangguk sebagai respon.

“Pokoknya, Mel.” Sekarang Indah yang berbicara sambil memeluk Melati. “Kau tidak boleh terlalu menyalahkan dirimu sendiri perihal Kiki yang hilang.”

Sore itu saat selesai dari kafe tempat dia berkumpul dengan teman-temannya. Melati mampir sejenak ke sebuah taman kota. Dia memang tidak punya kebiasaan mengunjungi taman seperti sekarang. Namun setidaknya dia tahu 1 hal, yaitu Kiki sering menggunakan taman ini sebagai tempat olahraga sorenya.

Seringai senyum kecil ditengah wajah lesu itu menciptakan kesan menyedihkan. Akhir-akhir ini hal tersebut memang sering terjadi, mengingat bahkan setelah mereka putus. Melati tetap melihati Kiki yang olahraga disini lewat tempat-tempat tersembunyi.

Namun saat ini Kiki tidak ada. Sudah beberapa hari setelah dia dinyatakan menghilang secara misterius. Suara dari satu-satunya pengunjung taman yang berolahraga juga ikut menghilang. Sekarang taman itu tidak lebih seperti taman kota lainnya. Penuh dengan bunga-bunga yang dirawat setengah hati. Beberapa bangunan untuk menunjang kebutuhan pengunjung. Dan 1 lagi hal yang walaupun termasuk unik. Tetap tidak menarik perhatian dari Melati sedikitpun sejak awal, yaitu kolam ikan.

“…”

Ada sebuah jalanan berpaving selebar 2 meter kurang yang mengelilingi taman. Biasanya jalanan itu dibuat lari-lari oleh Kiki.

Sekarang sambil diterpa angin yang berasal dari arah sawah, Melati berjalan perlahan menyusurinya dengan tatapan kosong. Beberapa saat lalu, waktu mengetahui bahwa Kiki gagal tes CPNS. Dia merasa bahwa dirinyalah yang menyebabkan Kiki tidak bisa fokus untuk mempersiapkan tes sehingga gagal. Oleh karena merasa bahwa hubungan ini hanya menguntungkannya seorang, Melati memilih mengakhiri hubungan mereka. Dan berharap Kiki punya waktu lebih banyak untuk masa depannya.

Sayangnya fakta tidak mengatakan apa yang diinginkan Melati.

Melati yang tahu bahwa mungkin bulan-bulan ini akan jadi fase menjengkelkan dalam hidup laki-laki yang dicintainya itu. Tetap percaya bahwa Kiki pasti bisa bangkit dan sukses dengan caranya sendiri. Toh semua orang yang kenal dengannya tahu, Kiki itu orang pintar. Kendati kegagalannya dalam CPNS sangat mengejutkan. Semua orang percaya bahwa Kiki bisa maju, tanpa embel-embel ikatan dinas tersebut.

Sekarang, alih-alih melihat Kiki jadi lebih bahagia daripada sebelumnya. Melati malah menemukan kabar bahwa Kiki menghilang tanpa jejak. Dan di hatinya yang paling dalam dia percaya. Bahwa pasti sedikit banyak keputusan egoisnya punya andil dalam tragedi yang dialami Kiki sekarang ini.

***

‘Padahal aku tidak pernah satu kalipun mencoba minuman haram yang bernama arak itu. Tapi kenapa kepalaku…’

“Masih terasa sakit kepalanya?”

Aku menoleh kearah sumber suara dan lanjut mengangguk. “Rasa beratnya sudah berkurang kalau dibandingkan kemarin buk. Tapi kepala saya masih lumayan sakit.”

“Karena kata ahli kitab desa, tubuhmu terlalu banyak dibebani sihir sehingga lemas. Kau harus tetap berada di tempat tidur dan jangan memaksakan diri untuk berjalan.”

Sambil memegangi dahiku dengan tangan kanan, entah kenapa suatu pertanyaan aneh keluar dari mulutku.

“Buk bolehkah saya bertanya tentang sesuatu?”

“Iya?” Perempuan yang mungkin seumuran budheku itu mulai duduk di kursi.

“Apakah dengan penglihatan sihir tertentu, anda bisa melihat seberapa besar kolam energi sihir milik saya?”

“Mungkin bagiku yang hanya terlahir menjadi orang biasa, mustahil untuk melakukan itu.” Dia melanjutkan. “Namun para penyihir dengan sangkarnya dan beberapa ahli kitab dengan ritualnya. Dikatakan bisa mengetahui seberapa besar kolam sihir seseorang.”

-----

“Bosan? Nampaknya anda tahu tadi saya jalan-jalan sebentar di sekitar sini, ya.”

“Tentu saja aku tahu, Lagipula ini adalah wilayahku, jadi aku tahu semua hal yang ada disini. Termasuk seorang penyusup yang diluar dugaan bisa masuk kemari.”

-----

‘Oh iya. Perempuan yang memanggilku nak itu juga bilang selain mengetahui seberapa besar sihirku. Dia juga tahu apa isi pikiranku.’

“Nak Kiki kenapa bertanya hal itu?”

“Ah maaf buk, saya Cuma berusaha memulihkan ingatan saya. Barangkali setelah tanya hal tersebut saya ingat sesuatu”

Tanpa kusadari perempuan yang duduk di kursi itu bangun dan menepuk-nepuk pundakku.

“Kami disini semuanya tahu kalau Nak Kiki ingin cepat pulih. Tapi jangan terlalu memaksakan diri sekarang. Istirahat dulu saja sesuai kata ahli kitab desa.”

Ada perasaan aneh didalam hatiku saat orang-orang menyebut kata penyihir dan apa itu sebutan ahli kitab. Sayangnya walau sejak awal aku menolak dan menganggap semua hal tentang sihir ini adalah lelucon. Sedikit demi sedikit lingkungan sekitarku memaksaku agar percaya.

“Kalau begitu, aku akan keluar rumah dulu. Jangan lupa untuk makan ya walau mungkin terasa tidak enak karena sakit.”

Aku mengangguk pelan sembari menatap singkong rebus beserta lauk pauknya yang ditempatkan di sebuah piring tanah liat. Dan walaupun ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus istilah sihir. Aku tetap saja pusing karena bisa-bisanya tempat dimana aku berada sekarang. Makanan pokoknya sangat tidak asing bagiku.

‘Singkong, ya. Ini mirip makanan pokok jaman kakek nenekku bukan sih. Yang katanya waktu jaman-jamannya menggarap sawah hanya 1 kali setahun. Kok bisa dunia yang penuh sihir ini, makanannya, perabotan rumahnya, hingga pakaian orang-orangnya bisa sangat tidak asing untukku.’

Memikirkan hal itu membuat kepalaku benar-benar tambah pusing sekarang.

Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Posting Komentar