Bab 6 : Jadi begitu ya

Daftar Isi

Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Seperti yang biasa kulakukan, aku memilih mengalah dan berusaha menerima saja bahwa sekarang. Aku berada di dunia atau setidaknya lingkungannya berbeda dari yang biasa kukenal. Walau entah bagaimana orang-orang juga menggunakan bahasa yang sama sepertiku. Ditambah makanan dan beberapa kegiatannya juga tidak terasa asing. Melihat hampir semua orang melakukan sulap atau yang mereka sebut sebagai sihir. Masih tetap membuatku tidak habis pikir bahwa yang kulihat sekarang adalah kenyatan, dan bukan sekedar mimpi aneh.

“Nak Kiki, kau tidak perlu memaksakan diri untuk keluar kalau masih sakit.”

Disaat aku masih takjub dengan anak-anak yang bermain air, yang tentu saja itu muncul begitu saja dari udara kosong. Suara pak kepala desa, atau orang pertama yang menolongku saat tertidur di ladang. Menyadarkanku dari lamunan.

“Maaf pak, saya hanya ingin menghirup udara segar saja. Saya sungguh tidak berencana berjalan jauh.”

Menanggapi alasan yang kubuat sekenanya, beliau tersenyum dan mengarahkanku ke dudukan kayu panjang dekat pohon.

“Loh kenapa pintunya kau tutup?” Saat aku ingin mengikutinya kearah pohon. Pak kepala desa bertanya kepadaku mengenai aku yang menutup pintu.

“I ini pak. Takutnya nanti ka kalau dibiarkan terbuka. Saat kita bicara, ada orang mencurigakan masuk.”

“Hahaha terima kasih nak atas perhatiannya…” Pak kepala desa terkekeh waktu mendengar jawabanku. “Tapi kau tidak perlu khawatirkan soal orang-orang semacam itu. Soalnya di desa ini tidak ada pencuri.”

Walau aku menyeringai demi sopan santun. Secara internal aku agak meremehkan keyakinan pak kepala desa ini.

‘Beliau tidak tahu saja. Di kampungku dulu, gas elpiji warung diembat orang tak dikenal di siang bolong.’

Saat dibawah pohon, kepala desa bertanya mengenai kondisiku khususnya apakah pusing kepalaku sudah mereda atau belum. Sebagai jawaban, aku masih tetap mengandalkan topik amnesia untuk melogiskan keadaan yang kualami sekarang. Termasuk soal ketakjubanku terhadap sihir air yang digunakan anak-anak bermain tadi.

“Kalau kau sampai di titik melihat sihir biasa saja sudah takjub. Berarti hilang ingatanmu sangat parah ya.”

“Ya yah… mungkin saja pak. Kan katanya saya seperti dipaksa menampung energi sihir dalam jumlah besar. Mungkin karena itu ingatan saya mmb… terkikis oleh energi sihir.”

‘Aku tidak tahu cocoklogiku barusan bisa diterima atau tidak. Tapi harusnya jika sihir mempengaruhi manusia hingga seperti apa yang kulihat sekarang ini. Alasan barusan harusnya bisa dianggap masuk akal.’

“Terkikis itu apa nak?”

‘Heh? Beliau tidak tahu kata “terkikis”.’

“Te terkikis itu semacam energi sihirnya memakan ingatan saya hingga hampir habis.”

Pak kepala desa mengangguk-angguk pelan menanggapi jawabanku. Kemudian…

“Tidak aneh juga kalau kau mendeskripsikannya seperti itu. Dalam beberapa kejadian serupanya, malah orang-orang yang dengan sengaja berusaha meningkatkan kolam energi sihirnya berakhir meninggal.”

“Loh kejadian saya ini bukan yang pertama kali pak?”

Walau kaitannya melenceng dari bagaimana caranya aku keluar dari sini. Tapi kasus barusan sangat menarik untukku.

“Awalnya kami berpikir kau mungkin anggota kelompok orang-orang itu. Tapi setelah ahli kitab bilang kalau sihir yang dipaksa kedalam tubuhmu, terjadi saat kolam sihirmu tidak siap. Maka dipastikan kau bukan bagian dari mereka.”

Umumnya orang-orang akan bersyukur jika mereka tidak disamakan dengan diagnosis kebanyakan orang yang parah. Namun aku saat ini lebih tertarik dengan pembahasannya, karena pak kepala desa ini menyebut kolam sihir.

“Tadi saya sempat bertanya apakah si ibuk bisa melihat seberapa besar kolam sihir saya. Tapi jawaban beliau tidak bisa. Katanya yang bisa melihat kolam sihir orang lain itu hanya penyihir dengan teknik sangkarnya. Dan ahli kitab dengan ritualnya. Pertanyaan saya, apakah ahli kitab yang memeriksa saya menggunakan ritual?”

“Yang dikatakan istriku benar, hanya para penyihir dan ahli kitab yang bisa melakukannya.” Pak kepala desa mengangguk kearahku sebelum melanjutkan. “Lalu untuk menjawab pertanyaanmu, ahli kitab kami memang awalnya akan melakukan ritual. Namun karena merasa tubuhmu hanya kelebihan sihir. Maka ritual itu dibatalkan.”

Aku memegang daguku sambil merasa lega didalam hati. Sejak pertama kali bertemu orangorang ini, entah kenapa aku langsung berpikiran untuk menyembunyikan identitasku. Identitas tentang apa? tentu saja identitas konyol sebagai pemilik kolam sihir besar tapi dilahirkan jadi orang biasa.

Berdasarkan dari ucapan dan ekspresi perempuan yang tak kuketahui sebelumnya. Kondisiku sekarang bisa dianggap tidak normal. Jadinya kalau aku dengan sembrono jujur, bisa saja aku mengalami situasi yang jauh lebih rumit dari sekarang.

‘Tapi aku penasaran dengan pengetahuan orang-orang disini tentang orang biasa yang punya kolam sihir besar.’

Disaat aku masih berpikir keras hingga membuat wajah kepala desa heran. Aku mendapatkan ide bagus supaya aku bisa menanyakan pertanyaanku.

“Pak kepala desa!”

“Y ya?”

“Dari cerita bapak sebelumnya, bapak bilang kalau ada sekelompok orang yang dengan sengaja berusaha memperbesar kolam energi. Nah apakah tidak ada salah satu diantara mereka yang masih hidup. Dan mendapatkan kolam energi besar seperti yang mereka inginkan.”

“Informasi resmi dari kerajaan bilang kalau semua pihak yang berusaha meningkatkan kolam sihir. Selalu tidak berhasil atau berakhir dengan penggunanya kebanyakan langsung meninggal. Oleh karenanya cara tersebut dilarang oleh kerajaan. Tapi ada beberapa rumor yang beredar di kedai atau pasar, kalau sebenarnya ada beberapa yang berhasil.”

‘Nampaknya pemerintah disini sama luar biasanya dengan pemerintah di tempatku soal klaim suatu masalah.’

“Terus nih pak.” Lanjutku menggoreng topik pembicaraan. “Misalnya seperti saya, ibuk, atau orang-orang yang dari lahir sudah ditakdirkan dengan kolam sihir kecil. Gunanya punya kolam sihir besar itu apa? Apakah kami bisa menjadi penyihir yang sanggup mengeluarkan teknik-teknik bertarung mematikan?”

“Walau kau sedang kehilangan ingatan, pertanyaannmu barusan sudah menunjukkan bahwa kau sebenarnya adalah orang cerdas, nak.” Pak kepala desa tersenyum kearahku setelah tuntas mendengar pertanyaanku.

“Terima kasih pak.” Sebagai ucapan terima kasih aku mengangguk kearah beliau.

“Sebenarnya nak…” Pak kepala desa mulai berbicara sambil mengangkat tangan kanannya yang seolah menggenggam sesuatu. “Pada dasarnya semua orang punya aliran sihir yang sama. Yaitu dari jantung ke otak. Bedanya kami dengan penyihir yang bisa bertarung atau ahli kitab. Selain jumlah kolam sihir, susunan otak kami yang memproses energi murni dari jantung berbeda. Susunan otak kita sebagai orang biasa, dianggap paling sederhana karena hanya mengubah energi murni sihir menjadi sihir-sihir sederhana. Seperti penguatan tubuh, menyalurkan energi ke alat kerja, atau semacam sihir sederhana menangkap burung.”

“Apakah mengeluarkan air dari udara seperti yang dilakukan anak-anak disana termasuk sihir sederhana?”

Sebelum menjawab, pak kepala desa megikuti pandanganku kearah sekelompok anak yang asyik bermain.

“Menciptakan suatu benda nyata dari kekosongan itu sangat sulit, bahkan untuk penyihir murni sekalipun. Anak-anak yang kita lihat sekarang, hanya menggunakan sihir mereka untuk mengambil air. Mirip seperti kalau tidak menggunakan sihir, mengambil air dengan ember lalu menyiramkannya ke orang lain.”

Setelah pak kepala desa telah menyelesaikan ucapannya, aku berdiri dan melongok ke lingkungan sekitar anak-anak itu bermain. Maksudku aku ingin mencari sumber air yang dimaksud pak kades supaya aku semakin yakin. Dan setelah beberapa kali memeriksa dari kejauhan, aku akhirnya menemukan kolam kecil tidak jauh dari tempat anak-anak.

‘Jadi begitu, ya.’

Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Posting Komentar