Bab 4 : Nama orang yang aneh

Daftar Isi
Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Di pusat Kota Medhi Kerajaan Wetanjawi bagian tengah.

“Siapa yang menyangka, permintaan merebut pisau milik kepala dapur adipati. Membuat kita sekalian harus menghancurkan sangkar sihir iblis Thakilan.”

“Sekarang kau sudah mengerti kan, tentang kemungkinan ketidaksesuaian nilai permintaan.” Salah seorang temannya yang menenteng kitab suci, menjawab tanpa menoleh.

“Tapi kalau kata Gunjang benar soal ketidaksesuaian, mengapa tidak ada perbaikan dari pihak tertinggi?”

Seseorang yang lain ikut manggut-manggut kemudian ikut bertanya. “Nah kalau itu gimana, Gunjang?”

“Jawabannya sangat mudah.” Ucap Gunjang sebelum membuka pintu. “Walaupun ada banyak kejadian yang dilaporkan. Tapi menurut orang di pusat sana, jumlah ketidaksesuaian nilai permintaan masih diambang batas wajar. Jadinya perbaikan dianggap belum bisa dilakukan sekarang.”

Melewati banyak orang yang juga berpenampilan seperti mereka. Kelompok tersebut akhirnya berhenti disuatu meja penerimaan.

“Selamat datang, apakah kalian perlu sesuatu.” Baru beberapa saat saja mereka berhenti, seorang perempuan yang menjaga meja penerimaan, langsung berinisiatif bertanya kepada mereka.

“Begini, kami kesini untuk mengkonfirmasi bahwa permintaan yang kami ambil sudah selesai.”

“Oh terima kasih atas kerja kerasnya.” Senyum formal itu bertahan sebentar lalu. “Kalau begitu bisakah anda sekalian memberitahu saya mengenai permintaan yang sudah diselesaikan?”

Gunjang mengangguk menerima intruksi, kemudian menoleh kearah temannya.

“Karta, bisakah kau membawa pisau dapur itu kemari.”

Jawaban temannya hanya mengangguk kemudian meletakkan barang yang dimaksud diatas meja.

“Nona, ini permintaan yang sudah kami selesaikan. Yaitu mengambil kembali pisau dapur milik Adipati Kota Medhi.”

Padahal Gunjang hanya mengatakannya secara biasa namun banyak orang menoleh kearahnya. Bahkan teman-teman yang ada dibelakangnya, sedikit banyak membusungkan dada bangga atas perhatian yang mereka dapatkan.

“Permintaan dari kepala dapur adipati itu? Jadi kalian ya yang mengambil permintaannya.”

“Waah kalian hebat. Padahal pisau itu katanya dicuri oleh setan yang sudah menjadi iblis kuat.”

“Benar-benar sekali itu!” Seru-seruan lain dari orang yang tak dikenal terus bergema didalam ruangan.

“Kelompok kalian pastilah lengkap dan kompak sekali hingga bisa menyelesaikan permintaan tersulit di wadah 4.”

“Terima kasih-terima kasih atas pujiannya…” Yang barusan bukanlah Gunjang ataupun Karta, namun seseorang berbadan besar bernama Lembu. “Namun nyatanya kami berhasil merebut pisau itu tanpa penyihir kesatria ataupun penyihir murni lho.”

“Heh kau bercanda, ya?”

“Bercanda katamu.” Lanjut lembu bersemangat. “Kalau begitu lihatlah kami berempat. Dari penampilan serta baju pelindung kami, harusnya kau tahu tipe penyihir apa yang ada di kelompok kami.”

Riuh-riuh semakin ramai walau Gunjang dan seorang yang lain, telah menyelesaikan pencatatan informasi dan mendapatkan upah.

“Ka kalian cuma bermodal 2 penyihir benteng, 1 ahli kitab, dan 1 orang biasa? Bagaimana mungkin?”

“Tentu saja mungkin, kami kan memang kuat dan kompak.”

Sementara Lembu masih saja mengoceh demi menjawabi setiap pertanyaan orang-orang random. Gunjang hanya menatapnya malas di suatu kursi tunggu dalam ruangan.

“Sebenarnya ngapain sih bocah itu. Udah tahu kita hampir saja mati waktu menjalani permintaan ini. Sekarang malah sombong gak karuan kayak kelompok peringkat tinggi saja.”

“Sekali-kali tidak masalah kan Gunjang. Itung-itung memperbaiki reputasi kelompok kita yang sebelumnya dipandang remeh.” Ucap salah seorang temannya yang membawakan air dan beberapa minuman lain.

“Terima kasih Yasa atas airnya.” Gunjang menerima gelas besar yang dibawa Yasa kemudian meminumnya sebelum meneruskan. “Namun kita pun sebenarnya harus mengakui bahwa kelompok kita memang tidak sehebat kelompok lainnya yang lengkap. Jadi kenapa kita harus sombong begini.”

“Sayang sekali Yasa, kau tidak seharusnya mengungkit hal semacam ini didepan ahli kitab langsung.”

Datang entah darimana, Karta yang sebelumnya menyerahkan barang utama permintaan ikut duduk bersama Gunjang dan Yasa.

“Kau benar Karta, mungkin waaktunya juga kurang tepat aku mengatakan ini kepada Gunjang.” Sahut Yasa sambil menyodorkan gelas besar air kearahnya juga.

“Terima kasih.” Karta menerima gelas itu.

“Eh ngomong-ngomong, karena kita memutuskan libur setelah permintaan ini. Kalian mau pergi berlibur kemana?” Merasa perlu memperbaiki wajah Gunjang yang lesu dan cemberut. Yasa coba mengganti topik obrolan.

“Hmmb aku sudah bilang padamu kan kalau aku ingin ke Jayavia sebentar. Kau tidak ingat kalau titip beberapa kitab?”

“Tentu saja aku ingat.” Jawab Yasa sekenanya. “Tapi untuk Karta dan Lembu, kita belum saling membicarakan ini, kan?”

Karta yang sendari tadi asyik melihati Lembu yang berceloteh kesana kemari terbuyarkan konsentrasinya.

“Eh aku?”

“Iya kau. Kau mau kemana selama liburan nanti?”

Sedikit terlihat berpikir keras, Karta akhirnya menjawab sambil menyeringai pasrah. “Aku tidak tahu. Palingan aku akan pulang ke rumah, latihan, dan bantu-bantu bapak ibuk.”

“Kalau kau merasa bosan, mau ikut ke negara suci Jayavia?”

Tanpa berpikir seperti sebelumnya, Karta langsung menggeleng kuat-kuat. “Aku hargai tawaranmu itu, Gunjang. Tapi nampaknya untuk orang yang kurang beriman sepertiku. Kenal dan berteman dengan 1 ahli kitab saja sudah lebih dari cukup.”

Baik Yasa maupun Gunjang yang sebelumnya cemberut kini berubah tersenyum.

“Sebegitu bencinya kah kau dengan para ahli kitab, Karta?”

“Eh Yasa tutup mulutmu yang berbahaya itu.” Karta mencipratkan air kearah Yasa sambil tertawa kecil. “Kalau ada yang dengar bualanmu, aku bisa kena masalah panjang nanti.”

“Hahaha…” Disampingnya Gunjang tertawa. “Terlepas dari semuanya, kau memang agak menghindari para ahli kitab. Bahkan saat pertama kali bertemu denganku, kau juga agak jaga jarak.”

“Kau jangan malah membantu Yasa begitu, Gunjang. Dia akan mengeluarkan lelucon lebih parah lagi nantinya.”

Ditengah gelak tawa tersebut, Lembu yang sebelumnya sibuk dengan orang-orang. Kini bergabung dengan ekspresi heran.

“Eh eh ada apa ini? Ada lelucon yang bagus, ya?”

Mengetahui Lembu telah datang, mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain untuk kemudian…

“Bubar, bubar, bubar ayo segera ke penginapan dan berkemas pulang.”

“Iya ayo.” Gunjang ikut berdiri dari kursinya. “Aku pun perlu berkemas untuk perjalanan nanti.”

“Loh loh loh… Sialan kalian semua memang ya. Bisa-bisanya kalian ngobrol tanpa mengajakku.” Lembu yang baru saja ikut duduk, terpaksa berdiri kembali dan mengejar teman-temannya yang mulai keluar ruangan.

Saat berjalan menuju kearah penginapan, Yasa yang merasa baru kepikiran, menghentikan teman-temannya.

“Kau kenapa Yasa? Apakah ada barangmu yang tertinggal di Rumah petualang?”

“Hmmb bukan itu.”

“Bukan itu?” Lembu menelengkan kepalanya kekiri. “Lalu kenapa wajahmu kayak orang yang baru teringat sesuatu begitu.”

“Sebenarnya aku memang benar teringat sesuatu saat dikirimi surat dari desa.”

“Hmmb apa itu?”

Karena merasa akan menghalangi jalan orang lain, mereka berempat minggir dan melanjutkan obrolan sambil berdiri.

“Kata bapakku ada seseorang yang ditemukan tertidur di ladang desa. Katanya lagi, orang itu mengalami hilang ingatan hingga terus-menerus menatap lingkungan sekitar dengan tatapan kosong.”

“Jadi?”

“Jadi bolehkah aku merepotkanmu sekali lagi, Gunjang?”

“Hilang ingatan, ya?” Gunjang meletakkan telunjuknya didepan mulut lalu berjalan sedikit menjauh sebentar. “Penyakit itu berbeda dibandingkan penyakit kebanyakan. Tapi karena mungkin sulit berimajinasi tentang mengembalikan ingatan orang. Maka mungkin aku hanya bisa membawa beberapa obat yang berkhasiat memulihkan kepalanya.”

“Terima kasih. Dan tolong lakukan itu hanya kalau kau punya waktu luang saja.”

“Iya aku tahu kok.”

“Dari surat orang tuamu itu.” Karta ganti yang berbicara. “Apakah ada info lain tentang orang yang hilang ingatan ini.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya mungkin kalung atau apapun yang kiranya bisa jadi petunjuk. Siapa tahu kan ada salah satu dari kita yang punya informasi penting tentangnya.” Gunjang menjelaskan kebingungan Lembu.

“Ah soal itu.” Yasa kembali mendongak. “Dalam surat, orang ini disebutkan berpakaian aneh yang berbeda dibandingkan orang kebanyakan.”

“Berpakaian aneh? Terus adakah info lain?”

“Hanya itu sih seingatku— eh…” Yasa kembali mendongak setelah sebelumnya menunduk. “Ada info lain sebenarnya. Namun mungkin kalian bertiga juga tidak akan bisa membantu saking anehnya.”

“Huh? Saking anehnya kami sampai tidak bisa membantu?” Lembu bertanya penasaran. “Sebenarnya info aneh apa yang kau maksud barusan.”

“Ini soal nama. Nama yang aku yakin kita berempat pasti merasa aneh karena diucapkan pun. Rasa di mulut itu terasa berbeda sekali. Seperti nama orang yang berasal dari luar kerajaan. Tapi akupun merasa tidak yakin dia berasal dari negara mana, karena saking anehnya”

Gunjang yang memasang wajah datar sekarang menghela napas. “Sudahlah Yasa jangan buat kami tambah penasaran. Memang nama aneh orang itu bagaimana?”

“Namanya Ki Kiki Alamsah kalau tidak salah.”

Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Posting Komentar