Bagaimana Huawei Masih Bisa Hidup Setelah Dihukum Mati AS Bagian 4
Lanjut ke pembahasan AI, disini Huawei ternyata punya peran yang cukup besar dalam bidang GPU. Konteks lebih jelasnya, karena AS dan China sering kucing-kucingan di perdagangan dan teknologi. Sanksi AS yang membatasi ekspor GPU AI Nvidia A100/H100, menciptakan kekosongan pasar yang besar. Nah disini Huawei bergerak agresif untuk mengisi celah ini dengan seri Ascend dan perangkat lunak pendukungnya.
Ascend 910C yang menjadi bukti tantangan Huawei terhadap Nvidia, nyatanya mampu jadi alternatif domestik utama untuk pelatihan dan inferensi AI di China. Salah satu perbandingannya dengan seri H100 milik Nvidia. Adalah perbandingan kinerja yang didasarkan pada laporan pengujian oleh tim riset DeepSeek.
Ascend 910C dilaporkan memberikan kinerja inferensi sekitar 60-80% dari Nvidia H100. Meskipun masih tertinggal dalam raw compute power (FP16/FP32). Ascend 910C menawarkan efisiensi yang memadai untuk banyak beban kerja inferensi. Kelemahan utama yang terasa bagi Ascend 910C terletak pada teknologi memorinya. Chip ini faktanya masih menggunakan HBM2E yang tertinggal 2 generasi dibandingkan HBM3/HBM3e pada Nvidia H100. Akibatnya bandwidth memori milik Ascend 910C terbatas. Padahal faktor tersebut sangat kritis dalam pelatihan model bahasa besar LLM.
Untuk mengkompensasi kinerja per chip yang lebih rendah. Huawei akhirnya mengembangkan arsitektur sistem seperti CloudMatrix yang menghubungkan ribuan chip Ascend. Melalui interkoneksi optik berkecepatan tinggi, akhirnya memungkinkan kinerja tingkat sistem Ascend yang lebih kompetitif
Alasan kenapa Nvidia mendominasi pasar AI bukan hanya didasarkan perangkat kerasnya. Tetapi perangkat lunak mereka juga unggul, melalui platform mereka yang diberi nama CUDA. Huawei menjawab tantangan ini dengan melahirkan platform CANN (Compute Architecture for Neural Networks).
DeepSeek, selaku pengembang model AI open weight terkemuka China. Lagi-lagi memainkan peran kunci dalam memvalidasi ekosistem Huawei. Mereka terbukti berhasil mengoptimalkan kernel CUNN untuk mencapai efisiensi tinggi pada perangkat keras Ascend. Kernel CUNN adalah ekuivalen CUDA di Huawei. Intinya CUNN itu kernel komputasi secara kustom yang dioptimalkan supaya berjalan diatas CANN. Platform komputasi AI Huawei yang dibuat untuk setara CUDA NVIDIA. Laporan juga menunjukkan bahwa DeepSeek telah mendukung Ascend sejak hari pertama. Sehingga memungkinkan konversi kode dari CUDA ke CUNN dengan sangat efisien.
Mungkin karena perkembangan ini juga, perusahaan teknologi raksasa China seperti Baidu, Alibaba, dan Tencent. Yang sebelumnya sangat bergantung pada Nvidia. Sekarang mulai mendiversifikasi infrastruktur mereka dengan membeli chip Ascend 910C dalam jumlah besar. Langkah ini diyakini didorong oleh kebutuhan lindung nilai terhadap ketidakpastian pasokan Nvidia di masa depan. Ditambah klaim biaya Ascend 60-70% lebih rendah dari kolaborasi Huawei dan DeepSeek. Jika dibandingkan dengan solusi berbasis Nvidia H100. Membuat Ascend semakin jadi pilihan yang sangat menarik bagi pasar enterprise China yang sensitif terhadap biaya.
Selain bersaing di perangkat keras penunjang AI Ascend dan perangkat lunak platform CUNN. Huawei juga mengembangkan model AI miliknya sendiri. Namun berbeda dengan ChatGPT dan sejenisnya yang menargetkan konsumen umum, model AI Huawei (Pangu) difokuskan pada aplikasi industri B2B. Contohnya Pangu Weather untuk memprediksi cuaca. Dan model Pangu yang ada di sektor pertambangan untuk otomatisasi deteksi bahaya dan optimalisasi proses pencucian batu bara.
Strategi model AI yang fokus pada B2B ini untuk sekarang lumayan berhasil menanamkan teknologi Huawei. Jauh kedalam infrastruktur kritis ekonomi China. Buktinya biro meteorologi di Shenzhen dan Chongqing telah mengadopsi Pangu Weather berkat akurasinya yang melampaui metode numerik tradisional. Kemudian Shandong Energy Group dan Baowu Steel juga menggunakan Pangu, untuk membantu pengolahan Baja dan batu bara milik mereka.
Posting Komentar