Bagaimana Huawei Masih Bisa Hidup Setelah Dihukum Mati AS Bagian 3
Sesuai janji, aku di ketikan ini akan langsung membahas bagaimana Huawei dengan kemampuan perusahaan yang dimilikinya. Mampu memproduksi System on Chip (SoC) atau mudahnya chip canggih tanpa akses ke rantai pasok global. Arena pertempuran teknis paling intens ini, erat kaitannya dengan kolaborasi Huawei dan Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC).
Hasil kerja sama keduanya yang tercermin saat peluncuran seri Mate 60 pada Agustus 2023. Mengejutkan dunia dengan kehadiran chipset Kirin 9000S yang mendukung 5G. Kejadian barusan menyulut analisis teardown oleh TechInsight, sekaligus membongkar mitos dan mengonfirmasi realitas kemampuan manufaktur yang dimiliki China.
Jadi agak melenceng dari spekulasi awal mengenai teknologi 5nm, analisis mengonfirmasi bahwa Kirin 9000S dan penerusnya yaitu Kirin 9020. Diproduksi menggunakan proses 7nm generasi kedua (N+2) milik SMIC. Bagian ini menunjukkan bahwa sebenarnya walau chip buatan SMIC barusan sudah mendukung 5G. Kecanggihannya masih tertinggal 2 hingga 3 langkah jika dibandingkan chip yang dibuat oleh teknologi AS.
Dalam pengembangannya, dikarenakan adanya larangan akses ke mesin Extreme Ultraviolet (EUV) dari ASML. SMIC akhirnya menggunakan mesin Deep Ultraviolet (DUV) immersion, yang diyakini teknologinya lebih tua dan kuno jika dibanding teknologi mutakhir sekarang.
Ketidakefisienannya tercermin dengan fakta bahwa untuk mencapai resolusi 7nm. SMIC menerapkan teknik Self Aligned Quadruple Patterning (SAQP) atau multi-patterning intensif. Yang memaparkan wafer berulang kali (antara 3-4 kali) hanya untuk mengukir fitur sirkuit yang sama. Menggantikan satu paparan pada proses EUV.
Di akhir tahun 2025 saat Huawei meluncurkan seri Mate 70 dengan chip terbarunya yaitu Kirin 9020. Analisis teknis menunjukkan bahwa chip buatan Huawei, masih belum berpindah ke node 5nm. Melainkan masih tetap di 7nm (N+2), namun kali ini lebih dioptimalkan dibanding Kirin 9000s.
Walaupun memang dioptimalkan, Die Kirin 9020 faktanya malah punya ukuran 15% lebih besar dibanding pendahulu terdekatnya Kirin 9010. Alasan logisnya, peningkatan ukuran barusan diperlukan untuk menambah jumlah transistor dan fitur kinerja. Seperti pada NPU yang lebih kuat, karena pada kenyataannya sendiri, transistor tersebut memang tidak dapat diperkecil lebih lanjut secara efisien tanpa EUV.
Konsekuensi dari ukuran yang lebih besar di Kirin 9020 tersebut. Berada di tingkat keberhasilan produksi yang lebih rendah, karena probabilitas cacat pada wafer meningkat seiring luas area chip.
Akan tetapi sekalipun disertai kekurangan disana sini, khususnya perihal teknologi EUV. Keputusan Huawei untuk memproduksi chip besar dengan DUV yang kompleks. Menunjukkan bahwa dalam rentang waktu tersebut, SMIC telah mencapai stabilitas proses yang mengesankan. Sekalipun faktor itu juga didukung dengan Huawei yang bersedia mentolerir biaya pemborosan yang tinggi demi kinerja.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sekalipun produksi chip 7nm tanpa EUV dianggap prestasi rekayasa luar biasa dari Huawei. Prestasi tersebut harus dibarengi dengan mimpi buruk berupa biaya mahal jika dibandingkan dengan impor.
Estimasi rinci mengenai biaya produksi chip SMIC menggunakan DUV multi patterning. Adalah 40-50% lebih tinggi dibandingkan proses EUV yang dilakukan TSMC. Alasannya proses DUV memerlukan penggunaan masker (photomask) yang jauh lebih banyak, waktu siklus produksi yang lebih lama, dan tingkat keberhasilan yang lebih rendah di sekitar 33- 40% pada tahap awal. Dan meningkat ke target 60% pada tahun 2025.
Dari sini sebenarnya aku sudah mulai heran dengan Huawei, karena selain memilih tetap bertahan di industri ini dengan pertaruhan yang berdarah-darah. Huawei pun nyatanya masih berani menjual perangkatnya dengan harga kompetitif. Sekalipun sudah sering dijelaskan diawal bahwa mereka menyerap keuntungan dari divisi perangkat lunak, cloud, dan lisensi paten demi menutupi inefisiensi biaya perangkat keras. Rasanya tetap aneh saja sebuah perusahaan besar rela mengambil jalan yang dianggap orang-orang sebagai. Jalan menuju kebangkrutan alih-alih minggat dari pasar yang tidak potensial.
Jawaban dari keherananku diatas sebenarnya terjawab dengan 2 kata yang sering digaungkan oleh Huawei yaitu “biaya kedaulatan.” Mereka rela melakukan semua ini demi tujuan jangka panjang yang mereka sebut sebagai kemandirian strategis.
Tapi walaupun sudah dijawab begitu, permasalahan ini masih aneh saja bagiku mengingat mereka sebenarnya bukan perusahaan sembarangan. Huawei itu faktanya punya ekosistem bisnis yang lebih mengikat dan gila dibandingkan Apple. Sekalipun disebutkan bahwa penghasilan mereka masih sangat bergantung dengan pasar domestik. Tetap masih sangat aneh khususnya bagaimana Huawei begitu entengnya, membiayai produk yang keuntungannya mungkin baru bisa didapat beberapa tahun kemudian.
Dengan kata lain kebingunganku terhadap Huawei masih terus ada khususnya di bagaimana mereka. Bisa dengan mudahnya melupakan keuntungan jangka pendek dan berani membakar uang untuk keuntungan jangka panjang. Maksudku lihat saja dalam kasus Apple. Mereka lebih memilih menyetop pengembangan mobil listrik mereka yang dianggap tidak optimal. Apple masih belum siap dengan chip modem 5G miliknya, dan masih lebih memilih memperpanjang kontrak dengan Qualcomm sampai 2027.
Berbicara soal layar ponsel. Apple berusaha mengurangi ketergantungannya pada Samsung dan LG. Masalahnya riset layar MicroLED mereka terhambat karena biaya produksi yang terlalu mahal. Bandingkan dengan Huawei yang masih mau mendanai proyek chip dengan keberhasilan dibawah 50%. Oke aku tahu bidangnya berbeda tapi mari lihat keputusan keduanya lewat 1 dasar yang sama, yaitu biaya.
Apple lebih memilih menimbun uang simpanannya untuk buyback saham, alih-alih membakarnya demi kontrol dan kemandirian jangka panjang seperti Huawei.
Pertanyaannya kenapa Huawei seberani itu membakar uang. Apakah mereka mampu melakukannya hanya karena mereka perusahaan privat, bukan perusahaan publik seperti Apple.
Sebelum ke pembahasan lebih lanjut, aku akan menjelaskan lebih dulu mengenai Huawei yang ternyata memang merupakan perusahaan swasta privat. Jadi Huawei lumayan persis lah kasusnya dengan perusahaan Djarum milik Hartono di Indonesia. Mereka adalah perusahaan yang tidak melantai di bursa saham (IPO).
Nah uniknya statusnya sebagai perusahaan privat ini juga menjadi salah satu alasan, kenapa Huawei bisa sengeri itu di mata AS maupun dunia.
Pertama, karena Huawei privat. Mereka jadi tidak peduli dengan laporan kuartalan sehingga mereka bebas tekanan. Berbeda dengan Apple yang go publik, Huawei tidak menjadi budak pemegang saham yang wajib lapor profit setiap kuartal. Apple kalau profitnya turun sedikit saja karena kebanyakan riset, saham Apple bisa anjlok. Akibatnya investor akan marah dan Tim Cook bos Apple kemungkinan akan dipecat. Makannya Apple cenderung main aman, yaitu cari cuan dulu, inovasi belakangan.
Bandingkan dengan Huawei yang privat. Karena mereka tidak punya kewajiban lapor ke publik. Kalaupun mereka mau rugi 5 tahun demi riset chip? boleh-boleh saja. Mau bakar duit untuk bangun infrastruktur yang balik modalnya lama? Silahkan. Toh tidak ada investor yang akan teriak-teriak minta deviden.
Kedua, kenapa mereka cenderung berani berpikir jauh kedepan dibanding perusahaan lain. Huawei walaupun perusahaan privat yang mirip seperti Djarum di Indonesia. Stuktur perusahaannya berbeda. Djarum dimiliki oleh keluarga, yang dalam hal ini adalah Keluarga Hartono. Jadinya kekuasaan ada di tangan keluarga. Sementara Huawei, mereka adalah perusahaan privat yang menggunakan sistem ESOP (Employee Stock Ownership Plan).
Artinya pendiri Huawei, Ren Zhengfei Cuma punya sekitar 1% saham. Sisa 99% saham Huawei dimiliki oleh karyawan Huawei itu sendiri melalui serikat pekerja. Jadi singkatnya karyawan Huawei juga pemilik perusahaan. Kalau perusahaan untung, mereka juga dapat deviden gede. Ini jugalah yang membentuk loyalitas karyawan Huawei gila-gilaan sehingga disebut Wolf Culture. Mereka merasa kerja buat perusahaan sendiri, bukan buat memperkaya investor asing.
Selain faktor perusahaan privat yang merembet hingga budaya kerja Wolf Culture gila-gilaan. Faktor lainnya seperti ekosistem Huawei yang sempat disebut sebelumnya juga mendukung. Kenapa mereka bisa berani bakar-bakar uang untuk target jangka panjang.
Dalam video youtubenya Raymond Chin mengenai Huawei. Disebutkan bahwa analogi ekosistem Huawei dan Apple itu ibarat analogi jalan tol dan mobil. Apple ekosistemnya horizontal, mereka punya iPhone, MacBook, dan Apple Watch yang saling terhubung. Semua produk mereka barusan ada di tangan konsumen. Mereka adalah mobil yang mengantarkan konsumen dengan segala kenyamanan yang ditawarkannya.
Untuk Huawei, ekosistemnya berbeda karena mereka menguasai infrastruktur telekomunikasi global. Mereka adalah pihak yang membangun jalan tol. Lapisan fundamental seperti infrastruktur jaringan, paten sinyal, hingga sistem kota pintar yang selama ini jadi landasan bagi teknologi lain untuk bekerja, Huawei lah yang kebanyakan membuatnya dan mematenkannya. Ekosistem mereka ibarat dari hulu ke hilir. Mereka bangun BTS 5G/5,5G, bangun cloud sendiri, bikin hp, bikin sistem mobil listrik AITO/HarmonyOS Cockpit, dan chipset macam Kirin yang kita bahas di awal.
Akibatnya konsumen merasa senang karena bukan saja hp ke hp atau ke laptop yang bisa terintegrasi dengan mulus. Tapi dengan memiliki produk Huawei, mereka bahkan terintegrasi mulus dari hp ke laptop, laptop ke mobil, hingga mobil ke infrastruktur jalanan macam lampu merah. Ini jugalah yang menjadi salah satu alasan kuat kenapa Huawei bisa kembali mengambil alih pasar di China dari Apple. Mereka bukan saja jadi simbol perlawanan terhadap hagemoni barat. Tapi mereka juga memberikan kualitas lebih, yang bahkan sulit disamai oleh perusahaan sekelas Apple.
Dari penjelasan barusan, pertanyaanku soal kenapa Huawei berani bakar-bakar uang harusnya sudah terjawab. Huawei yang merupakan perusahaan privat, memanfaatkan keuntungan tersebut untuk bisa menyeimbangkan keputusan jangka pendek dan panjang. Sehingga saat suatu permasalahan terjadi seperti keluarnya hukuman dari AS mengenai chip dan android. Mereka mampu bertahan dan malah berusaha menantang balik.
Mereka memang tertekan, namun pendapatan dari banyak sektor kerja kotor B2B dan investasi jangka panjangnya. Sekarang mampu menopang biaya riset tidak murah di bidang chipset dan OS.
Walaupun secara teknologi yang digunakan beserta hasil saat ini mereka masih dibawah produk hagemoni barat. Optimalisasi dan efisiensi yang ditunjukkan pada chipset Kirin 9020 serta OS Harmony terbaru. Menunjukkan bahwa Huawei punya peluang untuk pertarungan teknologi jangka panjang melawan teknologi barat.
Posting Komentar