Bab 3 : Aku harus segera bangun dari mimpi

Daftar Isi

 Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

“Padahal kau mendapatkan nilai tertinggi dan semua nilai tesmu diatas ambang batas. Tapi kenapa bisa kau…”

Menanggapi wajah tercengang kenalanku tersebut aku tersenyum dan menjawab. “Aku sendiri juga bingung. Tapi katanya ada masalah di pemberkasanku.”

“Loh bukannya kalau sudah masuk tahap tes CBT, pemberkasan sudah tak menjadi soal?”

“Harusnya sih begitu, tapi faktanya berkata lain. Mungkin aku memang kurang beruntung saja.”

Orang yang baru kukenal di lingkungan tes itu menggiringku ke kursi panjang.

“Kau tidak coba tanya dulu ke panitia. Siapa tahu ini kesalahan sistem atau apa lho.”

“Aku tadi sudah tanya.” Jawabku sambil menggeleng. “Tapi katanya tetap sama. Pemberkasanku bermasalah. Terus waktu aku tanya lebih dalam serta meminta bukti. Panitia terkait menolak memperpanjang masalah ini.”

“Ini tidak masuk akal. Kau seperti dibuang begitu saja.”

“Tidak apa-apa teman, lagipula…” Aku berusaha tegar di tengah situasi hatiku yang kacau. “Hal semacam ini sudah sangat biasa terjadi dalam hidupku.”

“Kiki tapi—”

Aku mengajukan telapak tangan kananku sehingga orang ini menghentikan ucapannya.

“Aku tahu kau peduli dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Tapi kau tidak perlu khawatir bro, aku sudah punya pekerjaan kok. Jadi tes CPNS ini bisa dianggap Cuma untung-untungan saja untukku. Dan yang terakhir, selamat ya untukmu karena sudah berhasil lolos. Setelah sudah resmi nanti, mari ngopi bareng. Hitung-hitung merayakan kesuksesanmu.”

Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya ada di hatiku. Walaupun aku tidak bisa bohong kalau sekarang aku memang benar kecewa karena gagal tes walau punya nilai tertinggi. Tapi diluar dugaanku, teman baruku ini malah memelukku bahkan sambil menangis.

“Kiki kau sungguh malang. Kau itu padahal pintar dan baik.” Lanjutnya dengan sesenggukan. “Kau bahkan sering menolongku saat waktu tes ini. Tapi… tapi… kenapa kau bisa bernasib sial seperti ini…”

Kurasa dia terlalu berlebihan menanggapi kegagalanku. Sayangnya mengucapkan itu secara terang-terangan didepan orang yang menangis untukku. Sekalipun dia pura-pura rasanya sangat tidak sopan. Jadi daripada bengong dan terlihat tidak peka, sebagai respon kupeluk balik saja dia dan pelan-pelan kutepuk punggungnya.

“Kenapa kau hanya diberkati untuk menjadi orang biasa. Apa juga makna kolam energi sebesar itu bagi orang biasa. Sungguh kasihan sekali kau wahai anak muda.”

Aku tersenyum merespon pendapat perempuan didepanku yang kuanggap super dramatis ekspresinya. Namun entah kenapa, melihatnya mengasihaniku seperti itu. Mengingatkanku dengan orang-orang lain yang melakukan tindakan serupa. Misalnya seperti saat di tempat tes CPNS beberapa waktu yang lalu.

“Jadi kapan saya bisa pulang, nona? Anda harusnya sudah tahu banyak hal termasuk ingatan singkat tak sengaja saya mengenai seorang teman, bukan.”

“Sejujurnya aku kagum denganmu.” Balasnya dengan menjauhiku beberapa langkah. “Kau mengalami ketidakadilan yang berada diluar kendalimu. Tapi kau masih berani menyalakan tantangan kepada dunia. Kalau boleh bilang, kau pantas mendapatkan takdir yang lebih baik.”

“Saya berterima kasih karena simpati anda. Namun bisakah kita langsung saja ke bagian pulang mulai dari sekarang.”

Menoleh kearahku sebentar, perempuan itu menghela napas.

Saat menyadari tanda tidak bagus barusan, aku seperti otomatis memikirkan kemungkinan terburuk.

“Apa yang menjadi dugaanmu adalah kebenaran. Faktanya aku memang bisa melepaskanmu dari wilayah sihirku. Tapi kau hanya akan melihat dunia yang tidak benar-benar kau kenali. Dunia yang biasa kau lihat, termasuk dunia dimana temanmu menangis tersedu-sedu itu. Aku tidak bisa mengembalikanmu kesana.”

Kesetabilan adalah moto hidupku dalam menghadapi dunia. Aku selalu percaya bahwa setiap masalah selalu punya solusi. Setiap masalah selalu tereset kembali ke nol. Jadinya dengan itu aku selalu bisa menghadapi setiap kegagalan dengan kepala dingin. Namun sekarang…

“Apa maksudnya ini. Kenapa saya bisa masuk kemari tapi saya tidak bisa keluar?!”

Sekali lagi perempuan dewasa yang tak kuketahui namanya tersebut hanya menghela napas.

“Sejak pertama melihatmu dan mendapat pandangan duniamu dari ingatanmu. Aku sudah menjajaki setiap kemungkinan perihal darimana kau berasal. Itulah sebabnya aku selalu bertanya di setiap analisisku tentang apa sebenarnya kau ini.” Dia melanjutkan.”Sayangnya bahkan dengan referensi pengetahuan dari kitab suci. Aku tetap tidak bisa menjangkaumu termasuk bagaimana caranya berinteraksi dengan duniamu itu.”

No comment… aku sudah tidak mau berpikir lagi sekarang. Yang kulakukan Cuma duduk bersender di batang pohon serta memandang kosong padang bunga. Aku tidak tertarik untuk bertanya lagi atau sejenisnya. Kepalaku sudah pusing. Sekarang yang kuinginkan Cuma 1 yaitu pulang, atau kalau ternyata semua ini mimpi. Aku ingin segera bangun untuk bekerja hingga sore, lalu pulang ke rumah dan bermain game di komputerku.

Sayangnya baru sebentar saja aku melamun dan menghibur diri. Perempuan didepanku malah mengejutkanku untuk yang kedua kalinya. Sekarang dia meraih tangan kananku, menarikku berdiri kembali, dan memegang dahiku erat. Bahkan aku merasa caranya memegang kepalaku yang sekarang lebih erat dibandingkan tadi.

“Hei anda mau apa sekar—”

“Diamlah nak Kiki! Aku sekarang berusaha meminimalkan kemungkinan bahaya yang akan terjadi kepadamu.”

“Nak Kiki? Dan hei, bisakah anda lebih lembut memegang kepala saya!” Aku protes padanya karena kepalaku mulai sakit akibat cengkeraman kuatnya.

“50 Puluh tahun yang lalu, ada penyihir berbakat bernama Ampu Mangkurat. Dia secara aneh mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari sihir, dan menciptakan beberapa sihir yang bisa digunakan manusia biasa untuk bertahan hidup. Orang-orang menyebutnya sebagai ilmu-ilmu sihir bagi pihak yang lemah. Walaupun disebut begitu, bahkan salah satu tekniknya bisa mengimbangi teknik sihir tingkat tinggi macam Sangkar sihir.”

“Terus apa hubungannya dengan saya?” Aku bertanya dengan posisi tangannya masih mencengkeram dahiku.

“Kejadian yang kau alami sangat aneh dan bahkan berada diluar pengetahuanku. Jadi demi mencegah hal yang tidak diinginkan, aku berusaha memasukkan paksa apa yang kiranya penting. Untukmu dengan bakat orang biasa, ilmu sihir bagi pihak yang lemah ini bisa membantumu bertahan hidup. Walau cara ini tidak direkomendasikan, kolam energimu yang besar pasti mau menoleransi serta bisa segera menyerapnya.”

Seiring bertambahnya sakit di kepalaku, tubuhku berangsur-angsur melemas dan kedua mataku mulai terasa berat. Di ujung kesadaranku aku sempat mendengarkan beberapa ucapan perempuan itu sebelum akhirnya semuanya jadi gelap.

“Aku akan mengirimmu ke dunia tengah yang relatif aman. Sementara aku akan mencari tahu akar dari keanehan ini. Berusahalah tetap hidup dengan ilmu-ilmu sihir lemah itu. Kita akan bertemu lagi di masa depan saat semua ini selesai. Aku harap pencarian tentangmu tepat waktu sehingga…”

Ah perempuan itu terlalu banyak bicara hal yang semakin membuatku pusing. Namun kabar baiknya sekarang aku bisa tidak memikirkannya untuk sementara karena aku tertidur.

‘Ayolah ini pasti mimpi kan?’ Bahkan dalam gelap gulitanya mataku, aku masih belum sepenuhnya tertidur. ‘Pasti sekarang aku akan segera terbangun di kasur di pagi hari. Benar, aku sebentar lagi akan bangun dan menjalani kehidupan normal lagi.’

 Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Posting Komentar