Kenapa Kebanyakan Judul Light Novel Jepang Sekarang Panjang - Panjang. Bagian 3

Daftar Isi

 Bagian 3 : Dampak Pada Ritel Pasar Digital dan Fisik

Strategi judul sinopsis yang ada di Narou tidak serta merta tetap mengendap disana. Saat penerbit mulai mengakuisisi IP web novel. Strategi pemasaran yang baru juga sangat cocok untuk lingkungan ritel modern. Tidak peduli dalam bentuk fisik maupun digital.

Didalam lingkungan ritel buku digital seperti Amazon Japan dan BookWalker. Pembaca dihadapkan thumbnail yang tak terbatas sehingga guliran scroll jadi panjang. Berbanding terbalik dengan deretan grid thumbnail, perhatian konsumen justru sangat terbatas. Dalam konteks ini gambar sampul sangat berfungsi untuk menarik perhatian konsumen, karena kita tentu lebih tertarik dengan gambar dibandingkan tulisan.

Nah mulai dari sinilah fungsi judul sinopsis jadi relevan. Bagi kita mungkin gambar sampul dengan visual indah saja sudah lebih dari cukup. Namun fakta di lapangan membuktikan bahwa light novel dengan gambar sampul indah disertai judul sinopsis panjang. Berfungsi lebih baik sebagai penghenti guliran yang kognitif.

Pertanyaannya kenapa bisa berfungsi lebih baik?

Jawabannya hampir mirip seperti apa yang sudah kuketik diatas. Yaitu judul tersebut memberi konteks instan pada gambar. Sehingga kalau waktu di Narou pembaca hanya disuguhi janji lewat tulisan saja. Sekarang janji itu lebih kuat karena ada visual yang menjelaskan kepada pembaca mengapa mereka harus peduli. Misalnya dalam judul Tensei Shitara Slime Datta Ken. Pembaca melihat gambar slime lucu dan latar dunia fantasi di gambar sampul. Dengan tahunya pembaca bahwa judul yang sebelumnya ia tahu di Narou, lebih memberikan janji yang bisa dibuktikan lewat gambar visual. Itu tentu bisa menghentikan guliran pembaca, apalagi jika pembaca tersebut cocok dengan trope yang ditawarkan.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah Search Engine Optimization (SEO).

Dikarenakan seringnya pembaca modern hanya mencari trope spesifik. Maka judul sinopsis secara fungsional setara dengan string pencarian long tail yang sangat spesifik. Mudahnya kalau pendapatku yang akan datang tidak salah. Judul sinopsis sangat mudah ditemukan oleh pembaca yang hanya mencari judul light novel dengan beberapa kata kunci trope. Misalnya pembaca mencari dengan kata kunci “slime” di pencarian. Maka judul – judul sejenis Tensei Shitara Slime Datta Ken akan muncul. Misalnya lagi seorang pembaca menggunakan kata kunci “laba-laba” Maka judul seperti So I’m Spider, So What? Akan muncul sebagai hasil teratas. Yang mana hal semacam ini sulit terjadi untuk judul-judul samar era 90an macam Boogiepop.

Berbeda dengan buku digital, pada awalnya strategi judul sinopsis tampak kotra intuitif untuk toko buku fisik khususnya di Jepang. Jadi begini, light novel Jepang diterbitkan dalam format bunkobon (ukuran A6). Karena faktor ini punggung buku jadi sangat tipis yaitu hanya setebal 1 cm. Dengan punggung buku yang tipis, tuntutan untuk memasukkan 72 karakter tentu jadi mimpi buruk bagi desain grafis.

Alhasil mimpi buruk itu jadi kenyataan dengan hasil teks yang sangat kecil dan dianggap sulit dibaca. Namun rupanya disinilah paradoks punggung buku terpecahkan. Jadi kan di toko buku di Jepang sana, buku dipajang dengan spine outwards atau punggung buku menghadap keluar karena keterbatasan ruang. Secara konvensional, dengan sistem seperti itu judul pendek tentu lebih gampang menarik perhatian karena tulisan judul yang lebih besar dan jelas. Namun rupanya judul pendek dan samar macam “Wish” jadi tidak terlalu menarik. Di lautan ratusan bahkan ribuan buku di toko. Judul pendek yang tidak informatif memiliki daya tarik nol.

Berbeda dengan judul pendek, judul sinopsis walau dicetak dalam huruf yang kecil-kecil.

Mengubah punggung buku yang tipis tersebut menjadi blurb mini atau micro blurb. Di pasar yang sangat jenuh, pembaca hanya akan perlu menangkap beberapa kata kunci yang menonjol dari micro blurb ini. Misalnya seperti isekai, slime, atau maou dari punggung buku. Alhasil kata kunci yang dihasilkan dari judul sinopsis lebih menjadi hook yang kuat dibandingkan judul pendek namun bisu.

Selain itu judul sinopsis juga melepaskan obi untuk fungsi pemasaran sekunder. Jadi apa itu obi?

Obi adalah selempang kertas yang secara tradisional jadi tempat penerbit untuk menempatkan blurb pemasaran, tagline menarik, dan pengumuman. Dengan adanya judul sinopsis, kelemahan obi yang biasa dibuang pembaca menjadi tidak masalah lagi. Ini tidak lepas dari judul sinopsis yang menjadi iklan permanen light novel, karena menggabungkan premis cerita. Yang sebelumnya jadi inti pemasaran light novel lewat obi, kedalam judul identitas produk light novel itu sendiri.

Posting Komentar