Kenapa Kebanyakan Judul Light Novel Jepang Sekarang Panjang - Panjang. Bagian 2
Bagian 2 : Mesin Pendorong Utama Platform UGC
Diatas sudah dijelaskan secara umum bahwa salah satu tren yang menyebabkan penggunaan judul sinopsis meledak. Adalah kebangkitan platform pastisipatif User Generated Content (UGC.) Dimana di tempat itulah tren penamaan judul ditempa habis-habisan dengan persaingan ketat. Sehingga judul sinopsis berevolusi menjadi strategi bertahan hidup murni para penulis.
Namun sebelum membahas lebih dalam mengenai platform UGC. Kita perlu menjawab lebih dulu pertanyaan sebelumnya mengenai apa sebenarnya platform UGC ini.
Menerjemahkan dari artinya, platform UGC merupakan singkatan dari (Konten Buatan Pengguna.) Dengan kata lain segala bentuk konten, tidak peduli seperti foto, video, ulasan, hingga postingan blog macam ketikan yang kita baca sekarang. Yang dibuat oleh pengguna biasa hingga pengguna perusahaan bisa disebut platform UGC. Jadi kalau kita melihat betapa beragamnya platform novel online sekarang, maka mereka itulah platform UGC yang dulu pada tahun 2000 hingga 2010an. Punya andil besar dalam menggerakkan perkembangan pasar light novel Jepang.
Kalau kita sekarang ada platform Wattpad, Fizzo, maupun Web novel. Di Jepang pada tahun 2004 ada sebuah platform yang mungkin dianggap paling sentral andilnya dalam ekosistem light novel. Alasan reputasi ini tidak jauh-jauh dari peran platform tersebut sebagai laboratorium Darwinian.
Perkenalkan platform Shosetsuka ni Narou, atau kalau dalam bahasa indonesia berarti “Ayo Jadi Penulis.” Jadi platform yang bisa disebut Narou saja ini dibuat sebagai situs web penerbitan mandiri, dimana penulis amatir dapat mengunggah novel mereka secara gratis, dan pengguna membacanya secara gratis. Akibatnya lingkungan ini menciptakan kondisi persaingan yang ekstrem. Yang jauh melampaui apa yang terlihat di pasar penerbitan tradisional.
Bagi seorang penulis baru yang mengunggah karya, mereka secara harfiah adalah satu diantara seribu, sepulu ribu, hingga ratusan dan jutaan penulis lainnya. Penulis yang sangat banyak ini, semuanya berjuang untuk mendapatkan perhatian pembaca yang terbatas. Sehingga dengan visibilitas nol, adaptasi strategi pemasaran yang agresif bukan lagi pilihan, melainkan jadi keharusan untuk bertahan hidup.
Tekanan bagi penulis nyatanya bukan hanya didorong oleh pilihan artistik. Akan tetapi arsitektur teknis dan desain antarmuka pengguna (UI) dari Narou sendiri juga memberikan sesuatu yang lain. Saat pengguna menjelajahi Narou untuk menemukan cerita baru, mereka tidak disajikan sampul yang indah atau sinopsis yang ditulis dengan cermat. Sebaliknya mereka dihadapkan pada daftar peringkat harian hingga bulanan yang menampilkan ribuan karya. Lagipula dalam mode utamanya, Narou tidak menampilkan blurb atau sinopsis disamping judul. Selain itu, web novel amatir pada awalnya tentu tidak memiliki sampul profesional untuk menarik perhatian.
Konsekuensinya menjadi sangat brutal dan secara langsung memaksa penulis untuk menggunakan satu-satunya alat pemasaran, yaitu judul cerita demi memenangkan klik dari para pembaca. Dimana pada akhirnya salah satu cara yang dipilih untuk beradaptasi adalah dengan memasukkan seluruh premis, genre, trope utama, dan hook cerita ke dalam judul.
Tapi bukankah itu malah membuat pembaca jadi risih, dan enggan mengklik karena judulnya kebanyakan dan tidak menjanjikan?
Mungkin bagi kita judul yang merangkap sinopsis ini cukup alay dan berlebihan. Namun faktanya di pasar berkata lain dengan bukti bahwa. Judul panjang macam Tensei Shitara Slime Datta Ken membuat pembaca mengklik judul 100 dari 100 kali dibandingkan judul pendek seperti Boogiepop. Penjelasan yang masuk akal dari fenomena ini terletak pada janji yang ditawarkan. Maksudnya jika kita berbicara tentang Tensei Shitara Slime Datta Ken (Tentang Saat Aku Breinkarnasi Sebagai Slime.) Maka kita bisa mengetahui janji instan dari judul tersebut yaitu. Trope spesifik yang populer reinkarnasi, isekai, dan protagonis non manusia yaitu slime. Bandingkan dengan Boogiepop dan Bakemonogatari yang masih memiliki arti samar yang tidak pasti bagi pembaca. Bisa jadi pembaca tertarik dengan nama yang terkesan unik dan nampaknya menyajikan cerita yang fresh. Namun kenyataannya mereka ditampar dengan cerita berat yang tidak mereka sukai. Sudah buang-buang duit, niat cari cerita untuk hiburan, malah dapat cerita nggak jelas pula. Kira-kira begitulah alasan mengapa judul seperti Tensei Shitara Slime Datta Ken lebih disukai dibanding Boogiepop. Lebih jelas dan lebih pastilah intinya.
Tekanan selektif yang sudah dijelaskan barusan diperkuat oleh sistem peringkat algoritmik Narou. Perang klik yang sudah dijelaskan tidak hanya cuman menarik pembaca. Namun dengan visibilatas platform Narou yang tidak statis, novel yang berhasil memenangkan klik awal. Berkat judul sinopsisnya tentu saja, akan dengan cepat naik ke peringkat atas. Begitu sudah berada di peringkat atas tidak peduli harian, mingguan, maupun bulanan. Novel tersebut akan mendapatkan eksposur yang sangat besar, serta sangat berkesempatan lebar dalam menciptakan positive feedback loop atau umpan balik positif yang kuat.
Bagi industri, calon penulis, maupun calon pembaca sendiri sistem pemeringkatan sukses mengubah Narou menjadi pasar efisien untuk trope. Narou secara baik memenuhi fungsinya sebagai tempat survei pasar real time berskala masif. Ini secara instan menunjukkan kepada industri, calon penulis, dan calon pembaca mengenai trope mana yang paling diminati oleh pasar detik ini juga. Apakah itu isekai, villainess (antagonis wanita), atau slow life (kehidupan santai) dan lainnya.
Dengan kata lain judul sinopsis menjadi mekanisme dimana penulis berusaha menandai (tagging) karya mereka, untuk pasar trope yang sudah dikelompokkan Narou. Hal ini pada gilirannya menyebabkan tingkat homogenisasi yang tinggi. Dimana formula dan trope yang sukses berada di puncak pemeringkatan Narou. Diduplikasi dan diremix dengan cepat sehingga menciptakan apa yang disebut oleh para analis, sebagai database elemen trope yang dapat digabungkan dan dicocokkan oleh penulis.
Posting Komentar