Bab 2 : Kau itu sebenarnya apa
Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa
Sejauh mataku memandang hanya hamparan bunga warna-warni yang menyambut mataku. Selain itu apa yang kulihat ini benar-benar mirip ilustrasi taman surga. Dengan berbagai bunga didalamnya yang disusun dengan rapi. Tapi pertanyaannya kalau apa yang ditangkap mataku ini benar-benar surga. Bagaimana bisa aku berada disini?
Sayangnya rasa penasaranku hanya bisa kuungkapkan pada diriku sendiri, karena sepertinya disini tidak ada orang.
“Jadi ini mirip semacam gurun pasir, tapi bedanya kalau gurun hanya ada hamparan pasir. Disini sejauh mataku melihat, hanya ada bunga mekar.”
Namun yang sebenarnya paling mengherankan adalah kenapa aku masih bisa tenang sekarang. Padahal kalau dipikir model manapun, tempat ini jelas asing dari lingkungan asalku. Yang berarti aku sedang berada jauh dari rumah.
“Kalaupun ini surga, tidak mungkin aku bisa kebingungan dan merasa kosong. Jadi sebenarnya dimana ini.”
Aku terus melangkahkan kakiku melewati bunga-bunga. Walaupun entah bagaimana langit cerah diatas tidak memberikan sensasi hawa panas. Tapi aku perlu sesuatu yang lain, atau kalau boleh minta. Aku pengen bertemu seseorang dan menanyakan perihal tempat macam apa ini.
Sayangnya setelah lebih dari 5000 langkah aku terus berjalan entah kearah mana. Bahkan 1 pohon pun tidak bisa kutemukan alih-alih orang lain. Aku tetap hanya melihat hamparan bunga warna-warni dimanapun aku berada.
Jadi karena merasa perlu menjernihkan pikiran, aku duduk saja di sembarang tempat sembari menatap bunga-bunga yang bergerak karena angin.
“Baiklah bunga-bunga yang baik. Sebenarnya kalian itu apa? Dan apa sebenarnya tempat ini?”
Sesuai dugaan, tidak ada jawaban dari si bunga. Mereka hanya terus bergerak karena terpaan angin pelan yang menyenangkan.
Merasa putus asa karena aku tidak bisa menalar situasiku sekarang. Aku memilih berbaring dan tidur saja. Pikirku mungkin ini hanyalah mimpi aneh yang kebetulan mampir didalam hidupku. Jadi kalau misalnya ini dunia mimpi, harusnya kalau aku tidur maka aku akan terbangun di dunia nyata.
Teoriku barusan tak berdasar dan hanya melakukan cocoklogi karena aku pribadi sedikit banyak sudah putus asa.
“Baiklah, aku akan tidur sekarang. Lagipula hawanya juga lumayan mendukung untuk tidur siang.”
Jadi setelah memutuskan untuk tidur, aku yang merasa tidak tahu berapa lama mataku sudah terlelap. Tiba-tiba mendengar hembusan angin dan beberapa suara ranting-ranting kayu. Selain itu hawa yang kurasakan juga berbeda dari sebelumnya, karena tubuhku merasa lebih sejuk. Dan benar saja, waktu aku membuka mata. Aku sudah tidak di tengah padang bunga lagi. Aku sekarang berada dibawah pohon rindang entah dimana tapi aku tahu 1 hal.
“Jadi aku masih di areal padang bunga, ya. Tapi kok aku bisa ada—”
“Sungguh lucu kalau dipikir-pikir. Lazimnya orang waktu disini akan bahagia dan riang tiada akhir. Tapi malah ada yang tidur dengan bosan.”
Aku menoleh kearah sumber suara, dimana sosok perempuan dewasa datang dari arah belakangku.
‘Ngomong-ngomong kenapa situasi dramatis di film. Dimana seseorang tak dikenal selalu datang dari belakang, terjadi juga kepadaku.’
“Bosan? Nampaknya anda tahu tadi saya jalan-jalan sebentar di sekitar sini, ya.”
“Tentu saja aku tahu.” Jawabnya dengan senyum menjengkelkan. “Lagipula ini adalah wilayahku, jadi aku tahu semua hal yang ada disini. Termasuk seorang penyusup yang diluar dugaan bisa masuk kemari.”
Tunggu sebentar, perempuan ini menuduhku sebagai penyusup? Namun mengingat semua hal yang tidak masuk akal ini. Aku tidak boleh gegabah menanggapi atau hal yang lebih buruk akan terjadi kepadaku.
“Sebenarnya saya tidak pernah berniat menyusup ke wilayah anda atau semacamnya.” Jawabku dengan seringai yang kubuat-buat. “Saya sebelumnya hanya tertidur di rumah kemudian terbangun disini dengan kebingungan.”
“Aku tahu.”
Jawabannya yang pendek semakin membuatku bingung. “Ka kalau anda tahu, bi bisakah anda menunjukkan dimana jalan keluar dari sini?”
“Lazimnya jalan keluar dari ruang sihir itu mustahil selain membunuh si pemilik ruang sihir tersebut. Namun karena ini ruang yang fungsinya dibelokkan dibanding ruang sihir biasa. Bahkan untuk menemukan titik ruang tersebut pun, hampir tidak ada penyihir yang bisa melakukannya. Sekarang kau yang sulit kudeteksi berhasil menyusup ke tempat mustahil ini. Bertanya kepadaku bagaimana caramu keluar. Kau bercanda, ya?”
Sepanjang aku hidup, aku pernah mengalami situasi membingungkan dimana hidup terasa tidak adil dan tidak masuk akal. Namun sekarang aku malah mendengar istilah ruang sihir yang terasa seperti sebuah lelucon.
“Kau memiliki kolam energi sihir sebesar itu, tapi menganggap apa yang kukatakan barusan adalah sebuah lelucon? Jujur saja sekarang aku yang malah bingung kepadamu.”
‘Heh dia bisa mendengar suara internalku?’
“Tentu saja aku bisa mendengarmu sejak kau terdeteksi masuk wilayahku. Kau pun harusnya tahu hal semacam itu— Eh apa kau benar-benar tidak paham semua ini?”
‘Astaga ya tuhan!’
Aku terduduk di salah satu akar timbul pohon dimana kami mengobrol. Sejak awal aku sudah bingung tempat macam apa ini, dan bagaimana aku bisa berada disini. Sekarang sebelum pertanyaan awalku terjawab, hal-hal aneh lainnya sudah memenuhi kepalaku. Entah itu sihir lah, wilayah orang ini lah, dia bisa tahu apa yang kupikirkan lah, hingga kolam-kolam apa tadi katanya. Ini sebenarnya mimpi macam apa sih?
“Asal kau tahu saja ini bukanlah alam mimpi.”
‘Nah dia melakukannya lagi ya tuhan.’
Sejenak aku membuat telapak tanganku mengusap-usap dahi kemudian kepala karena sedikit pusing dengan apa yang terjadi. Kemudian aku memutuskan untuk berdiri kembali bertatap muka dengan perempuan yang tidak kukenali ini.
“Baiklah-baiklah saya akan menerima begitu saja apa yang anda telah deskripsikan mengenai diri saya. Jadi bisakah anda sekarang memberitahu jalan keluar dari wilayah anda ini, supaya saya bisa segera kembali ke rumah.”
“Kau bisa memasuki ruang sihirku yang tersembunyi dengan mudah. Harusnya kau juga bisa keluar dengan sama mudahnya.”
“Saya tidak bisa dan jujur saja saya tidak tahu apapun yang anda bicarakan sebelumnya mengenai sihir.”
Perempuan itu melihatiku sejenak kemudian menghela napas. “Aku tidak bisa mendeteksi bahwa kau berbohong.”
“Nah anda sudah mengerti kan sekarang, jadi bisakah kita mulai cerita tentang jalan keluarnya?”
Melihat wajah betenya yang diikuti dengan anggukan kecil. Aku merasa sedikit lega karena mungkin mimpi aneh ini akan segera berakhir. Namun saat aku mulai memikirkannya, aku tiba-tiba terduduk bersila hingga aku merasa sangat kaget dengan apa yang terjadi.
“Sebelum membuka ruang sihirku, aku akan melihat dulu secara lebih dalam sebenarnya apa kau ini. Kau tidak keberatan, kan?”
“Selama saya bisa kembali. Silahkan cek sihir saya atau apalah itu.”
Setelah dirasa sama-sama setuju, ia pun ikut duduk bersila dan lanjut memegang dahiku. Walau aku agak terganggu soal betapa kuatnya cengkeraman perempuan ini di kepalaku. Anehnya aku tidak merasa terintimidasi atau sejenisnya.
“Hmmb…”
Merasa sudah lelah memikirkan hal-hal yang tidak pasti, aku memilih melihat saja padang bunga demi mengisi waktu luang saat perempuan ini mengecek sesuatu.
“…”
Saat dirasa sudah cukup lama dia memegang dahiku dan kami tidak saling ngobrol. Telapak tangannya akhirnya terlepas juga dari kepalaku dengan ekspresi heran.
‘Aku punya perasaan tidak enak perihal ini. Mungkinkah dia tidak mau melakukannya?’
“Kau sungguh membingungkan. Kau memiliki kolam energi sihir sangat besar sepertiku. Namun kenapa kau terlahir menjadi orang biasa. Padahal untuk kolam sebesar itu, menjadi ahli kitab saja sudah sangat mengecewakan. Tapi kenapa kau alih-alih jadi penyihir murni, Kesatria, benteng, atau ahli kitab sekalipun. Kenapa kau hanya diberkati untuk menjadi orang biasa. Apa juga makna kolam energi sebesar itu bagi orang biasa. Sungguh kasihan sekali kau wahai anak muda.”
Menanggapi keheranan super dramatisnya yang tidak kumengerti itu. Aku hanya bisa tersenyum.
Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa
Posting Komentar