Bab 1 : Celotehan orang tidak spesial

Daftar Isi

Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Namaku Kiki Alamsyah. Aku hidup serta tumbuh di suatu perdesaan kecil di Madiun. Saat ini aku berumur 25 tahun. Sebuah umur yang cukup populer di media sosial, karena sering disandingkannya narasi umur tersebut dengan suatu hal. Yaitu “Di umur 25 tahun, lo harus dapat uang 25 juta pertama minimal.”

Walaupun aku bisa dianggap gagal, memenuhi kriteria yang cukup populer di platform buatan China itu. Aku juga bukan bagian dari mereka yang menghujatnya, seolah-olah itu adalah kriteria yang menyesatkan. Hanya saja yang terkadang membuatku heran, kenapa beberapa kenalanku menganggap ini secara serius. Hingga salah satu diantaranya harus dibawa ke psikiater, karena merasa gagal di pencapaiannya di umur 25 tahun.

“Jadi si Aji itu sudah dibawa pulang ke rumah, ya?”

“Sudah pak. Kemarin sehabis pulang kerja, saya kebetulan sempat mampir ke rumahnya.” Jawabku dengan mengangguk kemudian menyeruput kopi pahit.

“Tapi kamu sendiri tidak seperti itu, kan?”

“Maksud anda?”

Pria paruh baya sampingku mengeluarkan asap rokok dari mulutnya sebelum menjawab. “Maksudku kau sendiri juga mengalami hal yang kurang lebih mirip. Jadinya…”

“Mmb soal saya yang gagal tes CPNS itu, ya?”

“Aku tidak bilang lho. Kau sendiri lho ya yang menyebutkannya.”

Sekarang aku terheran – heran melihat lawan bicaraku di emperan warung ini. Dia yang pertama menguliknya, dia juga yang pertama merasa tidak bertanggung jawab soal itu.

“Terus kalau misalnya saya menyebutkannya juga kenapa, Pak.” Jawabku terkesan tidak peduli. “Lha wong saya nyatanya gagal. Jadi dipikir bagaimanapun saya sudah gagal hari itu.”

Aku yang hanya melihat pemandangan remang-remang didepan agak kaget waktu pundakku disentuh.

“Maksudku le, kamu harus sebisa mungkin jangan jadi seperti Aji. Jangan terlalu dipikirkan kalau gagal tes. Hidup ini tidak serta merta runtuh hanya karena kalian tidak jadi pegawai negeri.”

Sebenarnya sejak awal, aku pun sudah mengantisipasi kalau-kalau aku gagal tes khususnya perihal mentalku. Tapi tentu saja mengatakan hal semacam itu untuk menanggapi pendapat lawan bicaraku saat ini rasanya akan tidak sopan. Toh dia juga tidak bermaksud buruk dengan ucapannya barusan.

“Siap pak, terima kasih atas nasihatnya.”

Melanjutkan obrolan hingga maghrib, aku pamit pulang dengan dalih ingin segera mandi dan ke masjid. Walau alasan ke masjid barusan bukanlah kebohongan, namun alasan sebenarnya dari sikap undur diriku adalah karena aku sudah lelah.

Tadi saat pulang kerja di jam 3 sore, aku menyempatkan mampir di suatu taman kota untuk merilekskan pikiran dan olahraga. Sehingga waktu mampir ke warung di jam setengah 5, badanku posisinya sudah cukup capek karena habis lari-lari di taman. Walau begitu karena sekalian mengambil uang dari jajanan yang dititipkan ibu. Aku akhirnya ngopi juga di warung dan ngobrol dengan beberapa orang.

Sepulang dari masjid, sembari menunggu waktu isyak. Aku langsung menyalakan komputer dan mengabaikan seru-seruan dari ibu. Normalnya sikapku bisa dianggap tidak sopan karena terkesan meremehkan orang tua. Namun harusnya dosaku bisa dikurangi karena bahasan yang dibawa ibu juga tidak menyenangkan.

Bayangkan, anaknya yang kurang dari sebulan lalu gagal tes. Bukannya dihibur seperti Aji, malah disuruh cepat menikah dengan perempuan yang merupakan anak dari kenalannya. Dikira ini masih jaman dulu apa, main jodoh-jodohan. Lagipula walau umurku sudah menginjak 25 tahun, aku masih belum tertarik untuk menjalin hubungan lagi dengan perempuan. Aku masih belum siap menghadapi drama-drama mereka lagi.

“Hehe… daripada memikirkan hal-hal diluar nalar. Mari puaskan keinginan masa kecil yang belum tercapai lebih dahulu.”

Masuk ke sebuah game, senyumku sudah mulai merekah bahkan saat masih di menu awal. Dan disaat aku mengklik menu “new game” pikiranku sudah tidak kemana-mana lagi. Selain takjub dengan apa yang disajikan layar monitor ke mataku.

“Tidak sia-sia bro rakit PC hingga habis lebih dari 20 juta.”

Walaupun masih jauh dari kata mentok soal spek. Setidaknya bagiku cukuplah karena mayoritas game yang kubeli berjalan 60 FPS an bahkan ada yang lebih. Lalu selain FPS, resolusi yang kudapat juga jauh lebih tajam dibandingkan saat aku main game di rentalan dulu.

Singkat cerita, aku bahkan tidak istirahat walau adzan isyak berkumandang. Palingan aku hanya mem pause game ku untuk menghormati suara adzan. Juga berhubung game yang kumainkan adalah RPG, dimana grindingnya lumayan keras banget untuk meningkatkan status karakter. Ditambah waktu sholat isyak yang relatif panjang. Aku pilih lanjut main game hingga jam 8 lewat.

Sedikit cerita soal kesukaanku bermain game, ya. Jadi memang aku suka sekali game yang membangun dari nol. Sebuah ungkapan yang cocoknya adalah zero to hero, tidak peduli itu game RPG hingga game simulasi. Selama didalam game itu aku mengawali titiknya dari bukan siapa-siapa, sama seperti hidupku yang kujalani sekarang. Aku pasti akan menyukainya.

Selesai bermain game dan selesai sholat isyak di hampir jam 9 malam. Aku membuka pesanpesan online di akunku sebelum menuju ke kasur. Sebenarnya sebagian besar pesan yang memenuhi bilah notifikasiku berasal dari grup tempat kerja. Selebihnya paling hanya pesan dari beberapa teman dan rekan, seperti.

[Bro gimana? Rista cocok kan dengan tipe pacar idamanmu?]

Aku menggeleng sebelum membalas. [Sembarangan aja kalau bicara. Lagian darimana kau dapat istilah “Pacar idaman” barusan.]

Beralih ke grup kerjaan. Aku melihat cukup banyak basa-basi disana antar sesama rekan kerja. Walau pada dasarnya aku malas ngecek grup ini, aku harus selalu mengeceknya sebelum tidur. Karena sebagai tindakan jaga-jaga kalau misalnya ada perubahan rencana kerja mendadak dari atasan.

Namun setelah beberapa kali scroll dan melihat beberapa dokumen yang dikirim dalam grup. Nampaknya tidak akan ada sesuatu yang genting di grup ini. Toh kalaupun ada dan bos butuh denganku, dia akan langsung telepon tidak peduli itu di jam 1 malam. Jadi singkatnya hari ini, tanpa menunggu balasan pesan dari 1 temanku sebelumnya. Aku putuskan untuk menghentikan koneksi internetku dan beranjak ke kasur sambil bawa buku.

Menjelang jam 10, aku menutup bukuku dan mulai tidak melakukan apapun sambil melihat langit-langit.

“Haaaah… hari ini cuman ada beberapa insiden kecil di tempat kerja. Jadi untuk terakhir kalinya sebelum tidur, aku bersyukur kepada anda lagi ya tuhan.” Jeda sebentar kuambil demi menghela napas. “Semoga besok aku tetap bisa berpikiran dingin saat ada masalah ataupun drama. Tidak peduli aku tetap jadi orang biasa seumur hidup, setidaknya aku harus tetap bisa menjaga kestabilan hidupku.”

Dalam mata kantukku di jam 10 lewat sedikit, suara-suara internal dalam diriku masih saja berceloteh.

‘Tidak peduli besok dunia jungkir balik, UFO datang, atau hal absurd lainnya terjadi. Mari berjuang mencapai ketenangan hidup, Kiki. Tidak perlu jadi orang berbakat. Cukup jadi diri sendiri dan gunakan otakmu untuk survive supaya tetap hidup.’

Semakin mataku menutup sepenuhnya, celotehan dalam diriku menjadi semakin menyedihkan berkat ingatan masa lalu. Dimana aku harus menerima fakta bahwa aku bukanlah orang spesial.

Aku Terlempar ke Dunia Fantasi dan Tetap Jadi Golongan Orang Biasa

Posting Komentar