Kenapa Perusahaan Apple Masih Perkasa Aja Hingga Sekarang Bagian 5

Daftar Isi

Kalau sebelum-sebelumnya bahasan mengenai layanan berbayar Apple adalah seputar Apple TV+, Music, dan Cloud. Sekarang mari membahas bagian yang disebut-sebut sebagai kelemahan Apple.

Jadi baru-baru ini atau mungkin sudah agak sedikit lama, kita dihebohkan dengan munculnya AI yang bisa diajak ngobrol dan menjawab semua pertanyaan kita. Dalam waktu singkat, sebuah hal yang sebelumnya hanya bisa kita saksikan lewat film Iron Man. Yang waktu Tony Stark ngobrol dengan AI bernama Jarvis itu. Kita mendadak bisa melakukannya juga sekarang.

Bahkan kita bisa memilih AI mana yang akan kita gunakan, entah itu ChatGPT, Gemini, Grok, Deepseek, atau Qwen. Hebatnya kita pun bisa menggunakan semua nama kecerdasan buatan barusan secara gratis. Walaupun memang dibatasi kuota untuk fitur-fitur tertentu, ini jelas langsung menggeser paradigma kita dalam mencari informasi baru di internet. Contohnya nih, dulu waktu jamanku cari informasi untuk laporan praktek atau skripsi. Aku cari manual di Google, menyusuri blog-blog antah berantah yang kadang sumbernya nggak jelas.

Tapi setelah ada AI, jelas pengumpulan informasi anak sekolah atau kuliahan akan berbeda. Dulunya yang kita berpatokan pada wikipedia sebagai sumber awal yang mudah dan terpercaya. Sekarang kita hanya perlu ketik saja kata kunci pentingnya dalam AI dan boom. Kita bisa membuat AI tersebut mengumpulkan informasi sebanyak yang kita mau. Tentu saja kalau butuh sumber dari penjelasan AI barusan. AI pun tidak keberatan mengumpulkannya sesuai intruksi.

Dari penjelasan singkatku tentang AI diatas, mungkin banyak yang tidak percaya. Bahwa perusahaan sebesar Apple yang canggih, lambat merespon pada bidang ini.

Yang memperparah situasi hingga membuat para investor takut, yang kemudian juga membuat peringkat Apple di pasar saham merosot ke peringkat 3. Adalah faktor ironis, dimana Siri yang sebenarnya telah membuat gebrakan kemajuan kecerdasan buatan saat pertama kali rilisnya. Namun hingga akhir tahun 2025 ini, kemampuan Siri malah terkesan kuno. Jika dibandingkan dengan Gemini dan ChatGPT.

Jadi apakah Apple akan melepas sektor AI ini? Toh layanan lain juga sudah menghasilkan kok.

Jawabannya jelas tidak. Walaupun gebrakan Apple tidak terlihat seniat Google atau OpenAI. Apple sendiri sudah masuk ke dalam ruang AI generatif yang punya nama merek Apple Intellegence. Menariknya, Apple dikatakan mempertaruhkan masa depan AI miliknya yaitu Siri. Pada arsitektur hibrida yang memprioritaskan privasi dan pemrosesan di perangkat atau on device.

Landasan strategi AI Apple yang disebut Private Cloud Compute (PCC). Mengatasi ketegangan mendasar antara tuntutan komputasi Large Language Models (LLM) dan persyaratan privasi data pribadi. PCC dirancang sebagai sistem komputasi yang stateless atau tanpa status, sehingga data pengguna tidak pernah disimpan secara persisten.

Penjelasan lebih mudahnya, dalam komputasi stateless. PCC menggunakan data pengguna pribadi secara eksklusif untuk memenuhi permintaan pengguna, dan menghapusnya segera setelah itu. Data tidak akan pernah disimpan, dicatat, atau dapat diakses oleh insinyur Apple.

Kalau melihat poin penjelasan ini saja, berarti bisa disimpulkan bahwa AI Apple atau Siri akan sangat menjadi milik pengguna sepenuhnya. Tapi kalau data yang tersimpan akan segera dihapus dan tidak dipelajari insinyurnya Apple. Berarti Siri bisa dianggap akan sulit untuk jadi sepintar ChatGPT atau Gemini secara mentahnya.

Di informasi selanjutnya, Apple dikatakan telah mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yaitu mengizinkan peneliti keamanan untuk memeriksa tumpukan perangkat lunak PCC. Melalui Lingkungan Penelitian Virtual atau Virtual Research Environment (VRE). Selanjutnya perangkat lunak yang berjalan pada node PCC dibuktikan secara kriptografis. Yang berarti perangkat pengguna akan menolak untuk berkomunikasi dengan server kecuali tanda tangan perangkat lunaknya. Cocok dengan versi yang dicatat dan diverivikasi secara publik.

Sejujurnya aku pun bingung di bahasan teknis ini, namun aku akan coba bedah informasinya sesederhana mungkin. Jadi setelah aku cari tahu kesana kemari, inti masalah dari pembahasan diatas adalah pada privasi data kita yang tersimpan pada cloud. Penjelasan lebih sederhananya benar-benar membuatku sakit kepala, tapi bayangkan saja ini semacam layanan cloud seperti Google drive atau dropbox. Bagi yang benar-benar tidak paham apa itu layanan cloud seperti Google Drive atau Dropbox. Penjelasan singkatku adalah mereka itu semacam kartu memori, yang bisa menyimpan foto, video, atau file lainnya. Intinya mereka seperti kartu memori penyimpanan namun dalam bentuk digital tak terlihat.

Kalau sudah bisa membayangkan apa itu layanan cloud. Kita akan masuk ke pembahasan bahwa layanan cloud ini biasanya berjanji bahwa orang dalam mereka. Tidak akan mengintip isi dari cloud kita. Jadi mau isinya bokep atau rahasia nuklir negara itu terserah urusan pengguna. Mereka hanya penyedia layanan cloud saja, janjinya.

Masalahnya untuk membuktikan omongan mereka bisa dipercaya atau tidak. Kita tidak bisa membuktikannya karena kita tidak bisa mengecek mesin server mereka.

Apple disisi lain ingin mengubah hal itu. Apple bilang “Jangan Cuma percaya omongan kami, silahkan cek sendiri.”

Sebagai penjelasan lanjutan untuk istilah-istilah rumitnya. Kita bisa anggap PCC sebagai server khusus milik Apple. Yang digunakan untuk memproses data AI yang terlalu berat jika diproses di HP. Kedua ada VRE, anggap saja mereka simulator. Simulator itu kalau kata Google berarti program komputer yang meniru perilaku sistem di dunia nyata, untuk semacam eksperimen atau penelitian. Di perusahaan Apple, mereka mengizinkan para peneliti keamanan untuk mengotak-atik tiruan perangkat lunak server mereka. Tujuannya adalah untuk mencari celah keamanan tanpa membahayakan pengguna asli.

Selanjutnya ada yang namanya dibuktikan secara kriptografis yang dianggap jadi bagian paling penting. Anggap bagian ini sebagai ktp digital atau sidik jari yang unik dan sah. Di bagian menolak berkomunikasi, iPhone akan diprogram untuk jadi satpam yang galak. Jadi sebelum iPhone mengirim data ke server misalnya tanya Siri, iPhone akan minta lihat ktp digital tadi. Kalau ktpnya tidak cocok dengan catatan publik resmi, iPhone akan langsung memutus koneksi dan data tidak akan dikirim.

Harusnya penjelasan ini sudah cukup. Tapi karena menurutku masih membingungkan, mari buat analogi lebih sederhana dari penjelasanku sebelumnya.

Bayangkan kembali kalau Apple adalah warung tendaan seperti tadi. Biasanya di bagian dapur yang dibuat tertutup, kita tidak tahu apakah koki meludahi makanan kita atau tidak. Kita Cuma bisa berharap, kalau olahan daging sapi kita yang mahal tidak akan dimasak secara absurd.

Dengan sistem Apple yang penjelasannya njelimet diatas. Apple membuat dinding kaca atau malah tidak ada dinding sama sekali. Selain membuatnya terbuka untuk bisa dilihat pengguna. Apple juga mengundang inspektur kesehatan independen untuk memeriksa dapur setiap hari. Sementara itu si pelayan yang bernama iPhone, akan punya aturan ketat yang berbunyi. “Saya tidak akan mengambil makanan dari dapur. Kecuali koki menunjukkan sertifikat kebersihan yang asli dan terbaru saat itu juga. Kalau sertifikatnya beda sedikit saja, saya tidak mau mengambil makanan dari dapur.”

Kira-kira seperti itulah analoginya yang lebih mudah.

Poin informasi terakhir terkait pengembangan AI Apple berbasis pada privasi adalah Non Targetability. Maksudnya desain sistem akan memastikan bahwa penyerang tidak dapat mencoba mengkompromikan data pirbadi milik pengguna PCC tertentu. Yang ditargetkan tanpa mencoba kompromi luas dari seluruh sistem PCC.

Penjelasan sederhananya. Jika seorang hacker ingin mencuri data si A, maka mereka akan fokus mencari celah di akun si A. Akun si B, C, dan D aman-aman saja. Namun Apple membuat aturannya berbeda dalam sistem PCC miliknya. Aturan Apple perihal ini akan memaksa hacker untuk menjebol semua server yang dipakai jutaan orang. Alasan kenapa ini aman, karena mencoba merusak seluruh server itu sangat sulit dan hampir mustahil secara teknis. Kedua, karena harus menjebol semuanya maka prosesnya akan sangat berisik sehingga akan langsung ketahuan oleh Apple.

Analoginya. Jika sebuah bank menggunakan sistem penyimpanan uang biasa yaitu didalam brankas. Maka pencuri bisa datang diam-diam, mencongkel laci milik target, mengambil uangnya, lalu pergi tanpa mengganggu nasabah lain.

Di sistem Apple, laci-laci itu akan saling terikat satu sama lain dengan struktur bangunan. Efeknya jika pencuri ingin mengambil isi salah satu laci. Maka dia harus meledakkan seluruh gedung bank, yang mana ini jelas secara logika mustahil dilakukan secara diam-diam.

Intinya meskipun model Apple saat ini mungkin tertinggal dibanding GPT-4o atau Calude 3.5 dalam penalaran mentah. Apple bertaruh pada jaminan integrasi dan privasi yang tidak dapat direplikasi oleh aplikasi pihak ketiga. Yaitu AI yang dapat membaca email, kalender, dan pesan mereka secara aman. Apple percaya AI yang seperti itu lebih baik daripada chatbot yang lebih pintar, namun mengharuskan pengunggahan data ke pihak ketiga untuk dipelajari.

Untuk peluncuran Apple Intelligence sepanjang tahun 2025, ditandai dengan penundaan dan rilis fitur yang bertahap. Walau mungkin niatnya terus melakukan perbaikan demi keoptimalan fitur ini secara penuh. Penerimaan pasar yang cukup beragam harus diterima oleh Apple.

Misalnya untuk IOS 18.1-18.2 di akhir 2024 atau awal 2025. Pengenalan fitur dasar seperti “Writing Tools,” “Clean Up in Photos,” dan “Genmoji.” Cukup diterima sebagai fitur yang bagus untuk dimiliki. Tapi dianggap tidak transformatif dan seringkali dikritik sebagai hal receh, jika dibandingkan dengan kemampuan pesaing. Misalnya seperti Samsung atau merek-merek China.

iOS 18.4 di musim semi 2025 ada perluasan dukungan bahasa ke bahasa Mandarin, Prancis, dan Spanyol. Kemudian integrasi ChatGPT untuk kueri yang tidak dapat ditangani oleh model Apple.

Dan penundaan “Personal Siri” di IOS 19 yang dianggap sebagai fitur yang paling dinanti. Karena kemampuan Siri ini dipercaya mampu memahami konteks pribadi lintas aplikasi. Misalnya, “Kapan penerbangan kakak saya mendarat berdasarkan email yang dia kirim?”

Walau peluncuran bertahap ini cukup banyak menimbulkan kritik bahwa Apple tertinggal. Namun disisi lain berdasarkan data, janji AI Apple sudah cukup untuk mendorong peningkatan penjualan perangkat keras, bahkan jika utilitas penuhnya belum direalisasikan. Intinya Apple sudah mampu bersaing dengan merek-merek lain. Bahkan disaat mereka baru sekadar berjanji.

Buktinya pada Q4 2025, pendapatan iPhone tumbuh 6% menjadi $49 miliar. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa walau Apple terus dikritik terkait penundaan rilis fitur. Strategi mereka tersebut jika dikombinasikan dengan fundamental perangkat keras yang kuat. Dapat mempertahankan pertumbuhan pendapatan mereka.

Posting Komentar