Kenapa Perusahaan Apple Masih Perkasa Aja Hingga Sekarang Bagian 6

Daftar Isi

Selain investasinya di sumber daya manusia dan ekosistem, Apple melakukan rekayasa finansial demi membuat investor tetap setia memegang sahamnya. Caranya mereka melakukan pembelian kembali saham atau buyback.

Sedikit mundur di tahun 2024, Apple mengesahkan program pembelian kembali saham terbesar dalam sejarah AS yaitu $110 miliar. Walau memang alokasi sebenarnya adalah $94,95 miliar. Sisa dana tersebut tetap diikutkan dalam alokasi tahun 2025, yang berakibat pada pengurangan signifikan pada jumlah saham.

Strategi ini, menjadikan Apple sebagai perusahaan yang paling agresif di S&P 500 dalam melakukan buyback saham. S&P 500 sendiri singkatan dari Standard & Poor’s 500. Ini adalah daftar 500 perusahaan terbesar dan paling top di bursa saham Amerika.

Pertanyaannya, kenapa Apple membeli sahamnya sendiri? Apakah Apple berniat berubah dari perusahaan publik ke privat?

Jawaban sederhananya kenapa Apple melakukan buyback. Karena strategi ini berfungsi sebagai mekanisme yang kuat untuk mendukung pertumbuhan laba per saham (EPS), bahkan ketika pertumbuhan pendapatan Apple sedang biasa-biasa saja.

Analogi mudahnya anggap saja Apple sebagai pemilik rumah sedang mengadakan pesta. Di pesta tersebut, Apple menyediakan 10 permen saham kepada 10 tamu investor. Rekayasa yang dilakukan Apple kira-kira begini.

Kalau misalnya Apple hanya diam dan melanjutkan pesta seperti biasa, maka tamu investor mungkin hanya kebagian 1 permen saham. Itu saja kalau permen sahamnya utuh, tidak dimakan semut laba pas-pasan.

Karena Apple sadar bahwa rumahnya gampang rawan semut laba pas-pasan. Apple mengeluarkan uang dari kasnya untuk menyuruh 2 orang tamu investor pulang. Walaupun 2 tamu investor tersebut sedikit banyak diusir dari rumah. 2 tamu investor tersebut tetap senang karena diberi uang senilai harga permen sahamnya. Sementara 8 lainnya juga senang, karena bagian mereka tidak lagi 1 permen saham perorang. Tapi mendapat 1 seperempat permen saham.

Nah kalaupun setelah ini ada semut laba pas-pasan datang. Sebagian kecil dari permen saham yang diambil semut itu, jadi tidak akan dilihat dan dihiraukan tamu investor. Toh mereka sudah dapat tambahan seperempat permen Cuma-Cuma, dengan status permen lebih berharga dari sebelumnya.

Jadi kurang lebih Apple melakukan apa yang dijelaskan dalam analogi permen diatas dari tahun ke tahun. Ini jugalah yang memperkuat kritik atas Tim Cook CEO Apple. Sebagai CEO yang lebih disukai investor dibanding pengguna Apple sendiri.

Secara matematika, dengan Apple memensiunkan ratusan juta saham setiap tahun. Apple secara permanen mengurangi penyebut dalam perhitungan EPS, atau mudahnya mengurangi tamu investor tadi dengan jumlah permen tetap. Ini membuat saham menarik bagi investor yang berorientasi nilai dan dana indeks. Bahkan dengan pajak cukai 1% atas pembelian kembali yang diperkenalkan pada tahun 2023. Strategi ini tetap efisien pajak dibandingkan dengan deviden.

Setelah mengetahui rekayasa finansial yang dilakukan oleh Apple, rasa penasaran pribadiku mulai mengambil alih. Berbeda dengan rasa penasaran sebelumnya yang disebabkan oleh informasi berbahasa sangat teknis. Sekarang aku lebih ke penasaran, apa untungnya Apple melakukan semua rekayasa finansial ini. Apa mereka menggelontorkan uang hingga ratusan miliar dollar hanya demi memperbaiki rapor. Maksudku supaya EPS atau harga per satu lembar saham mereka naik, disaat beberapa sektor bisnisnya mengalami stagnasi. Apakah benar hanya demi itu dan tidak ada alasan lain?

Sayangnya orang-orang sekitarku yang lulusan bisnis hampir tidak ada. Dan karena kenalanku hampir semuanya lulusan pendidikan guru. Saat kutanyai hal ini pun, mereka semua tidak mengerti.

Merasa buntu keliling rumah kenalan dan warung sekitar, aku akhirnya memutuskan untuk menggunakan saja Gemini AI. Sebagai informasi, karena bahasannya harus benar-benar menggunakan informasi terpercaya. Aku memilih menggunakan Gemini versi 3 Pro dalam berdiskusi mengenai pertanyaanku sebelumnya.

Dari diskusi tersebut aku akhirnya menemukan beberapa alasan kuat, tentang kenapa Apple mengambil langkah yang terkesan terlalu memanjakan investor.

Pertama dan yang sudah kusebutkan sebelumnya. Apple sedang berusaha mempercantik rapor perusahaannya. Di dunia saham, rapor perusahaan dinilai dari seberapa besar keuntungan per satu lembar saham atau EPS. Terus apa keuntungan dari rapor saham yang baik ini?

Jawabannya adalah demi menjaga reputasi Apple sebagai perusahaan yang selalu bertumbuh. Meskipun sebenarnya penjualan produk aslinya sedang melambat.

Apakah hanya itu?

Tidak. Inti dari kenapa Apple melakukan buyback bukan hanya sekedar menjaga citra. Tapi dengan membuat rapor tetap baik. Apple menjaga supaya sahamnya tidak jatuh dan tetap menggiurkan bagi investor.

Perusahaan Apple itu punya banyak uang tunai

Alasan kedua Apple melakukan buyback adalah untuk membuang uang nganggur atau efisiensi kas. Jadi sebenarnya Apple itu perusahaan yang terlalu kaya dengan ratusan triliun berada di bank. Masalahnya kalau uangnya Cuma didiamkan di bank. Investor akan marah dan curiga kenapa uang sebanyak itu tidak digunakan lagi menjalankan bisnis.

Tapi karena Apple sangat teliti dalam membuka divisi baru. Apalagi setelah divisi mobil listrik mereka tidak berjalan. Apple memilih untuk menginvestasikannya ke dirinya sendiri. Langkah ini menunjukkan ke publik bahwa Apple sangat percaya diri dengan masa depannya. Sampai-sampai berani memborong sahamnya sendiri.

Alasan ketiga sekaligus yang terakhir, Apple berusaha mengatrol harga saham dengan hukum permintaan dan penawaran. Kalau ingat permisalan pesta permen saham Apple tadi, maka memahami ini akan terasa mudah. Yaitu jika saham publik di pasar semakin sedikit karena diborong dan disimpan Apple. Sementara peminatnya masih tetap atau tambah sedikit saja. Maka saham yang ditawarkan cenderung ditekan dari jumlah permintaan. Hasilnya harga saham Apple naik serta stabil. Dengan stabilnya harga saham, perusahaan akan aman dari gejolak ekonomi. Sekaligus membuat karyawan Apple senang, karena banyak karyawan Apple digaji pakai bonus saham.

Walau sudah dijawab dengan 3 jawaban yang cukup meyakinkan. Aku masih punya pertanyaan lagi terkait ini.

Pertanyaannya sampai kapan cara buyback akan efektif diterapkan oleh Apple. Bukankah dengan alasan apapun, cara yang dilakukan Apple sekarang hanya cara sementara untuk menutupi pendapatan yang melambat?

Memang Apple berusaha menutupi perlambatan pendapatannya akibat beberapa sektor mengalami stagnasi. Dan buyback adalah obat kuat finansial untuk menjamin hal itu. Masalahnya sekarang mirip dengan pertanyaan diatas. Obat kuat bernama buyback tetaplah hanya obat kuat. Ia bukan vitamin pertumbuhan alami. Sehingga seperti halnya obat kuat secara harfiah, efek obat itu pasti ada batasnya.

Pertanyaan sebelumnya adalah sampai kapan buyback ini akan efektif diterapkan oleh Apple. Apakah Apple akan terus melakukannya hingga saham publiknya habis?

Secara teori memang masuk akal kalau misal Apple terus-terusan melakukan buyback, saham publiknya bisa jadi habis. Kalau saham publiknya habis, Apple akan keluar dari bursa saham dan jadi perusahaan privat. Namun realitanya skenario ini hampir mustahil terjadi.

Apple itu punya valuasi sekitar $3 Triliun. Walau uang kas mereka banyak hingga disebut sebagai perusahaan yang terlalu kaya. Uang kas mereka tidak sebanyak itu hingga mampu membeli seluruh perusahaan. Faktor lainnya yang membuat ini semakin mustahil. Semakin banyak saham yang dibeli Apple, harga sisa saham di pasar akan semakin mahal dan langka. Jadinya biaya buyback akan menjadi terlalu mahal, dan tidak masuk akal lagi nanti di masa depan.

Inilah inti dari kritik yang sempat dibahas di ketikan awal. Para kritikus yang menyebut trik buyback Apple ini sebagai financial engineering. Menganggapnya hanya cocok untuk rencana jangka pendek atau menengah. Untuk jangka panjang misalnya 10 hingga 20 tahun kedepan, cara Apple ini sangat berbahaya bagi perusahaan.

Kalau buyback tumpul, trip apalagi yang harus digunakan Apple?

Sebagai jawaban singkat sih, Apple harus kembali ke cara lama. Yaitu inovasi produk dan model bisnis baru.

Gambaran inovasi Apple baru-baru ini

Untuk bagian model bisnis baru, sebelumnya telah kita bahas bahwa Apple sudah tidak terlalu bergantung lagi dengan iPhone. Mereka sudah meraup sangat banyak uang dari ekosistem layanannya seperti iCloud, Music, TV+, dan lain-lain. Ini jelas uang yang lebih pasti dibandingkan dengan jualan iPhone.

Selanjutnya Apple bisa mencari The next big thing. Saat ini iPhone sudah mentok, Apple harus cari pengganti sapi perah yang menjajikan. Kemarin mobil listrik mereka gagal dan dibatalkan. Sekarang berdasarkan informasi, Apple coba membuat Vision Pro (kacamata AR) dan Home Robotics (robot rumahan). Intinya mereka sekarang sedang berusaha buat produk fisik baru untuk memutar roda perekonomian.

Kalau misal buyback sudah tumpul, ekosistem layanan pertumbuhanya tidak sesuai ekspektasi, dan inovasi baru belum bisa mendongkrak pasar. Apple mungkin akan memperbesar pembagian deviden atau uang tunai langsung ke investor. Demi menahan investor agar tidak kabur. Toh hingga ketikan ini dibuat yaitu di akhir bulan Desember 2025. Apple masih memegang $158 miliar cadangan kas. Ini jelas senjata strategis dalam lingkungan suku bunga tinggi, yang memungkinkan Apple membiayai operasi sendiri. Termasuk jika dalam keadaan terdesak mengambil keputusan untuk memperbesar pembagian deviden.

Posting Komentar