Kenapa Perusahaan Apple Masih Perkasa Aja Hingga Sekarang Bagian 7
Di awal ketikanku tentang perusahaan Apple. Aku sempat bilang bahwa aku tidak tertarik membanding-bandingkan antara Apple dan Nvidia. Aku ingin fokus saja mengetahui kenapa Apple masih kuat bersaing hingga Desember tahun ini. Namun mengingat sumber yang kubaca tentang Apple vs Nvidia mengandung informasi daging. Yang tentu saja membahas mengenai bagaimana Apple tetap bertahan, dan malah mulai menantang balik para pesaingnya. Terutama sang raja AI dan pasar saham hari ini, Nvidia.
Jadi aku akan bahas sedikit bagaimana gesekan dari peringkat 1 dan 2 global perusahaan paling berharga ini. Dan bagaimana persaingan keduanya, malah membuat Apple berpotensi bisa menggeser Nvidia dari puncak.
Pada Juli 2025, Nvidia mulai melampaui Apple dan Microsoft untuk jadi perusahaan paling berharga di dunia. Kapitalisasinya bahkan mencapai $4,06 triliun. Namun pada akhir 2025, dinamika mulai bergeser kembali menuju stabilitas Apple walau sekarang Nvidia masih di puncak.
Sebelum tahu alasan kenapa dinamika mulai beralih kembali ke Apple. Kita perlu tahu lebih dulu alasan kenapa dominasi Nvidia begitu kuat. Ceritanya Nvidia mendapatkan pendapatan luar biasa yang berasal dari belanja modal secara besar-besaran perusahaan lain. Belanja ini didasarkan pada demam emas AI yang viral akhir-akhir ini.
Dalam analogi emas AI. Nvidia punya sekopnya untuk menggali emas, yaitu Chip H100/ Blackwell. Sekop chip ini walau katanya disaingi oleh AMD, tetap saja dengan berbagai keunggulannya. Membuat Nvidia benar-benar mendominasi penjualan sekop chip emas AI. Perusahaan-perusahaan seperti Google dan Microsoft, membeli sekop chip AI ini untuk melatih AI milik mereka macam Gemini dan Copilot.
Kalau gitu bagaimana cara Apple melawan si pembuat sekop chip utama ini. Padahal Apple sendiri, AI miliknya masih kalah jauh dibandingkan Gemini maupun Copilot.
Apple memang kalah di bagian itu untuk waktu sekarang. Namun jangan lupakan bahwa Apple mengendalikan perangkat aktif tempat AI tersebut, akan benar-benar bisa digunakan oleh konsumen. Mudahnya kita tahu kalau semua android tidak mesti Samsung. Semua laptop tidak mesti ASUS, dan tablet yang ada di seluruh dunia juga bukan pasti milik Samsung saja. Sekarang bayangkan iPhone, Mac, dan Ipad. 3 produk yang di versi android dan windowsnya saja pasarnya terbagi-bagi. Sekarang dikuasai oleh 1 perusahaan.
Oke memang disini di Indonesia pengguna iPhone memang kalah jumlahnya dibanding Android. Tapi diluar sana, produk Apple sangat digemari dan pangsa pasarnya juga tidak main-main.
Jadi ketika pasar beralih dari melatih model AI ke menjalankannya pada perangkat. Nilai diharapkan bergeser kembali ke produsen perangkat keras yang mengontrol antarmuka pengguna. Dengan kata lain misalnya jika nilainya kembali ke produsen, dimana AI di android tergantung produsen masing-masing. Dan AI di IOS juga sama, maka Apple jelas sangat unggul dibandingkan Samsung dan merek android lainnya berkat kestabilannya.
Sementara Nvidia memenangkan pembangunan infrastruktur, Apple diposisikan untuk menangkap nilai jangka panjang dari integrasi AI kedalam kehidupan sehari-hari. Selain itu valuasi Apple yang didukung oleh pembelian kembali saham yang masif dan deviden. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dinilai menawarkan perlindungan sisi bawah yang tidak dimiliki Nvidia sebagai saham pertumbuhan murni. Dalam periode ketidakpastian pasar, seperti kejutan DeepSeek pada awal 2025. Investor kini mulai kembali ke Apple sebagai tempat berlindung mereka yang aman.
Sementara AI menjadi berita utama yang menyoroti kelemahan Apple, dan sektor layanan yang dinilai semakin meyakinkan dari tahun ke tahun. Logistik perangkat keras Apple tetap masih jadi tulang punggung operasinya. Cara Apple menggeser rantai pasokan dan fokus geografis. Nyatanya tidak bisa diabaikan, karena punya andil besar dalam membantu Apple bertahan dari guncangan perdagangan.
Misalnya ketergantungan Apple pada pasar China telah menjadi resiko jangka panjang. Resiko yang ditakutkan ini akhirnya benar terjadi pada tahun 2025, dengan tamparan menyakitkan kalau Apple mengalami penurunan pendapatan 3,6% disana.
Demi menutupi penurunan pendapatan tersebut, Apple nyatanya berhasil melakukan pivot ke India. Yang dibuktikan dengan rekor pendapatan sepanjang masa di India pada Q4 2025. Jadi waktu di China, Apple yang meluncurkan produk terbaiknya. Disaingi ketat oleh Huawei dan hambatan ekonomi. Mereka malah mendapatkan gantinya dari India yang didorong oleh penjualan iPhone 16e. seri iPhone yang bisa kuanggap versi litenya iPhone 16, yang tentunya harganya lebih murah. Kasus ini sebenarnya cukup masuk akal mengingat India pasar smartphonenya lumayan sensitif harga.
Pergeseran pada pasar sensitif bukan satu-satunya cara Apple mendiversifikasi perangkat kerasnya. Produksi iPhone yang telah bergeser ke India dan Vietnam, sekali lagi menyelamatkan Apple dari guncangan perdagangan AS-China.
Divisi Mac yang sering disebut diabaikan pun, tidak kalah mencatat peningkatan pendapatan 13% pada Q4 2025. Kebangkitan ini didorong oleh siklus chip M4 dan M5. Chip M5 khususnya, dipasarkan sebagai pembangkit tenaga AI. Ini mendorong peningkatan di kalangan profesional yang membutuhkan komputasi lokal, untuk pengembangan dan pekerjaan kreatif. Dengan hampir separuh pembeli pada Q4 adalah pengguna baru Mac. Apple dapat berpotensi memperluas pendapatannya lagi lewat layanan Apple+ yang menggiurkan pengguna baru tersebut.
Posting Komentar