Kenapa Kebanyakan Judul Light Novel Jepang Sekarang Panjang - Panjang. Bagian 1
Aku adalah salah satu pembaca light novel dari Jepang. Berawal dari anime, lalu ke komik, hingga akhirnya aku menyentuh juga apa yang mereka sebut sebagai light novel. Walaupun sebenarnya aku agak keberatan dengan penamaan light novel yang berarti novel ringan. Dimana kenyataannya justru tidak jarang bukunya jauh dari kata novel ringan dan ringkas.
Namun bukan faktor itulah yang membuatku mengetik seperti sekarang. Aku pada dasarnya memilih memaklumi saja kesenjangan antara pengelompokan novel dan light novel ala Jepang barusan. Toh selama ceritanya kusukai, aku malah seperti tidak peduli lagi. Apakah judul yang kuambil itu novel ataupun light novel.
Masalahnya saat aku mulai menyelesaikan 1 light novel dan beralih ke light novel lainnya. Ada hal yang membuatku heran. Dan hal tersebut adalah keputusan pemberian nama judul light novel yang menurutku mulai agak berlebihan. Jadi bayangkan aku yang baru saja menyelesaikan judul-judul seperti. Overlord, Your Name, hingga Hyouka.
Tiba-tiba dihadapkan dengan pilihan judul light novel seperti. Onna dakara, to Party wo Tsuihou Sareta no de Densetsu no Majo to Saikyou Tag wo Kumimashita.
Yang kutunjukkan diatas itu baru 1 contohnya. Masih banyak contoh lainnya yang tidak jarang cukup populer. Sebut saja judul seperti, I've Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level. Kemudian, That Time I Got Reincarnated as a Slime. Bahkan salah satu judul yang kusukai, yang selama ini kukira sependek judulnya Overlord. Yaitu Konosuba, rupanya juga judul aslinya terhitung panjang. Walau yah panjangnya masih bisa kumaklumi dibanding beberapa judul lainnya yang sering kuanggap cukup ekstrim.
Tapi dari data ini saja, rasanya sudah cukup untuk membuatku bertanya-tanya. Kenapa sih judul light novel Jepang makin kesini kok makin panjang-panjang. Apa sebenarnya filosofi penamaan judul seperti sinopsis ini. Dan kenapa bisa industrinya, dengan kata lain si penerbit. Meloloskan judul-judul macam begini.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku barusan. Diperlukan galian informasi yang lebih dalam karena sejauh yang kutahu hingga ketikan ini dipublikasikan. Info yang kuperoleh kebanyakan selalu menyinggung detail. Hubungan atau simbiosis antara para penulis light novel dengan para penerbit.
Hubungannya sendiri tentu dapat dikerucutkan dalam konteks kepentingan utama, yaitu menarik pembaca atau konsumen. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan kasarnya. Bahwa memang penamaan judul berkedok sinopsis ini, ternyata merangkul kepentingan banyak pihak. Entah itu untuk kepentingan penulis, penerbit, hingga bahkan pembaca itu sendiri.
Sekarang pertanyaannya, kepentingan-kepentingan macam apa yang sebenarnya mengikat mereka dalam menggaet konsumen. Dari sini aku akan coba bedah satu-persatu mengenai hal itu. Dimana tentu saja ini hanya berdasar dari info-info yang kuperoleh dari internet. Sehingga kalau ada yang salah atau kurang. Aku akan sangat bersyukur bila ada yang mau menambahi ataupun membenahi.
Bagian 1 : Asal usul serta evolusi tren
Bagian pertama untuk menjawab pertanyaan mengenai fenomena judul light novel. Nampaknya perlu dimulai dengan penetapan titik awal yaitu pada bagian historis. Seperti yang sudah kita simpulkan secara kasar sebelumnya. Tren penamaan menjadi seperti sinopsis bukannya ada tanpa alasan. Namun ini adalah sebuah respon agresif terhadap pergeseran dalam pemenuhan kebutuhan konsumen. Yang tidak bisa terpenuhi hanya dengan operasi dibawah filosofi pemasaran lama.
Jadi sebenarnya di periode tahun 90 an hingga awal tahun 2000 an. Pasar didominasi oleh judul-judul pendek, menggugah, dan simbolis. Miriplah dengan apa yang kita pikirkan mengenai bagaimana harusnya judul dibuat. Judul-judul seperti Full Metal Panic dan Sorcerer Orphen memenuhi kebutuhan light novel jepang kala itu. Dimana judul pendek masih dianggap sebagai penanda merek yang ringkas. Sebuah pemikiran yang mendasari filosofi pemasaran lama dalam pasar light novel Jepang.
Dalam filosofi pemasaran ini, judul tidak perlu menjelaskan premis ceritanya. Pemasaran sepenuhnya bergantung pada ekosistem penemuan yang dikurasi oleh manusia. Maksudnya, pembaca akan menemukan karya-karya baru melalui rekomendasi editor di majalah antologi, reputasi penerbit yang sudah mapan, dan pajangan pilihan di toko buku. Akibatnya alih-alih membuat judul jadi bagian terdepan dalam pemasaran, merek seringkali lebih menjadi kail untuk menarik konsumen. Sementara judul dan blurb atau sinopsis hanya sebagai pembantu dengan daya tarik misterius serta samar lewat bagian sampul bukunya.
Titik balik dalam penamaan judul mulai terlihat pada pertengahan tahun 2000 an. Yang mana ini juga bertepatan dengan 2 tren yang saling terkait. Yaitu meledaknya internet dan kebangkitan platform pastisipatif User Generated Content (UGC.)
Pertanyaannya apa itu platform UGC?
Aku tentu saja akan menjabarkan apa yang disebut UGC ini. Namun untuk sekarang, aku akan fokus lebih dulu menjelaskan bagian pertamanya.
Jadi 2 tren yang telah disebutkan nyatanya telah melahirkan karya-karya perintis. Yang mulai menjembatani kesenjangan antara kurasi editorial tradisional, dan pasar digital yang baru muncul. Judul seperti The Melancholy of Harumi Suzumiya, menjadi salah satu karya yang popularitas besarnya didorong oleh internet. Kemudian jangan lupakan salah satu judul yang kuketahui animenya sangat ramai dibahas waktu pertama kali rilis. Yaitu Sword Art Online (SAO) yang populer karena memanfaatkan keberadaan platform novel pastisipatif UGC.
kan tetapi studi kasus karya perintis yang sering dianggap sebagai awal pergeseran penamaan judul. Lebih sering dikait-kaitkan dengan, Ore no Imoto ga Konna ni Kawaii Wake ga Nai yang diluncurkan pada tahun 2008. Judulnya yang sebuah kalimat lengkap diyakini berfungsi ganda. Karena bukan saja dia sebagai premis instan, namun judul seperti itu sekaligus menjadi hook komedi yang jelas. Konsep tersebut juga dengan sempurna merangkum konflik inti dan nada cerita. Yang berefek pada kesuksesan komersialnya sehingga memberikan bukti konsep kepada industri. Bahwa judul panjang, deskriptif, serta tidak biasa tidak hanya diterima oleh khalayak pembaca ramai. Tapi juga bisa menjadi aset pemasaran yang kuat.
Jika Ore no Imoto ga Konna ni Kawaii Wake ga Nai atau disingkat OreImo jadi pelopor penamaan yang terjadi di pertengahan tahun 2000 an hingga awal 2010 an. Maka periode pasca 2014 ada ledakan yang sebenarnya dari penggunaan judul sebagai aset pemasaran. Jadi di periode ini, judul panjang beralih dari sebuah strategi cerdas menjadi norma industri yang dominan dioptimalkan. Titik perubahan yang dianggap sangat signifikan terjadi pada tahun 2016. Dimana jumlah judul yang memakai lebih dari 30 kata meroket tajam. Bahkan data kuantitatif menunjukkan rata-rata panjang judul tumbuh dari sekitar 7 karakter pada tahun 1975. Menjadi lebih dari 30 karakter pada tahun 2018, dan terus menerus bertambah hingga ketikan ini dibuat.
Sekarang karena fungsi judul bergeser, maka filosofi pemasaran pun ikut bergeser dari hanya pemasaran merek atau branding. Menjadi Direct Marketing atau pemasaran langsung. Judul tidak lagi berfungsi untuk membangun identitas merek jangka panjang yang serius. Sama seperti yang kuyakini hingga detik ini. Tapi sebaliknya judul dianggap berperan sebagai iklan tanggapan langsung yang dirancang untuk mengamankan penjualan. Melalui artikulasi proporsi nilai unik atau premis cerita buku secara ekplisit dan segera.
Jadi singkatnya untuk meringkas bagian pertama. Kita bisa menganggap pada tahun 90 an, editor memiliki kemewahan untuk membangun merek penulis secara perlahan. Kemudian dalam pasar yang didorong oleh algoritma dan persaingan ekstrim di tahun 2010 an. Filosofi jadi bergeser dengan setiap buku harus menjadi pemasar langsungnya sendiri. Lanjut di ledakan pasca 2014, terjadi momen ketika model pemasaran langsung melalui judul dari platform web novel. Yang sebelumnya didorong oleh kebutuhan murni penulis untuk bersaing. Mulai sepenuhnya diambil alih dan diadopsi oleh industri yang berkecimpung di arus utama.
Posting Komentar