Bagaimana Huawei Masih Bisa Hidup Setelah Dihukum Mati AS Bagian Sekuel 1.2
Situasi Geopolitik dan Perang Chip konteks 2026
Setelah tahu kalau ujung-ujungnya memang China vs AS dan Barat. Aku langsung mulai saja dengan dinamika perang semikonduktor mereka di tahun 2026. Awalnya AS memblokir tuh penjualan chip Nvidia dan AMD ke China, tidak peduli kalau itu hanyalah versi downgrade dari chip terbaru Nvidia. Lalu tiba-tiba entah kesambet apa, AS malah merubah kebijakannya dengan memperbolehkan Nvidia dan AMD jualan chip ke China lagi. Kebijakannya juga tidak setengah-setengah seperti sebelumnya. AS sekarang memperbolehkan Nvidia dan AMD jualan chip terkuatnya yaitu H200 dan MI325X ke China, walau dengan beberapa persyaratan ketat.
Ironisnya alih-alih menyambut dengan tangan terbuka, pemerintah China malah memboikot chip Nvidia tersebut. Beijing sekarang mengintruksikan rakasasa teknologinya untuk secara eksklusif menyerap pasokan domestik.
(Jadi Jansen Huang dan Donald Trump berkunjung ke China, rupanya tidak cukup untuk melunakkan Xi Jinping)
Akibat dari manuver tersebut, AS kini hanya bisa mengawasi pasar yang secara sukarela ditinggalkan oleh China. Serta malah merubah kembali kebijakannya menjadi ekstrateritorial yang lebih ketat pada Mei 2026, dibanding pelarangan sebelumnya.
Dan akhirnya diketahui juga bahwa keputusan Beijing untuk memboikot perangkat keras Barat, berfungsi untuk menyalurkan seluruh belanja modal domestik. Demi mensubsisi kurva pembelajaran ekosistem SMIC (perusahaan semikonduktor milik negara). Dan perusahaan kesayangan pemerintah sana, yaitu Huawei.
Pembahasanku diatas kalau dipersingkat kira-kira seperti ini:
(Sebagai catatan, awalnya aku mengira D:5 adalah 5 negara yang diblacklist AS. Nyatanya total D:5 ada banyak seperti. Tiongkok, Makau, Rusia, Belarus, Iran, Korut, Suriah, Kuba, Irak, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Republik Afrika Tengah, Eritrea, Zimbabwe, Venezuela, Nikaragua, Haiti, Myanmar, Afganistan. Daftar negara ini bisa berubah sesuai mood Donald Trump, dan kebijakan luar negeri AS. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba Indonesia masuk karena masalah apapun yang kiranya absurd.)
Karena China memblokir Nvidia dan kawan-kawan, ini jelas merugikan Nvidia di pasar China. Walau dalam estimasi IDC mereka masih memegang 55% pangsa pasar akselerator AI China. Data tersebut termasuk data tertinggal karena masih didominasi produknya yang downgrade, yaitu chip H20 sebelum pembatasan diperketat. Sedangkan untuk yang terbaru, faktanya pangsa pasar Nvidia bergerak mendekati titik nol.
Sebagai manuver, Nvidia berusaha memperkenalkan prosesor sentral “Vera” untuk pusat data AI pada Agustus 2026. Nvidia berupaya menembus pasar melalui celah yang belum ditutup AS. Masalahnya Nvidia sekarang bukan hanya harus menembus larangan ekspor AS. Mereka pun harus melewati pemerintah China yang ketat, serta runtuhnya ekosistem perangkat lunaknya di China, CUDA.
Pertanyaannya kenapa CUDA yang begitu OP dari Nvidia runtuh di pasar China? Apakah China punya ekosistem alternatif CUDA?
Jawabannya adalah iya. China punya alternatifnya yang cukup bisa menutup ketergantuan terhadap CUDA. Dan alternatif itu adalah CANN (Compute Architecture for Neural Networks) milik Huawei.
Ketika Alibaba, Tencent, dan ByteDance kehilangan akses ke produk Nvidia. Kerangka kerja CANN milik Huawei menjadi standar de facto bagi mereka. Bukti bahwa perusahaanperusahaan besar ini mau tidak mau bergantung pada produk lokal macam CANN. Terlihat di laporan industri anggaran pengadaan chip AI domestik China oleh eksekutif lokal, melonjak hingga 46% dalam 12 bulan terakhir. Dan proyeksi kapitalisasi investasi pusat datanya mencapai $294 miliar, selama 5 tahun kedepan yang dialokasikan khusus untuk pemasok domestik.
Bergeser dari bahasan mendalam mengenai akselator AI, aku akan membahas target ambisius China dalam menembus batas fisika 5nm SMIC, dan terobosan EUV LDP.
Ketidakmampuan China mengakses alat litografi tercanggih di dunia EUV karena AS. Awalnya menspekulasikan kalau China akan tertahan di node 7nm. Anggapan ini terbantahkan pada awal 2026 ketika SMIC, secara resmi memulai produksi untuk node 5nm (yang mereka sebut N+3) untuk SoC Kirin 9030 milik Huawei.
Pencapaian yang menentang efisiensi termodinamika ini dilakukan dengan cara memaksa mesin lama DUV. Yang panjang gelombangnya 193nm, untuk mencetak resolusi dibawah 38nm melalui teknik multi-patterning yang sangat amat agresif. Konsekuensi dari manipulasi fisika optik ini, tercermin dalam tingkat yield sangat marjinal. Artinya lebih banyak gagalnya dibandingkan berhasilnya. Itung-itungannya sendiri diperkirakan bahwa hanya sekitar 33% chip yang diproduksi dapat digunakan. Sisanya yang berarti 2/3 chipnya terbuang.
Ketidakefisienan ini tentu saja tidak berhenti pada lebih sedikitnya produk yang dihasilkan. Tapi juga membuat biaya pembuatan membengkak menjadi 50% lebih mahal, dibanding node 5nm buatan TSMC di Taiwan.
Tapi meskipun secara komersial China tekor, China menganggap ketekoran ini sebagai biaya kedaulatan. Beijing memandang pencapaian mahalnya sebagai keberhasilan strategis, yang memungkinkan Huawei dapat mempertahankan lini produk premiumnya. Mereka bahkan terus mendorong produksi node lanjutan di SMIC. Dimana di tahun ini 2026, mereka menargetkan 60000 wafer starts per month. Selain itu produksi 7nm di China juga dipecah di fasilitas Huali Microelectronics, sehingga SMIC tidak memonopoli produksi dalam negeri.
Sementara itu secara paralel pada Desember 2025, sebuah konsorsium industri yang dikoordinasikan oleh Huawei. Mengaktifkan purwarupa mesin EUV domestik pertama di fasilitas berkeamanan tinggi di Shenzhen. Purwarupa ini alih-alih meniru teknologi LaserProduced Plasma (LPP) ASML yang bergantung pada rantai pasok laser CO2 Barat. Mereka mengadopsi pendekatan Laser Induced Discharge Plasma (LDP), serta mengeksplorasi radiasi EUV dari laser solid-state yang dikembangkan oleh SIOM (Shanghai Institute of Optics dan Fine Mechanics)
Namun meskipun pencapaian ini termasuk monumental, kapabilitas mesinnya sendiri masih sangat kurang. Contoh kekurangannya terlihat dari outputnya yang hanya berkisar 100 hingga 150 Watt. Yang langsung berdampak pada batasan throughput wafer di angka 40 hingga 60 wafer perjam. Jika data ini dibandingkan dengan sistem ASML, maka milik ASML tersebut beroperasi pada 250-600 Watt.
Selain di output yang kalah jauh dibanding ASML, teknologi LDP menghasilkan tingkat kontaminasi puing plasma (debris) yang tinggi. Efeknya kontaminasi ini mengancam integritas cermin berlapis molibdenum-silikon presisi tinggi. Sehingga menghasilkan yield operasional mesin hanya baru mencapai 60%.
Kabar baiknya walau masih prematur disana sini, keberadaan purwarupa yang telah kujelaskan sebelumnya. Ternyata mempercepat garis waktu kemandirian semikonduktor China. China yang awalnya diestimasi baru akan mandiri di awal tahun 2035, sekarang berpotensial maju di periode 2028-2030.
Penjelasanku barusan mungkin bisa disingkat di tabel dibawah.
Posting Komentar