Bagaimana Huawei Masih Bisa Hidup Setelah Dihukum Mati AS Bagian Sekuel 1.1
Pendahuluan
Pada artikel yang kubagi jadi 8 sebelumnya, kita akhirnya tahu kenapa Huawei masih bisa hidup walau telah dihukum mati AS. Kita tahu bahwa model bisnis yang vertikal dan kedalaman sumber daya R&D yang dimiliki Huawei. Jadi alasan kuat kenapa mereka malah sekarang lebih dibanding tahun 2019. Saat dimana hukuman mati itu mulai dijatuhkan AS.
Tapi jika kita membaca artikel 8 bagian sebelumnya dengan lebih dalam. Atau aku yang kembali membaca sumber-sumber dari postingan Huaweiku yang terdahulu. Ada hal yang mungkin saja terlewat oleh kita mengenai narasi kemandirian Huawei.
Pertanyaannya, apakah hal itu?
Adanya artikel ini juga akan menjawab sebaik dan selengkap yang kubisa mengenai pertanyaan sebelumnya. Tapi kalau boleh dijawab dengan singkat, maka jawabannya adalah. Huawei ternyata pada dasarnya tidak sepenuhnya mandiri. Yang berarti, tuduhan AS soal Huawei mungkin hanya sekedar pion tidak 100% salah.
Terus, apakah sekarang masuk sesi menjelek-jelekkan Huawei setelah sebelumnya memuji-mujinya? Dan siapa yang sebenarnya memperalat Huawei?
Aku pribadi merasa bahwa aku lumayan objektif dalam menulis soal Huawei. Buktinya aku memasukkan laporan soal cacatnya rekayasa perangkat lunak Huawei di bagian 7. Terkait siapa yang mungkin saja bisa disebut memperalat Huawei. Yah sudah pasti harusnya jawabannya adalah Pemerintah China.
Beberapa alasan mengapa hanya Pemerintah China yang bisa memperalat Huawei, bisa dipahami lewat poin-poin berikut.
Pertama, secara singkat perusahaan-perusahaan swasta terbesar China. Yang kita ambil saja 2 contohnya yaitu Tencent dan Alibaba, faktanya hanya setara dengan Huawei walau model bisnisnya berbeda. Mereka bukan entitas yang jauh lebih kuat atau kaya dibanding Huawei. Padahal nih kalau kita melihat dan memahami bisnis mereka di China, mereka bisa disebut sangat menguasai dan hampir-hampir melakukan monopoli. Tapi dengan dominasi yang sudah seperti itu, mereka tetap tidak dalam posisi bisa membuat Huawei jadi anak perusahaannya.
Kedua, Huawei itu seperti yang pernah kusebutkan di bagian 1. Adalah perusahaan privat dengan hampir 99% sahamnya dimiliki karyawan. Model kepemilikan saham yang bisa disebut Employee Stock Ownership Program (ESOP) ini. Dianggap oleh AS dan barat sebagai kedok hukum yang bermasalah, alih-alih jadi bukti bahwa Huawei perusahaan independen.
Sangat banyak faktor mengapa AS dan barat menuduh seperti itu. Seperti misalnya model sahamnya berbeda dari banyak perusahaan barat, kekuasaan absolut ada di tangan 1 orang padahal ia hanya punya 1% saham, hingga kurangnya transparansi publik karena berlindung di status perusahaan privat.
Namun menurutku pribadi alasan yang paling membuat AS tidak percaya Huawei, adalah 99% sahamnya secara teknis tunduk pada negara. Jadi kan sebelumnya aku bilang bahwa hampir 99% saham Huawei dimiliki karyawan. Nah berdasarkan dokumen korporat Tiongkok, 99% saham itu dipegang oleh komite serikat pekerja.
Terus dimana masalahnya?
Masalah itu muncul saat diketahuinya fakta bahwa di Tiongkok/ China, tidak ada serikat pekerja yang beroperasi secara independen. Hal ini dikarenakan secara hukum, seluruh serikat pekerja wajib tunduk pada payung Federasi Serikat Pekerja Seluruh Tiongkok (ACFTU). ACFTU sendiri ternyata dikendalikan secara langsung oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Mengetahui hal ini, logika AS sudah pasti akan menyebut bahwa Huawei pada hakikatnya adalah perusahaan yang berpotensi besar dikendalikan oleh negara. Lha wong jalurnya jelas kok mengarah ke pemerintah. Jadi entah bagaimanapun Huawei mengelak, AS tetap percaya bahwa Huawei adalah antek-antek China.
(Di AS sana jadi “antek-antek asing!!!”)
Poin ketiga yang memperkuat alasan, kenapa Pemerintah China yang pasti mengendalikan Huawei. Tercermin pada bantuan-bantuan pemerintah pada mereka, seperti. Dokumen 79 Delete America (Delete A) yang mewajibkan seluruh BUMN dan lembaga-lembaga pemerintah, mengganti infrastruktur perangkat lunak/ keras dengan produk lokal. Adopsi Harmony OS dimana pemerintah memfasilitasi banyak perusahaan perangkat lunak lokal, untuk bermigrasi dari android ke ekosistem milik Huawei.
Selanjutnya ada investasi raksasa pemerintah yang digunakan untuk membangun jaringan pabrik cip, spesialis optik, dan pembuat kimia. Dengan 1 tujuan yaitu agar perusahaanperusahaan ini, memasok kebutuhan Huawei secara eksklusif. Salah satu yang menarik perhatianku adalah pemerintah mengkoordinasikan SMIC, pabrik cip terbesar milik negara. Untuk memproduksi cip Kirin 7nm dan cip AI Ascend milik Huawei, dengan mengabaikan hitung-hitungan keuntungan.
(“Asal Huawei dapat yang ia inginkan, udah gas aja gak usah mikirin soal duit” Ucap China A.K.A Tiongkok.)
Bantuan pemerintah terhadap Huawei tidak berhenti sampai 3 poin yang kusebutkan saja. Huawei pun menerima dukungan finansial dan subsidi eksklusif, seperti. Huawei dapat fasilitas kredit tanpa batas dari bank-bank pelat merah disana. Dan pembebasan pajak serta hibah tanah untuk fasilitas R&D dan pabrik.
Secara diplomatik, pemerintah juga menggunakan seluruh kekuatan diplomatiknya di panggung internasional demi membela Huawei. Misalnya seperti yang dilakukan Perdana Menteri Li Qiang di forum ekonomi dunia. Tindakan kementerian luar negeri yang sering mengancam negara-negara barat yang berani melarang peralatan 5G Huawei. Dan penahanan 2 warga negara Kanada oleh Beijing, sebagai aksi balas dendam karena Kanada menahan CFO Huawei, Meng Wanzhou atas permintaan AS pada tahun 2018.
Singkatnya, Pemerintah Tiongkok faktanya memang benar-benar menempatkan hampir seluruh sumber daya mereka. Untuk memastikan Huawei tidak hanya bertahan dari embargo Barat. Tapi juga berhasil membangun ekosistem teknologi yang benar-benar lepas dari kendali AS dan Barat. Sampai disini kita setidaknya tahu 1 hal, yaitu jika dibedah lebih dalam judul-judul dalam pemberitaan itu. Baik yang dibawakan pemberitaan konvensional atau informasi yang dibawakan oleh Youtuber. Isi narasinya bukanlah Huawei versus AS, melainkan China/ Tiongkok versus AS dan Barat dalam konteks teknologi modern.
Lalu kalau ini China vs AS dan Barat, Huaweinya bagaimana?
Huawei sendiri kalau menurutku pribadi ya. Mereka itu katakanlah benar-benar hanya murni berbisnis tanpa embel-embel kepentingan China. Lalu mereka sampai dihukum mati AS hanya karena keputusan bisnis independennya sendiri. Menurutku mereka beruntung, karena kebetulan China juga sedang memperjuangkan kedaulatan teknologinya.
Bayangkan kalau saat Huawei sedang kritis-kritisnya dihukum AS, lalu pemerintah disana malah fokus pada program makanan gratis untuk siswa, misalnya. Maka Huawei sudah pasti mohon ampun pada AS seperti halnya ZTE.
Tapi berhubung kepentingannya sejalan dengan pemerintah, Huawei jadi masih bisalah bernapas lega. Karena mereka tidak hanya diapresiasi oleh pemerintah terkait visinya. Tapi juga dibekingi dari segala sisi, seperti poin-poin yang sudah kujelaskan diatas.
Topik awal mengenai kenapa sih AS begitu takut ke Huawei, hingga menjatuhkan hukuman mati ke perusahaan tersebut. Sekarang berubah jadi eksperimen kontrol ekspor semikonduktor oleh Barat, demi membekukan kemajuan teknologi China. Topik awal yang membuatku tertarik, karena bisa-bisanya sebuah perusahaan mengancam negara adidaya. Nyatanya hanya sebuah permukaan dari perang sebenarnya antara China dan AS.
Dalam analisis ini, aku tidak lagi menjadikan Huawei sebagai MC ceritanya. Tapi aku akan memperluas bahasan terkait dinamika terkini dari perang semikonduktor AS dan China. Yang dimana, Huawei ternyata sangat terkait dan terikat didalam perang badai dari 2 negara besar tersebut.
Posting Komentar