Kenapa Teman yang Berhutang Seringkali Tidak Mau Bayar, Bagian 8
Kesimpulan
Seperti yang sempat kusinggung di akhiran bagian pertama. Kegagalan teman dalam membayar hutang ke kita, jawabannya seringkali lebih banyak faktor dibandingkan sekedar isu moralitas. Analisis mendalam yang kulakukan sejak awal hingga sekarang, mengungkap bahwa fenomena penghindaran hutang antar teman. Adalah badai sempurna dari bias psikologis, pertahanan emosional, dan struktur sosial yang tidak mendukung.
Mari lihat kembali sekilas bahasan efek kepemilikan atau endowment effect, dan akun mental peminjam terhadap uang pinjaman. Dari situ bisa disimpulkan bahwa pinjaman antar teman adalah produk keuangan yang desainnya cacat secara psikologis. Pertanyaannya kenapa? Itu karena mekanisme pinjaman antar teman, memberikan uang tanpa mekanisme komitmen untuk memaksa disiplin diri. Entah itu dalam bentuk denda, jaminan, atau sanksi mengikat.
Di pinjaman antar teman tidak ada hal-hal semacam itu karena aku atau kita, merasa mekanisme komitmen barusan terlalu berlebihan, dan tidak ada bedanya dengan bank. Masalahnya karena keputusan sepele kita barusan, selain uangnya sulit kembali. Peminjam pada akhirnya terjebak dalam jebakan psikologis berupa. Perasaan bahwa mereka merugi membayar hutang dengan uang sekarang, karena manfaat dari uang hutang sudah menguap. Dan prioritas konsumsi sekarang yang sulit dikendalikan, sehingga hutang terus tergeser di prioritas paling bawah.
Secara mental pun, peminjam nyatanya mengalami dilema yang berat. Demi membayar hutang teman, peminjam harus selalu melawan arus rasa sakit kehilangan aset yang luar biasa. Mereka bisa berlogika bahwa uang hasil kerja keras mereka kalau digunakan untuk membayar hutang. Dimana hasil hutang tersebut hanya tersisa foto setelah liburan, atau ponsel canggih yang sekarang sudah kusam. Atau juga seringnya hanya numpang lewat karena untuk membayar hutang lain. Yang dimana hutang tersebut pada akhirnya tidak menghasilkan aset, atau barang yang bisa dibanggakan.
Akibatnya peminjam akan merasakan perasaan campur aduk seperti analogi (paying for a dead horse) atau membayar untuk kuda mati. Karena dilogika saja, kenapa coba kita membeli sebuah kuda yang mati. Bukankah itu adalah tindakan tolol dan hanya membuang-buang uang.
Masih di lingkup mental, di bagian 5 aku mengetik bahwa sering sekali peminjam bersikap ketus sebagai mekanisme pertahanan saat ditagih. Faktanya sikap tersebut bukanlah tanda kekuatan, peminjam hanya menutupi rasa malunya dengan tanda kelemahan ego. Peminjam telah merasa kehilangan otonomi, sehingga berpikir bahwa pemberi pinjaman yang baik. Dalam hal ini teman atau saudara, bisa jadi sasaran empuk karena aman untuk diserang tanpa konsekuensi hukum. Beda halnya dengan bank yang punya senjata-senjata penagihan yang kuat secara hukum, kalau-kalau peminjam bersikap tidak kooperatif.
Masuk ke bagian akhiran, aku menyoroti bahwa budaya kita rupanya merupakan katalis bagi permasalahan ini. Karena di Indonesia nilai-nilai luhur seperti sungkan dan kekeluargaan masih sangat kuat. Nilai-nilai tersebut dimanfaatkan secara jahat demi membenarkan perilaku tidak bertanggung jawab. Bayangkan betapa jahatnya seorang peminjam yang seenaknya mengubah kewajiban finansial yang bisa dihitung, menjadi hutang budi yang ambigu hanya karena dia tidak mau membayar.
Pada akhirnya memahami penjelasan-penjelasan ini tidak serta-merta membenarkan perilaku tidak membayar. Aku hanya berusaha meriset demi memberikan penjelasan mengapa itikad baik niat membayar, seringkali gagal dikonversi menjadi tindakan realisasi pembayaran. Bagiku secara pribadi, ketikan ini malah sangat menegaskan pepatah yang berbunyi. “Meminjamkan uang kepada teman adalah cara tercepat untuk kehilangan keduanya, yaitu uang dan teman”.
Kalau begitu apakah kalau teman meminjam, kita harus selalu menolaknya?
Secara aku pribadi jujur saja pertanyaan ini masih sangat rumit untuk dijawab. Namun kalau transaksi tersebut bisa dikelola dengan batasan tegas. Atau misalnya lebih keren lagi, kita mampu ikhlas menganggapnya sebagai pemberian sejak awal. Kenapa tidak.
Posting Komentar