Kenapa Kebanyakan Judul Light Novel Jepang Sekarang Panjang - Panjang. Bagian 5 & 6

Daftar Isi

Bagian 5 : Perspektif Industri

Memang telah disinggung bahwa tren judul sinopsis dibawa ke ranah industrinya di bagian pertama. Akan tetapi tidak lengkap rasanya kalau aku tidak menjelaskan sekalian tentang bagaimana penerbit komersial besar. Yaitu kekuatan top down dalam industri merespon dan memanfaatkan tren bottom up ini.

Penting untuk menegaskan maksud dari kalimat terakhirku barusan. Bahwa tren judul sinopsis tidak dimulai di ruang rapat Kadokawa atau Futabasha. Ini adalah strategi gerilya pemasaran murni, yang lahir dari kebutuhan penulis amatir dalam bersaing di Narou. Hanya saja penerbit besar seperti Kadokawa yang menaungi imprint besar macam Dengeki Bunko. Serta Futabasha yang meluncurkan imprint Monster Bunko khusus untuk seri Narou. Dengan cepat menyadari tren yang muncul di Narou ini.

Akibatnya Narou secara efektif dianggap telah menjadi departemen artist and repertoire (A&R). Yang di outsourced dan bebas resiko untuk seluruh industri penerbitan light novel. Intinya daripada bertaruh pada manuskrip yang belum teruji yang biasanya dikirimkan secara tradisional. Editor sekarang bisa langsung saja memantau peringkat Narou, dan mengakuisisi IP yang telah terbukti sukses secara komersial. Toh IP yang berada di puncak Narou telah divalidasi pasar ratusan ribu pembaca, sebelum 1 yen pun dihabiskan untuk percetakan.

Bagi industri, ini adalah model yang sangat efisien dalam meminimalkan resiko penerbitan. Apalagi jika dikaitkan dengan strategi Global Media Mix Kadokawa. Yang berfokus pada pengamanan IP kuat, dan tervalidasi pasarnya untuk dieksploitasi tidak hanya menjadi light novel saja. Namun melebar ke sektor manga, anime, video game, bahkan termasuk mungkin merchandise dan sebagainya.

Bukti paling jelas bahwa strategi judul sinopsis memang diadopsi industri, adalah penemuan kasus dimana penerbit secara aktif campur tangan untuk mengubah judul. Studi kasus yang sering dikutip para analis ini adalah kasus yang dialami penulis novel God’s Request. Jadi ketika karya God’s Request akhirnya diakuisisi oleh penerbit komersial untuk rilis light novel. Penulis dilaporkan diminta untuk mengubah judul agar lebih sesuai dengan ekspektasi pasar.

Akhirnya judul yang sebelumnya pendek yaitu God’s Request. Berubah jadi Clearing an Isekai with Zero Believers Goddes-The Weakes Mage among the Classmates (Menyelesaikan Isekai dengan Dewi Tanpa Pengikut-Penyihir Terlemah di antara Teman Sekelas). Panjang banget ya kalau dipikir-pikir.

Namun walau menurutku panjangnya cukup keterlaluan. Nyatanya judul baru ini secara instan dan efisien, mengkomunikasikan setidaknya 4 trope utama yang sangat laku. Mari kita sebut satu persatu ya apa yang kumaksud barusan. Jadi untuk poin pertama, ini adalah isekai. Poin kedua adalah class isekai, maksudnya seluruh kelas dipindahkan. Poin ketiga ada trope dewi yang tidak populer, mirip DanMachi atau Konosuba.

(Sebentar-sebentar, Aqua dewi yang tidak populer di dunianya? Atau aku yang tidak terlalu paham maksud artikel sumber ini. Dia itu memang agak-agak, tapi dia jelas nggak bisa disebut tidak populer.)

Ehem mari lanjut poin berikutnya. Pada poin keempat dan terakhir, ada MC atau protagonis yang dianggap terlemah. Ini menjanjikan alur cerita underdog atau Weak to strong.

Dari 4 poin ini judul baru yang berupa judul sinopsis dianggap lebih mudah dipasarkan dibanding judul lama yang pendek. Alasannya? Tentu saja alasannya adalah karena pasar sudah jenuh serta menginginkan pengambilan keputusan sepersekian detik. Persis seperti apa yang telah dibahas sebelumnya.


Bagian 6 : Kesimpulan

Nyatanya judul light novel yang menyerupai sinopsis bukanlah kebetulan, tren aneh, atau keisengan. Ini adalah hasil logis tak terelakkan, dari konvergensi 3 kekuatan pasar fundamental yang saling memperkuat. Pergeserannya mencerminkan adaptasi rasional terhadap lanskap media digital yang baru.

Analisis ini menyimpulkan juga bahwa fenomena judul sinopsis didorong oleh 3 pilar utama. Yaitu pertama munculnya platform web novel UGC, yang bertindak sebagai inkubator serta laboratorium evolusioner. Kemudian yang kedua ada pergeseran ke penemuan digital (Algoritma vs Kurasi). Dimana dalam model ini pasar bergeser dari top down yang dikurasi editor dan majalah. Menjadi bottom up yang didorong oleh algoritma, yaitu peringkat Narou dan pencarian di Amazon. Terakhir sebagai pilar ketiga ada pasar yang jenuh. Yang dalam faktanya pasar dibanjiri dengan ribuan pilihan dan trope yang homogen. Di situasi ini konsumen jadi sangat enggan mengambil resiko. Sehingga judul sinopsis jadi manajemen ekspektasi dan pengurangan resiko yang efisien.

Sebagai penutup, dari pertanyaanku mengenai kenapa bisa judul sinopsis menjadi tren luas. Kita bisa mengetahui secara lebih dalam bahwa judul light novel Jepang modern, telah melampaui fungsi tradisionalnya sebagai nama. Ia tidak lagi hanya berfungsi untuk mengidentifikasi sebuah karya. Tapi ia telah menjadi unit pemasaran yang sangat padat, dan dioptimalkan untuk menggaet banyak fungsi secara bersamaan. Judul tersebut mengiklankan premisnya, mengklarifikasikan tropenya, dan menjual proposisi nilainya dalam satu kesatuan yang efisien. Ini jelas studi kasus yang jelas dan gamblang tentang bagaimana arsitektur platform digital dan kekuatan pasar yang jenuh. Dapat secara fundamental mengubah konvensi artistik dan sastra.

Posting Komentar