Bagaimana Huawei Masih Bisa Hidup Setelah Dihukum Mati AS Bagian 1
Jika sebelumnya aku mengetik tentang bagaimana Apple masih tangguh ditengah persaingan global yang kian sengit. Sekarang aku akan menyeberang ke perusahaan bernama Huawei Technologies.
Sebenarnya aku pribadi tidak menyangka kalau akan penasaran dan mengetik mengenai salah satu perusahaan China ini. Alasannya selain karena aku menganggap bahwa Huawei hanyalah salah satu dari merek ponsel pintar China biasa. Pengguna Huawei di sekitarku juga sangat minim, mungkin terakhir kali aku melihat temanku menggunakan Huawei. Itu di tahun 2016 sampai 2017 an, setelahnya seingatku aku tidak pernah ketemu merek Huawei lagi di tongkrongan.
Apalagi di tahun berapa aku lupa, aku ketambahan pernah mendapat kabar bahwa Huawei sudah bukan android lagi dan menciptakan OS sendiri. Kabar barusan membuatku benarbenar semakin yakin untuk menjauhi merek ini dalam membeli ponsel pintar baru. Intinya aku tidak mau jadi bahan uji coba untuk menggunakan OS selain Android dan iOS. Aku lebih sayang uangku, jadi kubelikan merek yang pasti-pasti saja.
Hingga kemudian bertahun-tahun setelahnya di suatu hari di bulan Desember 2025, saat iseng scroll youtube karena gabut. Aku menemukan video dari youtuber Raymond Chin yang membahas soal Huawei. Di videonya yang aku tidak tahu apakah beliau dibayar atau tidak oleh Huawei. Aku tertarik dengan bahasannya yang menyebutkan bahwa Huawei, sebenarnya sudah berkali-kali dieksekusi mati oleh AS. Namun Huawei masih mampu tetap hidup dan malah menyerang balik.
Jadi sebenarnya apa maksud dari AS mengeksekusi mati Huawei? Dan kenapa AS mengeksekusinya?
Jawaban dari pertanyaanku diatas sebenarnya sudah terjawab lewat video tersebut. Intinya, Huawei yang selama ini kuanggap hanya sekedar perusahaan ponsel pintar saja. Nyatanya mereka jauh lebih besar daripada itu. Huawei punya ekosistem yang menakutkan seperti Apple. Bedanya kalau Apple ekosistemnya secara horizontal, Huawei ini secara vertikal.
Apple ekosistemnya adalah integrasi antar perangkat miliknya seperti iPhone ke Mac dan seterusnya. Sementara Huawei menciptakan ekosistem hingga ke infrastruktur dasar teknologinya. Huawei disebut-sebut menguasai infrastruktur telekomunikasi global, dan memegang 30% pangsa pasar alat telekomunikasi dunia. Mulai dari menara 4G hingga 5G, di banyak negara termasuk Indonesia, Benua Eropa, dan Benua Afrika. 60 sampai 70% infrastruktur jaringannya bergantung pada alat buatan Huawei.
Selanjutnya Huawei memegang jumlah paten standar 5G terbanyak di dunia, yaitu lebih dari 20%. Sehingga meskipun negara seperti AS gengsi menggunakan Huawei dan memilih Nokia maupun Ericsson. Perusahaan-perusahaan ini tetap harus membayar royalti teknologi kepada Huawei. Ini adalah ekosistem mengakar yang tidak dimiliki Apple karena Apple lebih fokus pada produk konsumen akhir.
Belum lagi kalau berbicara soal bidang lain macam mobil listrik. Huawei disini menjadi penyedia otak dan sistemnya. Yang dibuktikan dengan sistem autonomous driving Huawei, diklaim bisa bekerja lebih mulus dibanding Tesla di jalanan China. Dasar klaim ini sendiri dikarenakan lampu merah dan rambu lalu lintas infrastruktur jalanan China yang pintar. Nyatanya memang dibangun oleh Huawei sehingga mobil dengan sistem Huawei, bisa berkomunikasi dengan lampu merah dan jalanan pintarnya Huawei.
Mengetahui data-data ini saja, harusnya kita sudah tahu kenapa AS begitu waspada terhadap Huawei. Namun apakah AS hanya karena merasa jengkel saja dengan dominasi Huawei. Dan seenaknya menghukum mati mereka lewat Entity List?
Mungkin itu salah satu alasannya, namun alasan kuat lainnya mengapa AS akhirnya benarbenar menghukum mati Huawei. Terletak di bagaimana posisi Huawei saat masuk pasar internasional.
Pertama Huawei bukanlah perusahaan publik. Huawei bisa masuk kategori perusahaan privat dengan hampir 99% saham perusahaannya dimiliki karyawan. Kedua, Huawei punya kontrol infrastruktur sangat mengakar seperti yang sudah dijelaskan diatas. Ketiga dan yang paling krusial, adalah peraturan di China menyebutkan bahwa. Semua perusahaan di China tetap dibawah kontrol pemerintah komunis, tidak peduli mereka perusahaan publik atau tidak.
Penjelasan lebih lanjutnya mengenai kenapa 3 alasan ini menjadi dasar kuat AS dimulai di bagian ketiga. Inti dari bagian ketiga diatas yang sangat dianggap berbahaya oleh AS, adalah China dengan aturannya bisa memaksa perusahaan seperti Huawei. Untuk menyerahkan data pengguna jika pemerintah memintanya. Fakta barusan jelas berbahaya karena China bisa saja melakukan praktik mata-mata lewat produk buatannya.
Walau kebanyakan perusahaan termasuk Huawei menyangkal bahwa mereka adalah matamata China. Posisi perusahaan Huawei yang privat serta punya cengkraman kuat di bidang infrastruktur. Semakin memperkuat dugaan AS bahwa Huawei mungkin adalah bidak dari pemerintah China. Lagipula ya, Alibaba yang perusahaan publik saja dituduh mata-mata China. Apalagi Huawei dengan statusnya sebagai perusahaan privat.
Jadi dengan berdasar info-info sebelumnya, AS lewat keputusan administrasi Trump. Resmi memasukkan Huawei kedalam Entity List yang dianggap sebagai hukuman mati terhadap perusahaan China tersebut.
Tapi kenapa Entity List dianggap sebagai hukuman mati?
Jawabannya karena departemen perdagangan Amerika Serikat, memutus akses perusahaan Huawei terhadap teknologi AS yang kritis. Pemutusan itu dimulai dengan pemutusan perangkat lunak Google Mobile Service (GMS) dan pembatasan perangkat keras semikonduktor canggih.
Eksekusi mati Huawei berevolusi jadi lebih mematikan di tahun 2020, dengan penerapan Foreign Direct Product Rule (FDPR). Dimana aturannya meliputi pelarangan pengecoran chip global manapun, termasuk TSMC di Taiwan dan Samsung di Korea Selatan, yang menggunakan peralatan atau perangkat lunak asal AS.
Akibat keputusan AS ini, lini bisnis ponsel pintar Huawei yang saat itu sedang dalam lintasan untuk menjadi pemimpin pasar global. Terpaksa harus ganti strategi dengan memaksa perusahaan, melakukan divestasi pada merek Honor. Yang secara khusus Huawei berusaha menyelamatkan rantai pasoknya dan beralih ke mode bertahan hidup.
Posting Komentar