Kenapa Perusahaan Apple Masih Perkasa Aja Hingga Sekarang Bagian 2
Menutup tahun 2025, Apple berdiri di persimpangan sejarah korporasi yang menentukan. Di tengah lanskap ekonomi yang bergejolak. Dimana ada perang tarif dagang, suku bunga fluktuatif, dan disrupsi teknologi generatif AI yang agresif. Apple telah membedakan dirinya dibanding pesaing dalam mendamaikan 2 faktor yang dibahas sebelumnya. Sementara pesaing dalam kelompok Magnificent Seven seperti Amazon, Google, dan Meta. Telah berganti-ganti antara ekspansi agresif dan kontraksi reaksioner demi kesetimbangan. Apple mempertahankan ritme operasional yang lebih stabil.
Dalam bidang sumber daya manusia, alih-alih mengejar ekspansi agresif dikarenakan ledakan digital akibat pandemi. Apple menciptakan akar stabilitas yang kuat dengan praktik perekrutan disiplin. Disaat para pesaing menafsirkan lonjakan sementara dalam e-commerce, dan kerja jarak jauh sebagai pergeseran paradigma permanen. Sehingga membuat mereka menggandakan tenaga kerja, Apple memilih menahan diri tapi tetap strategis.
Hasilnya saat kontraksi reaksioner, saat pasar sedang sulit karena sudah tidak pandemi, sehingga perusahaan mau tidak mau harus melakukan penyusutan atau kontraksi. Terjadilah suatu divergensi tajam dalam pengambilan keputusan penyusutan tersebut.
Mengambil data dari tahun ini saja, Amazon telah mengurangi sekitar 14000 peran korporat. Intel memangkas lebih dari 15000 pekerjaan. Dan Apple, walau tetap terkena efek dari pasar yang sulit. Mereka hanya melakukan PHK 700 karyawan. Itupun sebagian besar terjadi karena pembubaran inisiatif mobil listriknya, dan penyesuaian kecil di divisi layanan.
Oke walau aku sebut hanya 700. Faktanya itu bukanlah jumlah yang sedikit. Tapi coba bandingkan dengan angka PHK di perusahaan pesaing yang kita anggap setara dengan Apple. Kita jelas mendapatkan data yang jauh lebih besar, karena rata-rata pesaing Apple melakukan PHK di lebih dari 10000 karyawan. Dan ingat, baik Apple, Amazon, Meta, maupun Google. Itu adalah perusahaan yang wilayah cakupan pelayanannya adalah seluruh dunia. Jadi PHK 700 orang di perusahaan multinasional macam Apple. Jelas dianggap sangat sedikit dibanding 10000 hingga 12000 PHK di perusahaan sejenis.
Stabilitas tenaga kerja Apple juga telah mengisolasinya dari tekanan dalam pergeseran budaya, akibat tenaga kerja yang berganti orang dan budaya kembali ke kantor setelah pandemi. Stabilitas dari hal semacam ini sangat penting bagi Apple untuk proyek jangka panjangnya. Macam pengembangan silikon seri M dan platform visionOS.
Keputusan untuk mempertahankan staf lama semakin dipandang sebagai manuver defensif dalam perang bakat AI. Sementara karyawan Google dan Meta menghadapi ketidakpastian dari manajemen menengah dan restrukturisasi berkelanjutan. Apple menawarkan keamanan pada karyawan mereka.
Bagi Apple alih-alih memecat insinyur dan merekrut spesialis baru yang masih berbau pertaruhan mahal. Serta berpotensi merusak secara budaya yang ada dalam internal perusahaan. Mereka lebih memilih melatih ulang, dan menempatkan personel dari bagian yang tidak produktif ke bagian produktif. Seperti misalnya dalam kasus asli Apple, mereka melakukan realokasi personel dari project titan atau mobil listrik yang sudah tidak efektif. Ke inisiatif AI generatif yang sangat berpengaruh dalam menunjukkan strategi mobilitas internal Apple.
Dari sini kita tahu bahwa Apple, memandang sumber daya manusia mereka sebagai kepingan-kepingan yang diharapkan bisa menutup posisi Steve Jobs. Itulah kenapa sejak awal mereka sangat berhati-hati dalam merekrut orang baru. Sehingga mungkin Tim Cook atau lainnya, tidak mungkin bisa menggantikan Steve Jobs yang sangat inovatif. Tapi dengan sumber daya manusia yang tepat, ditambah budaya perusahaan yang dijaga. Inovasi-inovasi yang diharapkan membuat konsumen bertahan dan bertambah. Bisa terus ada kedepannya.
Posting Komentar