Bagaimana Huawei Masih Bisa Hidup Setelah Dihukum Mati AS Bagian Sekuel 1.4

Daftar Isi

Kerentanan yang menghantui

Diluar penetrasi globalnya yang agresif, ditambah terobosan silikon Huawei yang impresif. Ekosistem teknologi yang disponsori negara ini rupanya tertumpu pada fondasi fiskal. Serta pasokan material mereka yang semakin rapuh. Penjelasan mudahnya, lompatan teknologi Huawei dan SMIC faktanya tidak dihasilkan dari kelincahan pasar bebas. Akan tetapi berasal dari pembakaran modal yang cenderung tanpa batasan ketat.

Kalau telah membaca postingan sekuel pertamaku soal Huawei. Akan ada sebuah monolog lucu-lucuanku yang tertulis semacam ini. “Asal Huawei dapat yang ia inginkan, udah gas aja gak usah mikirin soal duit”.

Masalahnya seiring bertambahnya waktu, sumber bantuan yang berasal dari negara tersebut. Yang secara dangkal kata orang-orang disebut bahwa itu pasti hampir tak terbatas. Mulai menunjukkan tanda-tanda yang memprihatinkan. Laporan OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) pada 2026 saja, mengungkapkan bahwa subsidi negara China dalam sektor semikonduktor telah menyentuh rekor historis. Yaitu menyumbang hampir 10% dari total pendapatan perusahaan-perusahaan chip domestik. Sebagai tambahan informasi, subsidi yang dilakukan China ini disebut-sebut 8 kali lipat lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan rata-rata negara anggota OECD.

Penjelasan soal apa itu negara-negara anggota OECD bisa dicari secara rinci di Google. Tapi yang kutangkap dari deskripsinya, OECD sepertinya adalah kelompok negara maju. Atau setidaknya negara berkembang yang berpendapatan menengah keatas. Anggota-anggotanya meliputi AS, Kanada, Meksiko, Cile, Kolombia, dan Kosta Rika (Amerika Utara dan Latin). Lalu Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, Swiss, Swedia, Norwegia, Polandia, Turki (Eropa). Lalu Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru (Asia-Pasifik). Dan terakhir Israel (Timur Tengah).

Bagi yang bertanya kok Indonesia tidak ada? Ya sebetulnya Indonesia sedang mengurus prosesnya untuk menjadi anggota penuh OECD. Tapi ya kalau misal ujung-ujungnya nanti yang masuk malah Malaysia, Singapura, atau Vietnam. Ya udahlah ya, kita sendiri juga tahu negara kita itu kaya bagaimana.

Kembali ke topik, jadi China dari tahun 2014 hingga 2023 dilaporkan telah menggelontorkan uang demi kebijakan semikonduktor ini mencapai $142 miliar. Jika kita langsung bandingkan dengan AS, si MC dunia. Pengeluaran China jelas sangat melampaui $39 miliar yang dikomitmenkan oleh AS melalui CHIPS Act pada periode yang sama. Ini belum menghitung suntikan modal baru melalui fase ketiga National Integrated Circuit Industry Investment Fund (Big Fund III). Senilai $47 miliar pada tahun 2024.

Namun walau kucuran dana terus mengalir seolah tak ada habisnya, nyatanya pilar yang menopang subsidi ini sedang runtuh. Sebut saja Pemerintah Daerah dan Regional (LRG), si aktor kunci yang mensubsidi pabrik semikonduktor lokal.

Mereka yang mendapatkan pendapatan lewat penjualan tanah, yang secara tradisional merupakan penopang keuangan utama. Pendapatannya anjlok hampir 15% pada 2025 menjadi 4,15 triliun yuan. Dimana hasil ini kurang dari setengah puncak pendapatan pada tahun 2021. Selain itu defisit agregat pemerintah menembus rekor 9% dari PDB, sebuah konsekuensi dari jatuhnya harga produsen dan kelesuan sektor properti.

Untuk mempertahankan belanja negara, Beijing dengan ekstrem menyedot transfer laba BUMN mereka yang meningkat 55% pada tahun 2025. Dan dari data yang kubaca, setidaknya pemerintah menyita 2,7% dari anggaran publik.

Secara kalkulasi logis ini menciptakan lingkaran setan, karena BUMN dipaksa menyetor keuntungan ali-alih menyuruhnya berinvestasi pada RnD. Sementara itu bank-bank menyalurkan 58% pinjaman dengan suku bunga dibawah tingkat utama 3%. Yang secara berurutan menurunkan imbal hasil aset sistem perbankan menjadi hanya 0,6%.

Kehancuran efisiensi modal tersebut mengingatkan dengan sangat keras pada China. Bahwa biaya kedaulatan demi pembiayaan yield rendah pada fasilitas 5nm SMIC. Tidak dapat dipertahankan secara tak terbatas tanpa memicu krisis utang sistemik.

Beralih dari krisis pendanaan, aku sekarang akan membahas soal OS milik Huawei yaitu Harmony OS. Jadi sebagai langkah awal menanggapi sanksi internasional. Huawei mengambil keputusan strategis, dengan menanggalkan kompatibilitas aplikasi android pada HarmonyOS NEXT.

HarmonyOS NEXT atau kata sumberku dikenal juga sebagai HarmonyOS 5.0 dan 6.0. Mengorbankan utilitas internasional demi keamanan dan dominasi domestik. Jadi Huawei ini sadar diri bahwa tanpa OS Android, menjual devicenya ke luar negeri adalah hal bodoh untuk dilakukan. Maksudnya, kan belum ada aplikasi diluar sana yang didesain untuk OS buatan Huawei tersebut. Jadi menyuruh konsumen untuk mengakali setiap instalasi aplikasi bukannya malah untung. Tapi malah menciptakan hambatan masuk yang besar untuk calon konsumen yang lain.

Makanya secara logis, Huawei melakukan apa yang mereka bisa lebih dulu. Dan karena mereka adalah juara nasional yang memiliki tujuan sama dengan pemerintah, yaitu modernisasi China. Maka mereka manfaatkanlah posisi itu semaksimal mungkin. Huawei dengan keistimewaannya memaksa pasar domestik untuk merilis versi natif untuk OS nya. Hasilnya Huawei berhasil merangkul lebih dari 11 juta pengembang terdaftar. Serta membujuk raksasa seperti Alipay, JD.com, dan Meituan.

Namun walau secara domestik berhasil memaksa pengembang, pengalaman pengguna masihlah sangat bervariasi. Ingat, pembahasan ini masih di seputaran pasar domestik, belum ke pasar internasional. Dan Harmony OS sudah diterpa beberapa masalah.

Berdasarkan kolom teknologi IT Times dan Sina, dilaporkan bahwa HarmonyOS 5.1 masih tidak terhindar dari bugs. Misalnya WeChat di HarmonyOS kehilangan hampir 30 fitur krusial termasuk lokasi waktu-nyata. Lalu pengguna lainnya melaporkan aplikasi di OS ini mengalami crash, pembekuan, hingga hilangnya data fatal saat migrasi.

Nah untuk kasus hilangnya data fatal, aku mendapatkan sedikit penjelasan di sumber tulisanku. Jadi berbeda dengan OS lain yang hanya melakukan peningkatan standar, atau perbaikan bug. Harmony OS malah langsung merombak total sistemnya. Jadi ya begitu, datadata yang seharusnya tidak tersentuh. Malah ikut dihapus demi pengoptimalan sistem.

Di pasar internasional, demi mendapatkan jalan tengah dari ketergantungan pada basis android. APPGallery atau Playstorenya Huawei, mengizinkan wadah emulator android non resmi pihak ketiga. Dari pandanganku secara pribadi, ini seperti kita ingin main game PSP di android. Dan karena android tidak bisa membaca file game PSP, maka supaya bisa memainkannya. Kita perlu menginstal emulator untuk game PSP tersebut.

Bedanya kalau emulator PSP itu hanya untuk main game PSP, yang tentu tidak kulakukan setiap saat. Emulator androidnya Huawei ini terus berjalan selama kita menggunakan aplikasi yang belum resmi ada di APPGallery. Efeknya ini jelas membebani device tersebut karena memakan sumber daya yang besar.

Selain isu tersebut, di pasar seperti Eropa dan Asia Tenggara. Dimana aplikasi utilitas lokal seperti perbankan dan transportasi sangat esensial. Minimnya keuntungan yang didapat pengembang untuk menulis ulang kode mereka kedalam bahasa ArkTS. Membuat HarmonyOS NEXT dianggap sebagai sistem operasi yang kurang bisa diperhitungkan diluar perbatasan China.

Kerentanan terakhir yang menghantui China selain sumber modal dan adaptasi global. Adalah 2 segmen yang belum 100% berhasil disubtitusi oleh China. 2 segmen itu diantaranya perangkat lunak otomasi desain elektronik (Electronic Design Automation/ EDA) tingkat lanjut. Dan bahan kimia fotoresist (photoresist).

Segmen pertama, yaitu batas simulasi EDA Tingkat Lanjut berfungsi untuk mengubah node sirkuit fisik dibawah 7nm. Hal ini dikarenakan sirkuit dibawah angka itu membutuhkan simulasi presisi tinggi, verifikasi tata letak (layout), dan analisis timing statis. Masalahnya industri perangkat lunak EDA global yang bernilai $19,15 miliar pada 2025 itu. Yang 85% pangsa pasarnya dikuasai oleh beberapa perusahaan seperti Synopsys, Cadence, dan Siemens. Semuanya tunduk pada pada yurisdiksi AS.

China sendiri sebenarnya punya perusahaan domestik terkemuka di bidang itu seperti Empyrean Technology. Sayangnya Empyrean kapabilitasnya masih jauh tertinggal untuk mengisi kekosongan. Penjelasan lebih lanjutnya, Empyrean menguasai desain analog melalui Empyrean Aether dan ALPS. Serta perangkat pengemasan lanjutan 3d IC.

Namun walaupun begitu, Empyrean tidak memiliki alur kerja penuh untuk verifikasi sirkuit digital kompleks pada tingkat 5nm kebawah. Akselerasi kompleksitas desain chip yang kini mencakup arsitektur chiplet dan memori multi terabit. Membutuhkan integrasi kecerdasan buatan AI kedalam EDA untuk otomatisasi. Jadi tanpa akses ke infrastruktur komputasi awan spesifik EDA dari vendor barat. China harus berhadapan dengan risiko kegagalan tape out yang mahal.

Segmen kedua, yaitu bahan kimia fotoresist. Bahan ini cukup penting karena proses litografi chip bertumpu pada fotoresist. Singkatnya fotoresist itu adalah tinta peka cahaya yang merekam sirkuit mikroskopis keatas wafer silikon. China mungkin telah memenangkan pertempuran di ujung bawah. Yaitu mereka mampu memproduksi photoresist sirkuit papan cetak (PCB) dan layar datar secara otonom. Buktinya perusahaan mereka seperti Jiangsu Nata Opto-electronic, berhasil mengomersialisasikan photoresist DUV Argon Fluoride (ArF), dengan pendapatan melebihi 10 juta yuan pada 2024.

Institut riset seperti Shanghai AI Lab pun, bahkan mendayagunakan model AI (Intern AI) untuk menyintesis resin photoresist Krypton Fluoride (KrF). Hasilnya mereka mendapat kemurnian tinggi secara otomatis, dan mengurangi waktu iterasi RnD bahan kimia material secara signifikan.

Sayangnya untuk keperluan resolusi litograsi EUV atau proses DUV imersi multi patterning ekstrem. Yang digunakan SMIC untuk membuat chip 5nm. Tingkat kemurnian kimiawinya disyaratkan masih bergantung pada impor Jepang, salah satu sekutu AS di Asia.

Jika saja Tokyo bersekutu secara mutlak dengan Washington untuk membatasi ekspor fotoresist canggih. Dimana sebagai info saja, Jepang sendiri memonopoli 70% pangsa pasar fotoresist global melalui dominasi JSR, Tokyo Ohka Kogyo, dan Shin-Etsu Chemical. Produksi SMIC akan mengalami kelumpuhan jauh lebih cepat, dibandingkan saat ASML memberlakukan larangan suku cadang mesin.

Posting Komentar