Harga Perusahaan Sebesar Teh Sari Wangi 1,5 T Murah ya Kalau dibandingkan Liga Kor…

Daftar Isi

Baru-baru ini di awal tahun 2026 aku lumayan disuguhi banyak berita menarik dari internet, baik itu berita dalam negeri maupun luar negeri. Di tengah-tengah berita menarik yang sangat panas digoreng macam acara Mens Rea Panji Pragiwaksono. Dan main culik-menculik ala Donald Trump ke presiden Venezuela. Aku entah bagaimana malah menemukan hidden gem berita yang lebih menarik.

Aku tidak tahu ya apakah ini hanya terjadi di diriku saja dikarenakan pengetahuanku yang terbatas. Tapi aku merasa entah bagaimana berita yang kumaksud sangat menarik, karena tiba-tiba otakku menyejajarkan berita ini dengan hal lain. Maksudku hal lain itu adalah otakku tiba-tiba membandingkan berita ini dengan kasus atau berita yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya.

Jadi gini, di suatu waktu saat aku punya kesempatan scrol-scrol layar sentuh secara acak. Aku menemukan berita bisnis biasa, dimana Grup Djarum membeli perusahaan Teh Sari Wangi dari Unilever. Sekilas berita ini hanya seperti berita penjualan atau akuisisi perusahaan pada umumnya. Toh banyak juga berita akuisisi perusahaan dengan nilai sejenis saat itu di belahan dunia lain. Bahkan di Amerika, hingga sekarang drama pembelian WB oleh Netflix masih panas saja karena Paramount masih berusaha menikung. Jadi mengetahui hal tersebut, berita Djarum yang membeli Sari Wangi sebenarnya malah terlihat seperti berita bisnis yang gimana ya. Mungkin cukup bisa masuk ke dalam berita, tapi secara entertaining kalah jauh lah dengan model akuisisi besar macam WB oleh Netflix.

Namun dibalik biasanya berita tersebut, sebenarnya ada hal yang membuat berita akuisisi teh Sari Wangi ini lebih menarik perhatianku dibanding akuisisi WB, ataupun berita Donald Trump yang memberikan demokrasi ke Venezuela. Dan hal itu adalah ide liar yang tiba-tiba lewat didalam kepalaku tentang.

“Kalau perusahaan Teh Sari Wangi yang terkenal saja hanya dihargai 1,5 T. Terus korupsi di liga korupsi Indonesia yang nilainya hingga ratusan T itu gimana?”

Mungkin masih ada yang bingung dengan pertanyaanku diatas sebetulnya menyasar kearah mana. Jadi teman-teman, sebagai contoh mudahnya mari pahami hal berikut. Aku pribadi sekarang belum merasakan memegang uang sebesar 1,5 T di tangan. Oleh karenanya aku masih belum bisa mengawang itu berapa banyak tumpukan uang seratus ribu dibutuhkan, supaya bisa menyentuh angka 1,5 T. Masalahnya walaupun aku belum pernah menyentuh uang sebanyak itu.

Pemberitaan lokal yang baik, sering mencekokiku dengan berita-berita yang membuatku meremehkan nominal triliunan ini. Katakan saja kasus 271 T hingga 300 T yang melibatkan suami dari salah satu artis kondang, korupsi Pertamina yang katanya hampir 1 kuadrilium, korupsi BLBI, dan yang lainnya.

Jadi saat aku telah kenyang dengan berita-berita semacam ini, lalu tiba-tiba mendapatkan kabar pembelian Teh Sari Wangi oleh Grup Djarum. Hal pertama yang muncul di kepalaku bukanlah Unilever yang berusaha memperamping lini bisnisnya. Atau keluarga Hartono yang semakin memanjangkan gurita bisnisnya. Tapi…

“Kok bisa perusahaan sebesar Teh Sari Wangi dihargai semurah itu.”

Padahal nih, padahal. Kalau saja sebelum berucap hal tersebut aku sadar diri bahwa aku belum pernah memegang uang 1,5 T. Aku pasti menahan diri sambil mencari data mengenai sebesar apa sih sebenarnya uang 1,5 T itu. Sayangnya karena sudah terlanjur ini mulut spontan berbicara, maka jadilah aku ngomong dulu baru berpikir.

Karena sudah terlanjur ngomong duluan, maka sekarang mari mulai berpikir dimulai dari mencari tahu sebenarnya seberapa besar uang 1,5 T. Jadi supaya dapat data yang cepat namun tak terkesan asal-asalan, disini aku akan coba menggunakan 2 aplikasi AI yang kebetulan terpasang di hp ku. Caranya aku akan bertanya seperti ini kepada mereka berdua.

“Hey GPT/ Gemini. Saat ini saya sedang mengetik artikel bisnis tentang nominal akuisisi perusahaan. Berhubung saya ingin artikelnya mudah dimengerti oleh pembaca yang bahkan awam sekali dengan ilmu bisnis. Saya berencana membedah beberapa bagian jadi hal-hal paling sederhana. Dan salah satu hal yang ingin saya buat supaya mudah dimengerti adalah nominal Rp 1,5 T. Caranya saya ingin anda menjabarkan ke saya, sebenarnya secara harfiah itu uang Rp 1,5 T seberapa besar jika diukur dari tumpukan uang seratus ribuan, lima puluh ribuan, dan uang sepuluh ribuan. Apakah itu akan setinggi gunung apa atau tower gedung apa, saya akan serahkan penjelasan itu kepada anda supaya lebih bisa dimengerti dan dipahami oleh orang awam.”

Sebetulnya cara bertanyaku barusan agak berlebihan karena langsung to the point pun sebenarnya sudah bisa. Tapi berhubung aku juga butuh beberapa istilah-istilah yang mungkin dibawa AI dalam penjelasannya nanti. Kupertahankan saja prompt pertanyaanku barusan.

Dan saat setelah mulai pencarian, secara tak terduga jawaban keduanya lumayan mirip walau beda di beberapa penyampaiannya. Jadi pada intinya jika kita menggunakan patokan uang seratus ribuan saja. Angka 1,5 T baru bisa dicapai dengan mengumpulkan 15 juta lembar uang gambar 2 bapak proklamasi kita. 15 juta lembar uang tersebut, jika ditumpuk keatas dengan didasarkan ukuran uang pada emisi terbaru. Maka kita akan mendapatkan tumpukan setinggi 1,5 kilometer.

1,5 kilometer kalau diawang-awang tingginya, mungkin kita perlu 11 monas yang ditumpuk supaya bisa menyamai tingginya. Dan kalau 15 juta lembar uang ini dijajarkan secara menyamping, bukan seperti ditumpuk. Maka kita akan mendapatkan 2100 kilometer panjang uangnya. 2100 kilometer itu kira-kira setara lah dengan perjalanan darat Jakarta ke Denpasar pulang pergi.

Bayangkan uang sebanyak itu, oleh pengetik artikel ini dianggap sedikit. Namun walau aku mengakui bahwa aku memang bodoh sekali menganggap nominalnya kecil. Aku masih bisa memberikan pembelaan berupa. Aku disini sudah biasa disuguhi korupsi yang nilainya beratus-ratus T lho. Jadinya waktu mendengar nominal 1,5 T, aku pun seperti terpengaruh secara psikologi bahwa nominal ini biasa banget.

Ditambah aku tahu bahwa perusahaan Teh Sari Wangi bukanlah perusahaan teh biasa, melainkan perusahaan teh skala nasional. Harusnya kasusku dapat dimaklumi lah ya karena bro. Maksudku duit yang sudah banyak banget ini, yaitu 1,5 T bisa untuk mengontrol perusahaan sebesar Teh Sari Wangi lho.

Bayangkan kalau duit-duit hasil liga korupsi itu, yang merugikan negara beratus-ratus T itu. Digunakan untuk bikin perusahaan baru dan diputar untuk kepentingan ekonomi lainnya. Aku yakin pasti bukan hanya 19 juta lapangan pekerjaan saja yang terpenuhi. Hal-hal lainnya termasuk infrastruktur sudah pasti akan terpenuhi juga tanpa terlalu bergantung ke hutang.

 Yang bikin miris lainnya adalah. Setelah mengetahui bahwa ternyata uang 1,5 T saja sudah sebesar itu. Kenapa penanganan uang liga korupsi yang notabene jauh lebih besar nilainya, bisa rawan raib penyelidikannya kalau tidak viral atau tidak dikawal rakyat. Apa seabsurd itukah penanganan korupsi negara kita?

Hadeh… berawal dari keisengan cocoklogi antara akuisisi Teh Sari Wangi dan liga korupsi Indonesia. Pada akhirnya segala renungan ini berujung pada helaan napas yang gimana ya maknanya. Mungkin kekecewaan untuk kesekian kalinya terhadap negaraku yang baru 80 tahun merdeka.

Walau aku sedikit banyak sudah menduganya karena nyrempet pembahasan liga korupsi. Aku sebagai rakyat yang merasa sudah berusaha tertib bayar pajak. Masih tidak bisa move on dari rasa kesel karena penyakit korupsi ini tak kunjung sembuh. Tapi berhubung kita sebagai atasan dari para pejabat itu tidak dihargai posisinya. Kita lanjutin aja hidup ini dengan usaha masing-masing.

Posting Komentar