Sekarang Aku Mengerti Kenapa AS Begitu Paranoid ke China.
Awalnya aku pikir konflik antara China dan AS adalah seputar perdagangan saja. Agak lebih dalam dari itu, mereka palingan bersaing juga di bidang teknologi. Apalagi sejak Donald Trump menjabat sebagai presiden AS. Trump yang kita tahu kalau beliau bukan sekedar politisi, tapi termasuk pengusaha besar di AS. Membuat persaingan 2 negara ini jadi agak masuk akal dari perspektifku dan teman-teman tongkrongan.
Maksudku bukan rahasia umum lagi kan bahwa orang-orang China itu pandai berdagang. Mengesampingkan caranya yang kadang curang dan sebagainya. Semua orang pasti mengakui bahwa faktanya orang China, memang sangat bisa bersaing dengan barat soal urusan dagang. Dari situ saja kami bisa ringkas konflik mereka pasti seputar penguasaan pasar. Dimana Donald Trump takut, kalau pasar AS akan dikuasai China dan membuat orang asli AS kualahan.
Awalnya setiap ada headline berita AS vs China. Kami hampir pasti berasumsi demikian. Palingan kalau salah, itu pun tidak jauh-jauh dari konflik China dengan Taiwan. Yang kalau diurutkan lagi secara lebih dalam, kaitannya ada juga dengan urusan dagang dan teknologi.
Namun bahasan itu kembali menarik saat salah seorang teman bertanya begitu penasaran. Kenapa AS terlalu anti China. Bahkan dia menyebut bahwa AS terlalu paranoid terhadap China. Padahal Uni Eropa yang notabene adalah sekutunya AS, nampaknya terbuka-terbuka saja untuk bekerja sama dengan China. Salah satu buktinya, Supercell yang menaungi banyak judul game terkenal seperti Clash of Clan, Clash Royale, dan sejenisnya. Sahamnya boleh dibeli oleh perusahaan China yaitu Tencent.
Pertanyaan ini lumayan mengusikku secara pribadi. Dan walau pada akhirnya tidak ada satupun dari kami, yang bisa memberi jawaban yang memuaskan. Aku tetap saja sedikit kepikiran soal itu, hingga mulai coba sedikit searching Google di waktu luang.
Di awal aktivitas googling yang kulakukan, aku mendapatkan informasi bahwa AS adalah negara kapitalis. Maka dari itu AS jauh lebih mempercayai uang orang kaya dibandingkan uang negara. Tidak peduli seberapa besar uang itu digelontorkan di wilayah mereka. Namun kalau begitu prinsip mereka, kenapa mereka tetap sangat anti dengan perusahaan swasta China. Bukankah itu sangat tidak konsisten dengan prinsip mereka yang kapitalis dan pro terhadap swasta.
Mengapa AS menganggap Huawei berbahaya, Tik Tok berbahaya, dan Alibaba sebagai matamata China di AS. Bukankah mereka entitas yang berdiri sendiri dan bukan dimiliki oleh Partai Komunis China. Lalu kenapa jika sekelas Tik Tok, Huawei, dan Alibaba membuat paranoid AS habis-habisan. Wanda group justru diperbolehkan membeli Legendary Pictures pemilik hak cipta film Godzilla.
Begini teman-teman, definisi dari perusahaan swasta di Indonesia, Uni Eropa, dan AS berbeda dengan definisi perusahaan swasta di China. Di geng kita yang meliputi Uni Eropa, AS, dan mungkin negara lainnya. Yang namanya perusahaan swasta ya 100% swasta. Selama perusahaan swasta tersebut mematuhi aturan seperti membayar pajak dan sebagainya. Negara tidak bisa mengintervensi urusan internal perusahaan. Contohnya kasus dimana FBI meminta iPhone untuk membuka kunci iPhone teroris di kasus San Bernadio. Saat itu Apple menolak dengan alasan bahwa ijin itu berbahaya bagi privasi semua pengguna. Keduanya bertarung di pengadilan terbuka dan hasilnya. Pemerintah AS tidak bisa memaksa Apple secara sepihak.
Di China ada undang-undang yang mengatur bahwa setiap organisasi dan warga negara. Wajib mendukung, membantu, dan bekerja sama dengan intelijen negara. Itu berarti jika Partai Komunis China mengetuk pintu Alibaba dan meminta data pengguna AS. Alibaba wajib memberikan data itu dan tidak punya hak untuk menolak. Alih-alih malah membawa ini ke pengadilan seperti halnya Apple.
Selain undang-undang, China juga menetapkan aturan bahwa setiap perusahaan besar termasuk swasta. Harus memiliki Komite Partai didalam struktur organisasinya. Jadi di Alibaba sana ada perwakilan pemerintah yang duduk didalam kantor. Dia memantau keputusan direksi, dan memastikan perusahaan berjalan sesuai aturan Beijing.
Contoh kasus bahwa China menggunakan 2 aturan ini untuk memastikan kendali total pemerintah. Dibuktikan dengan kasus menghilangnya Jack Ma beberapa tahun lalu. Saat itu dia mengkritik sistem perbankan China lalu tiba-tiba menghilang selama berbulan-bulan.
Dari kejadian ini AS tahu bahwa CEO ataupun pendiri Alibaba bukanlah bos sebenarnya macam Tim Cook di Apple. Sekaya apapun Jack Ma, negara bisa mematikan bisnisnya dalam semalam jika dia membangkang. Kasusnya jelas berbeda dengan kasus Apple tadi, dimana Apple lebih punya bargaining power atau daya tawar. Sehingga mereka tidak takut menentang permintaan pemerintah, jika dirasa permintaan pemerintah tersebut merugikan perusahaan.
Ditambah China punya strategi yang mereka namakan Civil Military Fusion. Strategi yang menghapus batasan antara teknologi militer dan sipil. Sehingga teknologi yang dikembangkan Alibaba yang meliputi AI, Cloud, dan Big data. Wajib bisa digunakan untuk kepentingan militer China jika diperlukan. Poin barusan semakin membuat paranoid AS terhadap China menjadi semakin masuk akal. Karena ternyata China lumayan ngeri juga ya punya kendali seperti itu di perusahaan swastanya. Di suatu negara mah boro-boro kayak begitu.
Sekarang pertanyaannya. Kan China punya aturan yang secara tidak langsung membuat semua perusahaan swastanya jadi kepanjangan tangannya. Dimana hal ini sangat ditakuti AS karena membuat China berpotensi mencuri data penting negara. Kenapa Wanda Group dari China boleh membeli Legendary Pictures. Terus kenapa Uni Eropa yang jadi bestie AS yang juga dikenal ketat dalam aturannya. Memperbolehkan perusahaan China membeli perusahan di Eropa. Apakah AS punya aturan khusus perihal Wanda Group, dan Uni Eropa tidak masalah kalau China mencuri data negara-negara mereka.
Jawaban untuk Wanda Group dan pembelian perusahaan eropa oleh perusahaan China bisa disingkat dengan. China hanya membeli divisi hiburan yang dianggap sebagai aset lunak. Kenapa hiburan disebut aset lunak. Karena divisi tersebut tidak membahayakan keamanan nasional secara fisik. Logika AS saat itu tidak masalah China punya hak cipta dari film Godzilla. Toh Godzilla tidak akan keluar dari layar, kemudian meretas pentagon atau mematikan aliran listrik di New York.
Uni Eropa juga berpikir demikian. Mereka membagi asetnya menjadi 2 yaitu infrastruktur kritis dan hiburan. Untuk infrastruktur kritis ada jaringan 5G, pembangkit listrik, pelabuhan, pabrik chip, data kesehatan, dan bank. Bagian ini dilarang dimasuki oleh China seperti misalnya Huawei dilarang membangung infrastruktur 5G disini. Untuk bagian kedua, China diperbolehkan untuk masuk sehingga ada kasus Tencent yang membeli Supercell.
Namun yang perlu dicatat, kasus perusahaan China merambah ke Eropa dan AS terjadinya beberapa tahun yang lalu di tahun 2016 an. Saat itu asalkan China tidak menyentuh titik-titik vital yang disebutkan diatas. Eropa dan AS terbuka terhadap investasi China di wilayahnya. Untuk kasus sekarang, walau mungkin di divisi hiburan macam game perusahaan China tetap diperbolehkan berinvestasi di Eropa. Pengawasan Uni Eropa jauh lebih ketat dari sebelumnya, dengan adanya aturan FDI Screening Regulation yang baru aktif di tahun 2020.
Kemudian jika Wanda membeli Legendary Picturesnya sekarang di tahun 2025. Mungkin perusahaan China tersebut malah benar-benar tidak akan diperbolehkan, karena beberapa alasan yang dicari-cari AS. Seperti misalnya soal data pengguna layanan streaming yang dianggap sensitif, mirip seperti kasus Tik Tok. Dan soal propaganda yang membuat orang AS merasa bahwa, membiarkan China menguasai narasi film Hollywood akan berbahaya bagi jiwa AS.
Posting Komentar